Ketua LP2 PP Muhammadiyah: KSMN II Jadi Ruang Penguatan Mutu Pesantren


Ketua LP2 Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. H. Maskuri, M.Ed., menyampaikan laporan pada pembukaan Kemah Santri Muhammadiyah Nasional (KSMN) II di Bumi Perkemahan Coban Rondo, Kabupaten Malang, Senin (21/9/2026).

MALANG — Kemah Santri Muhammadiyah Nasional (KSMN) II di Bumi Perkemahan Coban Rondo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, tidak hanya menjadi ajang pertemuan dan kompetisi antarsantri. Kegiatan ini juga menjadi ruang untuk memperkuat kualitas dan mutu pesantren Muhammadiyah.

Hal tersebut disampaikan Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. H. Maskuri, M.Ed., dalam laporan pada pembukaan KSMN II, Senin (21/9/2026).

Maskuri menyampaikan bahwa perkembangan jumlah pesantren Muhammadiyah perlu diikuti dengan peningkatan kualitas. Pertumbuhan lembaga, menurutnya, harus berjalan seiring dengan penguatan sistem pendidikan, pembinaan, serta penjaminan mutu pesantren.

Pertumbuhan Pesantren Harus Diikuti Peningkatan Mutu

Dalam sambutannya, Maskuri menyoroti perkembangan pesantren Muhammadiyah yang terus bertambah. Namun, pertumbuhan tersebut tidak cukup hanya dilihat dari sisi jumlah lembaga.

Ia menekankan pentingnya memastikan setiap pesantren memiliki kualitas akademik dan nonakademik yang terus berkembang.

Penjaminan mutu menjadi salah satu bagian penting dalam proses tersebut. Penguatan mutu dilakukan melalui berbagai aspek yang berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan dan pembinaan pesantren.

Pandangan tersebut sejalan dengan agenda LP2 PP Muhammadiyah yang dalam berbagai kegiatan pembinaan menempatkan penjaminan mutu sebagai salah satu perhatian dalam pengembangan pesantren. Maskuri juga sebelumnya menekankan pentingnya pesantren Muhammadiyah terus berkembang dan menyesuaikan diri dengan tantangan pendidikan yang semakin kompleks.

Sembilan Pesantren Ikuti Proses Akreditasi

Dalam laporan pembukaan KSMN II, Maskuri menyampaikan perkembangan proses akreditasi pesantren. Disebutkan, terdapat sembilan pesantren yang telah mengikuti proses akreditasi, dengan delapan pesantren memperoleh predikat unggul dan satu pesantren memperoleh predikat baik sekali.

Capaian tersebut ditempatkan sebagai bagian dari proses membangun budaya mutu secara berkelanjutan.

Menurut Maskuri, peningkatan kualitas pesantren membutuhkan kerja bersama. Karena itu, pengembangan mutu tidak hanya diarahkan kepada satu aspek, tetapi mencakup akademik dan nonakademik sehingga kualitas pesantren dapat berkembang secara kolektif.

KSMN II Mempertemukan Pesantren dari Berbagai Daerah

KSMN II menjadi salah satu ruang yang mempertemukan santri dan pendamping dari berbagai pesantren Muhammadiyah.

Dalam laporan pembukaan, kegiatan ini diikuti sekitar 1.500 santri dan 200 pendamping, atau sekitar 1.700 peserta secara keseluruhan.

Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, 21–24 September 2026, dikemas melalui berbagai agenda pendidikan, keagamaan, keterampilan, kompetisi, dan pembinaan karakter.

Pada hari pertama, peserta mengikuti pembukaan kemudian melanjutkan sejumlah kompetisi, antara lain Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ), Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), English Storytelling, dan Ilqa al-Qissah.

Sementara pada hari-hari berikutnya, rangkaian kegiatan berlanjut dengan kompetisi Dirasah Islamiyah, pidato bahasa Arab dan Inggris, baris-berbaris variasi, jelajah alam, tali-temali, hingga seminar nasional.

Darul Fallaah Bagian dari Pengalaman Nasional

Keikutsertaan KSMN II juga menjadi pengalaman penting bagi kafilah Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Kabupaten Gowa, yang menjadi bagian dari kontingen Sulawesi Selatan.

Bagi santri Darul Fallaah, kegiatan tersebut memberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan santri dari berbagai pesantren Muhammadiyah sekaligus menguji kemampuan dalam suasana kompetisi tingkat nasional.

Pengalaman tersebut juga menjadi bagian dari proses pembinaan santri di luar lingkungan pesantren. Mereka belajar mengikuti aturan kegiatan, membangun kekompakan dalam kafilah, mengatur waktu, serta membawa nama baik lembaga selama mengikuti seluruh rangkaian agenda.

Dengan demikian, KSMN II tidak hanya dapat dilihat dari hasil perlombaan. Lebih luas, kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama untuk mempertemukan pengalaman berbagai pesantren sekaligus mendorong penguatan kualitas santri dan lembaga pesantren Muhammadiyah.

#HumasDF

Posting Komentar

0 Komentar