Launching Seragam Batik Nasional Santri Muhammadiyah menjadi bagian dari rangkaian pembukaan KSMN II di Bumi Perkemahan Coban Rondo, Kabupaten Malang, Senin (21/9/2026). |
MALANG — Kemah Santri Muhammadiyah Nasional (KSMN) II di Bumi Perkemahan Coban Rondo, Kabupaten Malang, tidak hanya menjadi ajang pembinaan dan kompetisi santri. Pada pembukaan kegiatan, Senin (21/9/2026), digelar pula launching Seragam Batik Nasional Santri Muhammadiyah sebagai bagian dari rangkaian agenda nasional tersebut.
Peluncuran seragam batik menjadi salah satu agenda khusus dalam seremoni pembukaan KSMN II. Berdasarkan rundown resmi kegiatan, agenda launching tersebut dilaksanakan bersamaan dengan penyerahan sertifikat akreditasi pesantren Muhammadiyah.
Kehadiran seragam batik nasional memberikan warna tersendiri dalam perhelatan yang mempertemukan santri Muhammadiyah dari berbagai daerah di Indonesia. Batik tidak hanya hadir sebagai busana, tetapi juga menjadi bagian dari identitas yang dapat digunakan secara bersama oleh santri Muhammadiyah dalam berbagai momentum.
Dari KSMN II untuk Identitas Santri
KSMN II berlangsung selama empat hari, 21–24 September 2026, di Bumi Perkemahan Coban Rondo. Kegiatan ini diikuti santri dan pendamping dari berbagai pesantren Muhammadiyah di Indonesia.
Dalam konteks tersebut, peluncuran seragam batik nasional menjadi bagian dari upaya menghadirkan identitas bersama di tengah keberagaman asal daerah para peserta.
Santri yang datang dari berbagai wilayah membawa latar belakang budaya, tradisi, dan karakter pesantren masing-masing. Seragam batik nasional menjadi salah satu simbol yang mempertemukan mereka dalam satu identitas sebagai bagian dari keluarga besar pesantren Muhammadiyah.
Hal tersebut juga memperkuat suasana kebersamaan yang dibangun sepanjang pelaksanaan KSMN II.
Tidak Sekadar Seragam
Seragam batik yang diluncurkan dalam momentum KSMN II juga dapat ditempatkan sebagai bagian dari penguatan identitas santri.
Bagi santri, pakaian yang dikenakan dalam kegiatan resmi bukan hanya berkaitan dengan penampilan, tetapi juga menunjukkan identitas kelembagaan dan rasa kebersamaan.
KSMN II sendiri mengusung tema “Menyiapkan Kader Pemimpin Bangsa: Santri Muhammadiyah Disiplin, Mandiri, dan Berprestasi.” Karena itu, berbagai unsur dalam kegiatan, termasuk seragam, hadir dalam suasana pembinaan karakter dan penguatan identitas santri.
Bagi Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Kabupaten Gowa, yang menjadi bagian dari kafilah Sulawesi Selatan, momentum ini menjadi pengalaman tersendiri. Para santri Darul Fallaah berkesempatan mengikuti sebuah agenda nasional yang mempertemukan mereka dengan santri Muhammadiyah dari berbagai daerah.
Kontingen Sulawesi Selatan sendiri terdiri dari santri yang berasal dari delapan pesantren Muhammadiyah dan ’Aisyiyah, termasuk Darul Fallaah Muhammadiyah Bissoloro Gowa.
Menyatukan Keragaman Pesantren
Peluncuran Seragam Batik Nasional Santri Muhammadiyah berlangsung di tengah rangkaian pembukaan KSMN II yang diisi dengan Kalam Ilahi, lagu Indonesia Raya dan Sang Surya, sambutan sejumlah tokoh, serta agenda penguatan pesantren.
Dengan hadirnya seragam batik nasional, KSMN II tidak hanya meninggalkan pengalaman kompetisi bagi para peserta. Momentum tersebut juga memperlihatkan upaya membangun simbol kebersamaan di antara santri Muhammadiyah yang datang dari berbagai daerah.
Dari Coban Rondo, para santri membawa pulang pengalaman, persaudaraan, dan identitas bersama yang terbentuk selama mengikuti kegiatan nasional tersebut.
#HumasDF
0 Komentar