Sela KSMN II, Duta Darul Fallaah Unismuh Bawa Kitab Tafsir TRENKAUN ke Panggung Nasional


Kitab Tafsir TRENKAUN yang dikembangkan Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro menjadi salah satu karya yang diperkenalkan di sela-sela keikutsertaan kafilah Darul Fallaah dalam KSMN II di Bumi Perkemahan Coban Rondo, Malang.

MALANG — Di tengah semarak Kemah Santri Muhammadiyah Nasional (KSMN) II di Bumi Perkemahan Coban Rondo, Malang, Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro membawa sesuatu yang berbeda.

Bukan hanya santri yang berlaga dalam berbagai cabang lomba. Dari Bissoloro, Darul Fallaah juga membawa gagasan, karya, dan identitas pesantren melalui Kitab Tafsir TRENKAUN ke ruang perjumpaan nasional.

Karya tersebut menjadi salah satu bagian yang diperkenalkan dalam rangkaian perbincangan Darul Fallaah selama mengikuti KSMN II.

Bukan Sekadar Membawa Nama Pesantren

KSMN II menjadi panggung pertemuan santri Muhammadiyah dari berbagai daerah di Indonesia. Di arena ini, santri bertanding, belajar, berinteraksi, dan saling mengenal tradisi pendidikan pesantren masing-masing.

Darul Fallaah hadir dengan karakter yang dibangun dari Bissoloro.

Selain membawa kafilah untuk mengikuti berbagai perlombaan, Darul Fallaah juga membawa cerita tentang bagaimana pesantren mengembangkan keunggulan berbasis lingkungan, Al-Qur’an, dan agribisnis.

Salah satu wujudnya adalah Kitab Tafsir TRENKAUN.

TRENKAUN merupakan akronim dari Pesantren Kauniyah, yang dikembangkan sejalan dengan identitas Darul Fallaah sebagai pesantren agribisnis. Kajian di dalamnya menghubungkan ayat-ayat kauniyah dengan fenomena alam, ekologi, tumbuhan, hewan, dan kehidupan agribisnis.

Maskuri Apresiasi Karya dari Bissoloro

Karya tersebut mendapat perhatian khusus dari Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. H. Maskuri, M.Ed.

Dalam wawancara langsung seusai menyaksikan penampilan kafilah Darul Fallaah pada lomba LKBB, Rabu sore (23/9/2026), Dr. Maskuri mengapresiasi kemampuan Darul Fallaah mengembangkan karya yang memiliki kekhasan tersendiri.

Ia bahkan mengingat kembali keterlibatannya sebagai salah satu tim validator dalam kegiatan Kemah Tahfidz yang dilaksanakan PWM Sulawesi Selatan di Sidrap.

Dari proses tersebut, perjalanan pengembangan Tafsir TRENKAUN terus berlanjut hingga tahap validasi dan penyempurnaan.

Menurut Dr. Maskuri, lahirnya Tafsir TRENKAUN merupakan salah satu keunggulan yang patut diperhatikan dari Darul Fallaah.

Ia juga menyampaikan bahwa karya tersebut direncanakan akan terbit dalam lima jilid, dengan fokus pada ayat-ayat ekologi dan agribisnis.

Dari Ayat Kauniyah ke Dunia Agribisnis

Tafsir TRENKAUN membawa satu gagasan penting: bahwa lingkungan sekitar pesantren dapat menjadi ruang pembelajaran dan pengembangan ilmu.

Bissoloro dengan lingkungan alam dan potensi agribisnisnya tidak hanya menjadi tempat berdirinya pesantren, tetapi juga menjadi bagian dari konteks lahirnya gagasan pendidikan Darul Fallaah.

Karena itu, TRENKAUN tidak berhenti pada kajian teks.

Karya ini diarahkan untuk mempertemukan Al-Qur’an, ilmu pengetahuan, ekologi, dan praktik agribisnis dalam satu kerangka pembelajaran pesantren.

Dokumentasi validasi sebelumnya juga mencatat bahwa kitab tersebut menggunakan pendekatan tafsir maudhu’i bercorak tafsir ilmi, dengan pembahasan antara lain tanah, air, angin, tumbuhan, hewan, serta keterkaitannya dengan lingkungan.

Karya yang Dibawa ke Panggung Nasional

Jika para santri Darul Fallaah membawa semangat kompetisi ke arena KSMN II, maka Tafsir TRENKAUN membawa sisi lain dari pesantren: gagasan dan karya intelektual.

Di sinilah KSMN II menjadi lebih dari sekadar arena perlombaan.

Pertemuan dengan pesantren dari berbagai wilayah menjadi kesempatan untuk memperkenalkan bahwa pesantren yang tumbuh di kawasan Bissoloro juga memiliki karya yang lahir dari karakter lingkungan dan visi pendidikannya.

Darul Fallaah tidak hanya ingin dikenal karena santrinya mampu tampil dalam kompetisi nasional.

Pesantren ini juga membawa pesan bahwa potensi lokal dapat melahirkan karya yang memiliki ruang di tingkat nasional.

Dari Bissoloro, Menatap Masa Depan

Tafsir TRENKAUN menjadi salah satu penanda perjalanan Darul Fallaah dalam membangun identitasnya.

Di satu sisi, pesantren terus membina santri melalui pendidikan, kedisiplinan, kaderisasi, dan berbagai kompetisi.

Di sisi lain, pesantren mengembangkan karya intelektual yang berangkat dari Al-Qur’an dan realitas lingkungan.

Keduanya bertemu dalam satu visi: membangun pesantren yang memiliki keunggulan akademik sekaligus kemandirian.

Karena itu, di sela-sela riuh KSMN II, Darul Fallaah membawa sebuah pesan dari Bissoloro:

Pesantren dari daerah juga dapat melahirkan gagasan untuk panggung nasional.

Dan kali ini, gagasan itu hadir melalui Kitab Tafsir TRENKAUN—sebuah karya yang membawa nama Bissoloro, Al-Qur’an, ekologi, dan agribisnis ke ruang perjumpaan pesantren Muhammadiyah se-Indonesia.

#HumasDF

Posting Komentar

0 Komentar