BISSOLORO, GOWA — Wakil Rektor IV Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr. Burhanuddin, M.Si., mendorong santri Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro untuk terus mengasah prestasi dan memanfaatkan kesempatan pendidikan, termasuk melalui program beasiswa. Pesan tersebut disampaikan di hadapan ratusan santri dalam Pengajian Bulanan yang dirangkaikan dengan Musyawarah Pemilihan Pimpinan Darul Fallaah periode 2026–2030, Sabtu (17/10/2026).
Dalam kegiatan yang berlangsung di Aula Ambo Asse itu, Dr. Burhanuddin hadir mewakili Rektor Unismuh Makassar, Dr. Ir. H. Abd. Rakhim Nanda, S.T., M.T., IPU., yang berhalangan hadir. Ia juga menjadi salah satu narasumber pengajian bertema “Musyawarah sebagai Mahkota Organisasi”.
Pendidikan Membentuk Karakter dan Keteguhan
Berbagi pengalaman tentang perjalanan pendidikannya, Dr. Burhanuddin menekankan bahwa pendidikan bukan hanya proses memperoleh pengetahuan, melainkan juga ruang untuk membangun karakter, ketekunan, dan daya juang. Pengalaman meraih beasiswa menjadi bagian dari pesan yang ia sampaikan kepada para santri.
“Pendidikan bukan hanya tentang memperoleh ilmu dan gelar, tetapi juga tentang membentuk karakter, melatih keteguhan, dan membangun keberanian untuk terus berusaha. Kesempatan tidak selalu datang dengan mudah, sehingga kita harus menyiapkan diri melalui belajar, disiplin, dan prestasi,” demikian rumusan pesan yang merangkum pengalamannya.
Di hadapan para santri, ia juga mendorong mereka agar tidak cepat puas dengan pencapaian saat ini. Prestasi akademik maupun nonakademik perlu terus dikembangkan sebagai bekal untuk membuka kesempatan pendidikan yang lebih luas.
“Ananda harus terus mengasah kemampuan dan meningkatkan prestasi. Jangan berhenti belajar dan jangan mudah menyerah. Persiapkan diri sebaik mungkin agar memiliki kesempatan meraih beasiswa unggulan maupun berbagai program beasiswa lainnya,”
Dorongan tersebut menempatkan prestasi sebagai hasil dari proses yang berkelanjutan, bukan sekadar pencapaian sesaat. Bagi santri, kebiasaan belajar, kedisiplinan, keberanian mencoba, dan konsistensi mengembangkan kemampuan menjadi bagian dari persiapan untuk melanjutkan pendidikan.
Musyawarah sebagai Kehormatan, Perekat, dan Cahaya Kepemimpinan
Selain membahas pendidikan dan prestasi santri, Dr. Burhanuddin menguraikan pentingnya musyawarah dalam kehidupan organisasi. Ia menyoroti tiga dimensi utama: musyawarah sebagai kehormatan tertinggi organisasi, perekat kebersamaan, dan cahaya bagi kepemimpinan.
“Musyawarah merupakan kehormatan tertinggi dalam organisasi. Melalui musyawarah, setiap pandangan mendapat ruang untuk dipertimbangkan dan kepentingan bersama ditempatkan di atas kepentingan pribadi.”
Ia juga memandang musyawarah sebagai sarana menjaga hubungan di tengah perbedaan pendapat.
“Musyawarah adalah perekat kebersamaan. Perbedaan pandangan seharusnya menjadi ruang untuk saling memahami, bukan alasan untuk menjauh. Kita perlu mencari keputusan bersama dengan tetap menjaga persaudaraan.”
Adapun sebagai cahaya kepemimpinan, musyawarah memberi kesempatan bagi pemimpin untuk mempertimbangkan berbagai pandangan sebelum menentukan langkah organisasi.
“Musyawarah menjadi cahaya bagi kepemimpinan. Keputusan yang baik lahir dari kesediaan mendengar, mempertimbangkan berbagai pandangan, dan memikirkan kepentingan organisasi dalam jangka panjang.”
Ketiga gagasan tersebut relevan dengan agenda pemilihan pimpinan Darul Fallaah periode 2026–2030. Musyawarah bukan semata-mata mekanisme menentukan siapa yang akan memimpin, melainkan juga proses menjaga kebersamaan dan membangun tanggung jawab terhadap masa depan pesantren.
Berharap Musyawarah Berlangsung Khidmat
Dr. Burhanuddin berharap seluruh rangkaian musyawarah dapat berjalan dengan penuh khidmat, mengedepankan kebersamaan, serta menjaga tujuan utama organisasi.
“Semoga musyawarah ini berlangsung dengan penuh khidmat. Mari menjaga suasana persaudaraan, menghargai setiap pandangan, dan menempatkan kepentingan Darul Fallaah sebagai pertimbangan utama dalam mengambil keputusan.”
Rangkaian kegiatan tersebut mencakup laporan pertanggungjawaban direktur dan pemilihan pimpinan untuk periode 2026–2030. Agenda ini menjadi bagian dari proses evaluasi dan penentuan arah kepemimpinan pesantren untuk periode berikutnya.
Melalui pesan tentang pendidikan, prestasi, dan musyawarah, kegiatan ini mempertemukan pembinaan santri dengan penguatan tata kelola lembaga. Keduanya menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi yang memiliki kapasitas akademik, karakter yang kuat, dan kesadaran untuk bertanggung jawab terhadap kehidupan bersama.
#HumasDf

0 Komentar