Enam Santri Darul Fallaah Uji Penguasaan Keislaman di Dirasah Islamiyah KSMN II


Enam santri Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro mengikuti Lomba Dirasah Islami
yah KSMN II di Bumi Perkemahan Coban Rondo, Malang, Selasa malam (22/9/2026), didampingi Uly Eka Saputri. Keenam peserta tampil pada bidang Akidah, Al-Qur’an, Sirah Nabawiyah, Akhlak, Hadis, dan Fiqih.

MALANG — Enam santri Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro tampil dalam Lomba Dirasah Islamiyah pada rangkaian Kemah Santri Muhammadiyah Nasional (KSMN) II di Bumi Perkemahan Coban Rondo, Malang, Jawa Timur, Selasa malam (22/9/2026).

Keenam santri tersebut tampil pada bidang kajian keislaman yang berbeda. Mereka membawa bekal pembelajaran dari pesantren untuk diuji dalam kompetisi tingkat nasional bersama santri dari berbagai pesantren Muhammadiyah dan 'Aisyiyah dari sejumlah daerah di Indonesia.

Keikutsertaan ini menjadi bagian dari perjalanan kafilah Darul Fallaah dalam KSMN II. Bagi pesantren, pengalaman mengikuti kompetisi nasional tidak hanya diarahkan untuk mengejar hasil lomba, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran, penguatan mental, dan pengembangan wawasan santri.

Enam Santri, Enam Bidang Keislaman

Enam santri yang mewakili Darul Fallaah dalam Dirasah Islamiyah masing-masing mengikuti bidang yang berbeda.

  1. Muliati (Muli) — bidang Akidah.

  2. Dian Maghfira Aswad — bidang Al-Qur’an.

  3. Siti Salisa Turrohmah — bidang Sirah Nabawiyah.

  4. Miftahul Chair Roni — bidang Akhlak.

  5. Nur Kumala Sari — bidang Hadis.

  6. Nurul Amirah Alfaizah — bidang Fiqih.

Enam bidang tersebut mencakup aspek penting dalam pembelajaran keislaman, mulai dari penguatan keyakinan, pemahaman Al-Qur’an dan Hadis, keteladanan Rasulullah SAW, pembentukan akhlak, hingga pemahaman fikih.

Menguji Bekal Pembelajaran dari Pesantren

Bagi keenam peserta, lomba Dirasah Islamiyah menjadi kesempatan untuk menguji penguasaan materi yang selama ini mereka pelajari di lingkungan pesantren.

Suasana kompetisi nasional menghadirkan tantangan tersendiri. Mereka tidak hanya berhadapan dengan soal dan materi yang harus dikuasai, tetapi juga harus menjaga konsentrasi dan kesiapan mental ketika berhadapan dengan peserta dari berbagai daerah.

KSMN II menjadi ruang bagi santri Muhammadiyah untuk bertemu, belajar, membangun pengalaman, serta mengembangkan berbagai keterampilan dalam suasana kebersamaan.

Karena itu, pengalaman enam santri Darul Fallaah malam itu menjadi bagian dari proses belajar yang lebih luas.

Uly Eka Saputri Dampingi Enam Peserta

Enam santri Darul Fallaah tersebut mengikuti lomba dengan pendampingan Uly Eka Saputri.

Sebagai pendamping, Uly Eka Saputri turut memastikan kesiapan para santri sebelum mengikuti kompetisi, mulai dari persiapan materi hingga kesiapan mental menghadapi suasana lomba tingkat nasional.

Menurut Uly Eka Saputri, keikutsertaan dalam Dirasah Islamiyah menjadi kesempatan penting bagi santri Darul Fallaah untuk mengukur kemampuan mereka setelah menjalani proses pembelajaran di pesantren.

Keenam santri juga mendapatkan pengalaman berhadapan langsung dengan peserta dari berbagai daerah. Kondisi tersebut membuat mereka tidak hanya belajar mengenai materi perlombaan, tetapi juga belajar membangun kepercayaan diri dan beradaptasi dengan lingkungan kompetisi yang lebih luas.

Bagi Uly Eka Saputri, hasil lomba memang menjadi bagian yang dinantikan. Namun, pengalaman yang diperoleh santri selama mengikuti KSMN II juga menjadi nilai penting yang dapat dibawa pulang ke Darul Fallaah.

Para santri diharapkan mampu mengambil pelajaran dari proses persiapan, pelaksanaan, hingga interaksi dengan peserta lain selama kompetisi.

Kompetisi Bagian dari Proses Pendidikan

Direktur Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Dr. Dahlan Lama Bawa, M.Ag., memberikan perhatian terhadap keikutsertaan para santri dalam Dirasah Islamiyah.

Menurutnya, keterlibatan santri dalam kompetisi nasional merupakan bagian dari proses pendidikan. Santri perlu mendapatkan kesempatan untuk menguji kemampuan di luar lingkungan pesantren agar memiliki pengalaman yang lebih luas.

Ia mendorong para peserta Darul Fallaah untuk mengikuti setiap tahapan lomba dengan kesungguhan, menjaga nama baik pesantren, serta menjadikan pengalaman KSMN II sebagai bagian dari pengembangan diri.

Bagi Direktur, prestasi memang menjadi salah satu target, tetapi pembentukan karakter dan pengalaman santri merupakan bagian yang tidak kalah penting.

Santri diharapkan mampu belajar dari peserta lain, mengenali kekuatan dan kekurangan diri, serta membawa pengalaman tersebut kembali ke Bissoloro sebagai bahan untuk memperkuat proses pembinaan.

Dengan demikian, kompetisi tidak berhenti ketika perlombaan selesai. Pengalaman yang diperoleh dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan pembinaan santri di Darul Fallaah.

Dari Bissoloro ke Panggung Nasional

Keikutsertaan enam santri Darul Fallaah dalam Dirasah Islamiyah menjadi bagian dari perjalanan kafilah Darul Fallaah selama KSMN II.

Muliati membawa bidang Akidah. Dian Maghfira Aswad mendalami Al-Qur’an. Siti Salisa Turrohmah mengikuti Sirah Nabawiyah. Miftahul Chair Roni bertanding pada bidang Akhlak. Nur Kumala Sari mengikuti Hadis. Sementara Nurul Amirah Alfaizah tampil pada bidang Fiqih.

Enam peserta, enam bidang, dan satu nama yang mereka bawa: Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro.

Kehadiran mereka di Coban Rondo sekaligus memperlihatkan bahwa proses pendidikan keislaman yang berlangsung di Bissoloro mendapatkan ruang untuk diuji dalam forum nasional.

Pengalaman yang Akan Dibawa Pulang

Bagi Darul Fallaah, setiap cabang lomba dalam KSMN II menjadi ruang untuk memperlihatkan proses pembinaan yang berlangsung di pesantren.

Khusus bagi enam peserta Dirasah Islamiyah, pengalaman malam itu menjadi kesempatan untuk menguji ilmu yang telah dipelajari sekaligus melihat secara langsung kemampuan santri dari berbagai daerah.

Dari Bissoloro mereka membawa bekal ilmu. Di Coban Rondo mereka menguji kemampuan. Setelah kompetisi berakhir, pengalaman tersebut menjadi bekal untuk kembali belajar dan berkembang.

Pada akhirnya, panggung nasional bukan hanya tempat menunjukkan kemampuan, tetapi juga ruang bagi santri untuk memperluas pengalaman, membangun kepercayaan diri, dan mematangkan proses pendidikan.

Keterangan foto:

Posting Komentar

0 Komentar