MALANG — Ada lebih dari sekadar kompetisi dalam keikutsertaan Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro pada Kemah Santri Muhammadiyah Nasional (KSMN) II di Bumi Perkemahan Coban Rondo, Malang, Jawa Timur.
Hal itu tergambar dalam wawancara langsung dengan Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. H. Maskuri, M.Ed., Rabu sore (23/9/2026), seusai menyaksikan penampilan kafilah Darul Fallaah dalam lomba LKBB.
Dalam wawancara tersebut, Dr. Maskuri tidak hanya menjelaskan tujuan penyelenggaraan KSMN II, tetapi juga memberikan perhatian khusus terhadap potensi yang dimiliki Darul Fallaah. Salah satu yang disorot adalah aset lahan seluas 75 hektare yang dinilai dapat menjadi modal penting dalam membangun kemandirian ekonomi pesantren.
Di sisi lain, ia juga memberikan apresiasi terhadap salah satu karya intelektual Darul Fallaah, yakni Kitab Tafsir TRENKAUN, yang dikembangkan dengan fokus pada ayat-ayat ekologi dan agribisnis.
KSMN Bukan Sekadar Ajang Perlombaan
Menurut Dr. Maskuri, KSMN II memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar mempertemukan santri dalam berbagai cabang perlombaan.
Kegiatan nasional tersebut menjadi ruang bagi santri Muhammadiyah untuk bertemu, belajar, membangun pengalaman, mengembangkan kedisiplinan, kemandirian, keterampilan, serta memperkuat kaderisasi.
KSMN II sendiri mengusung tema “Menyiapkan Kader Pemimpin Bangsa: Santri Muhammadiyah Disiplin, Mandiri, dan Berprestasi” dan berlangsung 21–24 September 2026 di Coban Rondo. Kegiatan ini diikuti sekitar 1.500 santri dan 200 pendamping dari berbagai pesantren Muhammadiyah.
Bagi Dr. Maskuri, perjumpaan antarsantri dari berbagai daerah merupakan bagian penting dari proses pembentukan pengalaman dan karakter.
KSMN menjadi ruang bagi santri untuk melihat bahwa pesantren Muhammadiyah memiliki beragam potensi, tradisi pendidikan, dan model pengembangan yang dapat saling dipelajari.
75 Hektare, Modal Besar Menuju Kemandirian Ekonomi
Ketika pembicaraan diarahkan secara khusus pada Darul Fallaah, perhatian Dr. Maskuri tertuju pada potensi sumber daya yang dimiliki pesantren di Bissoloro.
Lahan seluas 75 hektare disebut sebagai salah satu modal penting yang dapat dikembangkan untuk menopang kemandirian ekonomi pesantren.
Potensi lahan tersebut tidak semata-mata dipandang sebagai aset fisik, tetapi sebagai ruang pengembangan usaha produktif yang dapat mendukung keberlangsungan pesantren dalam jangka panjang.
Bagi pesantren, kemandirian ekonomi memiliki keterkaitan erat dengan keberlanjutan pendidikan. Pesantren tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan yang unggul dalam ilmu dan karakter, tetapi juga perlu memiliki sistem pendukung ekonomi yang memungkinkan lembaga terus berkembang.
Dalam konteks Darul Fallaah, potensi lahan tersebut menjadi semakin relevan dengan karakter pesantren yang berada di kawasan Bissoloro dan memiliki ruang pengembangan di bidang pertanian serta agribisnis.
“Lahan 75 hektare itu menjadi modal besar bagi Darul Fallaah untuk membangun kemandirian ekonomi pesantren.”
Pesan tersebut menempatkan aset pesantren bukan sekadar sebagai kepemilikan, melainkan sebagai bagian dari strategi pengembangan kelembagaan.
Jika dikelola secara produktif dan terintegrasi dengan pendidikan, lahan tersebut dapat menjadi laboratorium pembelajaran bagi santri sekaligus basis pengembangan ekonomi pesantren.
Tafsir TRENKAUN Jadi Keunggulan Darul Fallaah
Selain potensi ekonomi, Dr. Maskuri juga memberikan perhatian terhadap keunggulan intelektual yang telah lahir dari Darul Fallaah.
Salah satunya adalah Kitab Tafsir TRENKAUN.
Karya tersebut menjadi bagian dari upaya Darul Fallaah mengembangkan kajian Al-Qur’an yang dikaitkan dengan lingkungan, ekologi, pertanian, dan agribisnis.
Menurut Dr. Maskuri, lahirnya karya seperti Tafsir TRENKAUN menunjukkan bahwa pesantren dapat mengembangkan keunggulan yang memiliki karakter khas sesuai dengan lingkungan dan potensi yang dimilikinya.
Ia bahkan mengingat kembali keterlibatannya sebagai tim validator ketika kegiatan Kemah Tahfidz yang dilaksanakan PWM Sulawesi Selatan di Sidrap.
Pengalaman tersebut membuatnya memiliki memori tersendiri mengenai proses dan perkembangan Darul Fallaah.
Dari proses tersebut, ia kemudian melihat adanya perkembangan yang patut diapresiasi, khususnya ketika Darul Fallaah mampu melahirkan karya tafsir yang mengangkat ayat-ayat ekologi dan menghubungkannya dengan konteks agribisnis.
Lima Jilid Fokus Ayat-Ayat Ekologi dan Agribisnis
Apresiasi Dr. Maskuri semakin kuat karena pengembangan Tafsir TRENKAUN tidak berhenti sebagai sebuah gagasan.
Ia menyampaikan bahwa bulan depan karya tersebut direncanakan telah terbit dalam lima jilid, dengan fokus pembahasan pada ayat-ayat ekologi dan agribisnis.
Perkembangan tersebut menjadi bagian penting dari identitas akademik Darul Fallaah.
Pesantren tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya proses pembelajaran agama, tetapi juga memiliki peluang untuk menghasilkan karya intelektual yang berangkat dari kebutuhan dan potensi lingkungan sekitarnya.
Dalam konteks Bissoloro, pendekatan tersebut menjadi menarik karena lingkungan alam dan aktivitas agribisnis dapat menjadi ruang dialog antara teks Al-Qur’an, ilmu pengetahuan, pendidikan pesantren, dan kehidupan masyarakat.
“Ini yang menjadi keunggulan Darul Fallaah. Pesantren mampu melahirkan Tafsir TRENKAUN yang fokus pada ayat-ayat ekologi dan agribisnis,” demikian inti apresiasi Dr. Maskuri dalam wawancara tersebut.
Dari Pengalaman Sidrap hingga Coban Rondo
Refleksi Dr. Maskuri terhadap Darul Fallaah juga tidak muncul secara tiba-tiba.
Ia mengaitkannya dengan pengalaman sebelumnya ketika terlibat sebagai tim validator dalam kegiatan Kemah Tahfidz yang diselenggarakan PWM Sulawesi Selatan di Sidrap.
Dari pengalaman tersebut, ia dapat melihat proses perkembangan pesantren dan bagaimana sebuah lembaga pendidikan membangun keunggulannya.
Kini, beberapa tahun kemudian, perjumpaan kembali terjadi di tempat yang berbeda—bukan di Sidrap, melainkan di Bumi Perkemahan Coban Rondo dalam agenda nasional KSMN II.
Darul Fallaah datang membawa santri untuk mengikuti berbagai kompetisi, termasuk LKBB, sementara di sisi lain pesantren tersebut membawa identitas dan potensi yang dibangun dari Bissoloro.
Perjalanan itu memperlihatkan bahwa pengembangan pesantren tidak hanya diukur dari seberapa banyak santri yang mengikuti kompetisi, tetapi juga dari kemampuan lembaga membangun sistem pendidikan, menghasilkan karya, mengembangkan potensi lokal, dan menyiapkan fondasi kemandirian.
KSMN dan Masa Depan Darul Fallaah
Bagi Darul Fallaah, pesan Dr. Maskuri tersebut dapat menjadi bahan refleksi dalam memasuki fase pengembangan berikutnya.
Ada tiga modal yang terlihat jelas: sumber daya alam berupa lahan, sumber daya intelektual melalui Tafsir TRENKAUN, dan sumber daya manusia berupa santri serta para pembina yang terus dikembangkan.
Ketiganya dapat menjadi bagian dari ekosistem pesantren yang saling menguatkan.
Lahan dapat menjadi basis pembelajaran sekaligus pengembangan ekonomi. Tafsir TRENKAUN dapat menjadi identitas intelektual. Sementara santri menjadi generasi yang kelak mengembangkan dan meneruskan seluruh potensi tersebut.
Dari sinilah kehadiran Darul Fallaah di KSMN II memiliki makna yang lebih luas.
Santri dari Bissoloro tidak hanya datang untuk berlomba di panggung nasional. Mereka datang membawa proses panjang sebuah pesantren yang sedang berusaha menghubungkan pendidikan, Al-Qur’an, ekologi, agribisnis, kaderisasi, dan kemandirian ekonomi dalam satu perjalanan menuju pesantren yang lebih unggul dan mandiri.
KSMN II akhirnya menjadi ruang perjumpaan. Sementara pesan dari Ketua LP2 PP Muhammadiyah menjadi cermin bagi Darul Fallaah untuk melihat kembali potensi yang telah dimiliki sekaligus peluang yang masih dapat dikembangkan.
Dari Bissoloro ke Coban Rondo, Darul Fallaah membawa santri untuk belajar di panggung nasional. Dari Coban Rondo, mereka membawa pulang pengalaman dan pesan untuk membangun pesantren yang tidak hanya unggul dalam pendidikan, tetapi juga memiliki karya dan kemandirian.
#HumasDF
0 Komentar