![]() |
Nur Azizah Salsabila, santriwati kelas X MA Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, menyampaikan kultum ba’da Subuh bertema “Keutamaan Shalat Lima Waktu”, Ahad (18/10/2026). |
BISSOLORO — Suasana ba’da Subuh di Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Ahad, 18 Oktober 2026, diisi dengan kultum yang disampaikan oleh Nur Azizah Salsabila, santriwati kelas X Madrasah Aliyah (MA). Dalam ceramah bertajuk “Keutamaan Shalat Lima Waktu”, ia mengingatkan pentingnya menjadikan shalat sebagai bagian utama dalam kehidupan seorang muslim.
Di hadapan para santri, Nur Azizah menekankan bahwa shalat bukan sekadar kewajiban yang ditunaikan untuk menggugurkan perintah agama, melainkan bentuk ketaatan kepada Allah Swt. yang perlu dijaga dalam berbagai keadaan.
“Shalat lima waktu merupakan kewajiban setiap muslim. Sesibuk apa pun kegiatan kita, jangan sampai shalat ditinggalkan. Urusan sekolah, pekerjaan, dan kegiatan lainnya penting, tetapi kewajiban kepada Allah harus tetap menjadi prioritas,” demikian rumusan pesan ceramah yang dapat disesuaikan dengan penyampaian aslinya.
Ia juga mengingatkan bahwa menjaga shalat membutuhkan kedisiplinan dan kesadaran diri. Kebiasaan melaksanakan shalat tepat waktu, menurut pesan yang diangkat dalam kultum tersebut, dapat menjadi latihan bagi santri untuk membangun keteraturan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau kita ingin menjadi pribadi yang lebih baik, mulailah dengan memperbaiki shalat. Jangan hanya mengerjakan shalat ketika sedang membutuhkan sesuatu, tetapi jadikan shalat sebagai kebutuhan hati dan bentuk ketaatan kita kepada Allah Swt.,” menjadi salah satu rumusan pesan yang dapat digunakan apabila sesuai dengan isi ceramah sebenarnya.
Melalui kultum tersebut, para santri diajak memahami bahwa keutamaan shalat tidak cukup hanya diketahui, tetapi perlu diwujudkan melalui kebiasaan nyata: menjaga waktu shalat, melaksanakannya dengan sungguh-sungguh, dan berusaha memperbaiki perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Santriwati Berprestasi
Nur Azizah Salsabila merupakan santriwati asal Makassar, putri pasangan Basri dan Sukmawati. Kedua orang tuanya bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI). Di lingkungan pesantren, ia mengikuti sejumlah kegiatan pengembangan diri, di antaranya Hizbul Wathan (HW), Tapak Suci (TS), dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).
Ia juga tercatat meraih juara II dalam ajang Kemah Santri Muhammadiyah tingkat nasional. Prestasi tersebut menjadi bagian dari perjalanan pendidikannya di pesantren, yang tidak hanya menekankan pembelajaran akademik dan keagamaan, tetapi juga pembentukan karakter, kedisiplinan, serta pengembangan potensi santri.
Kultum ba’da Subuh menjadi salah satu ruang pembelajaran bagi santri untuk melatih keberanian berbicara, menyampaikan pemahaman keagamaan, dan berbagi pesan kebaikan kepada sesama.
Melalui kegiatan ini, Darul Fallaah terus membangun budaya belajar yang memberi kesempatan kepada santri untuk tumbuh sebagai pribadi yang berilmu, berakhlak, dan mampu mengambil peran positif di tengah masyarakat.
#HumasDF

0 Komentar