BISSOLORO — Upacara bendera Senin, 19 Oktober 2026, di lingkungan Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro menjadi momentum penguatan pendidikan karakter santri. Bertindak sebagai pembina upacara, Derman, S.Pd., M.P.d menekankan pentingnya kedisiplinan dalam barisan serta penerapan tiga prinsip dalam kehidupan sehari-hari: logika, estetika, dan etika.
Suasana upacara bendera Senin di Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Senin (19/10/2026).
Dalam amanatnya, Derman mengingatkan bahwa kedisiplinan tidak cukup dimaknai sebagai kepatuhan terhadap tata tertib upacara. Lebih dari itu, disiplin merupakan latihan membangun kesadaran, tanggung jawab, dan keteraturan yang semestinya tercermin dalam perilaku santri di lingkungan pesantren maupun di tengah masyarakat.
Barisan upacara menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana setiap individu belajar menempatkan diri, menaati aturan, dan menghargai orang lain. Ketertiban tidak akan terwujud apabila setiap orang hanya mengikuti keinginannya sendiri tanpa mempertimbangkan kepentingan bersama.
“Disiplin dalam barisan bukan sekadar berdiri rapi mengikuti aba-aba. Di dalamnya ada latihan untuk taat pada aturan, menghargai sesama, dan memahami bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab dalam menjaga ketertiban bersama.”
Logika: Berpikir Sebelum Bertindak
Selain kedisiplinan, Derman menyoroti tiga hal yang perlu diperhatikan santri dalam membentuk karakter, yakni logika, estetika, dan etika. Ketiganya menjadi prinsip yang saling melengkapi dalam menentukan cara berpikir, bersikap, dan bertindak.
Prinsip pertama adalah logika, yakni kemampuan menggunakan akal sehat dan mempertimbangkan akibat sebelum mengambil tindakan. Santri perlu membiasakan diri untuk tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, apalagi bertindak hanya karena dorongan emosi atau mengikuti perilaku orang lain.
“Sebelum bertindak, pikirkan terlebih dahulu apa yang akan kita lakukan dan apa akibatnya. Jangan sampai kita bertindak lebih dahulu, lalu menyesal kemudian. Gunakan logika agar setiap keputusan memiliki alasan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.”
Pesan ini menempatkan kemampuan berpikir sebagai bagian penting dari pendidikan. Santri tidak hanya dituntut mengetahui mana yang benar dan salah, tetapi juga belajar memahami alasan di balik setiap tindakan serta konsekuensi yang mungkin ditimbulkannya.
Estetika: Menjaga Keindahan dan Keteraturan
Prinsip kedua adalah estetika, yaitu kesadaran terhadap keindahan, kerapian, dan keteraturan. Dalam kehidupan pesantren, nilai estetika dapat diwujudkan melalui kerapian berpakaian, ketertiban barisan, kebersihan lingkungan, serta cara menjaga fasilitas bersama.
Keindahan tidak selalu berkaitan dengan sesuatu yang mahal atau mewah. Hal-hal sederhana yang dirawat dengan baik, dilakukan secara teratur, dan dijaga bersama juga mencerminkan penghargaan terhadap lingkungan.
“Keindahan dapat kita mulai dari hal-hal sederhana: berpakaian rapi, menjaga kebersihan, menata lingkungan, dan membiasakan diri hidup tertib. Lingkungan yang baik lahir dari orang-orang yang memiliki kepedulian untuk merawatnya.”
Dengan demikian, estetika bukan sekadar persoalan penampilan. Ia juga berkaitan dengan kebiasaan menghargai ruang bersama dan menciptakan lingkungan belajar yang nyaman.
Etika: Menempatkan Sikap dan Perilaku pada Tempatnya
Prinsip ketiga adalah etika, yang berkaitan dengan kepantasan sikap dan tanggung jawab moral dalam berinteraksi dengan orang lain. Pengetahuan dan kecerdasan perlu berjalan beriringan dengan akhlak agar kemampuan seseorang benar-benar membawa manfaat.
Bagi santri, etika tercermin dalam cara berbicara kepada guru, menghormati orang tua, memperlakukan teman, menaati aturan, serta menjaga perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita boleh memiliki pengetahuan dan kemampuan yang tinggi, tetapi semua itu harus disertai etika. Cara kita berbicara, menghormati guru, memperlakukan teman, dan menaati aturan menunjukkan bagaimana karakter kita sebenarnya.”
Ketiga prinsip tersebut memiliki hubungan yang erat. Logika membantu seseorang mempertimbangkan tindakan, estetika menumbuhkan kepedulian terhadap keindahan dan keteraturan, sedangkan etika mengarahkan perilaku agar tetap menghormati nilai moral dan orang lain.
Dari Upacara Menuju Kebiasaan Sehari-hari
Amanat upacara ini menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak berhenti pada penyampaian nasihat. Nilai-nilai yang diperkenalkan perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan nyata, baik ketika mengikuti kegiatan pembelajaran, menjalankan ibadah, menjaga kebersihan, maupun berinteraksi dengan sesama santri.
Kedisiplinan dalam barisan menjadi titik awal untuk membangun keteraturan. Logika melatih santri agar berpikir sebelum bertindak, estetika menumbuhkan kepedulian terhadap kerapian dan keindahan, sementara etika membimbing mereka untuk bersikap secara pantas dan bertanggung jawab.
Melalui upacara rutin setiap Senin, Darul Fallaah memiliki ruang pembinaan untuk menghubungkan nilai-nilai pendidikan dengan praktik kehidupan sehari-hari. Tujuannya bukan hanya membentuk santri yang tertib mengikuti aturan, melainkan juga pribadi yang mampu berpikir jernih, menghargai keindahan, dan menjaga akhlak dalam setiap tindakan.
Pada akhirnya, karakter tidak hanya terlihat ketika seseorang berdiri tegak dalam barisan, tetapi juga dari keputusan yang diambil, lingkungan yang dijaga, dan cara ia memperlakukan orang lain.
#HumasDf
0 Komentar