BISSOLORO — Budaya BAIS menjadi salah satu pembiasaan yang terus dikembangkan di Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro. Kegiatan yang dilakukan secara rutin dalam kehidupan sehari-hari santri ini tidak hanya bertujuan menciptakan lingkungan pesantren yang bersih dan rapi, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembentukan disiplin, tanggung jawab, kemandirian, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Budaya BAIS dilaksanakan di lingkungan Pondok Pesantren Darul Fallaah, Bissoloro, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa, dengan melibatkan santri dalam menjaga berbagai area yang menjadi ruang aktivitas bersama, seperti asrama, kamar, ruang belajar, masjid, halaman, dan fasilitas umum pesantren.
Kebersihan Dibangun melalui Pembiasaan
Bagi Darul Fallaah, kebersihan tidak cukup hanya disampaikan melalui imbauan. Santri perlu dilatih melalui kebiasaan yang dilakukan secara berulang dan konsisten.
Karena itu, santri dibiasakan menjaga kebersihan lingkungan masing-masing serta melaksanakan tugas yang telah diberikan. Mereka belajar membersihkan dan menata lingkungan sekaligus memahami bahwa fasilitas pesantren merupakan ruang bersama yang harus dirawat.
Pembiasaan ini juga melatih santri untuk tidak selalu menunggu instruksi. Ketika menemukan sampah atau melihat lingkungan yang tidak tertata, santri didorong memiliki inisiatif untuk mengambil tindakan.
Kebersihan Harus Menjadi Karakter
Direktur Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Dr. Dahlan Lama Bawa, S.Ag., M.Ag., mengatakan bahwa budaya BAIS memiliki nilai pendidikan yang lebih luas.
Menurutnya, kebersihan merupakan salah satu cara melatih santri memiliki rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan.
“Kita tidak ingin kebersihan hanya dilakukan ketika ada pemeriksaan atau karena diperintah. Yang ingin kita bangun adalah kesadaran. Santri harus merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan tempat mereka belajar, beribadah, dan tinggal,” ujar Dr. Dahlan.
Ia menambahkan, pembentukan karakter membutuhkan proses yang dilakukan secara terus-menerus. Rutinitas sederhana seperti membersihkan kamar dan lingkungan, jika dilakukan dengan kesadaran, akan membentuk kebiasaan positif.
“Pesantren adalah tempat membangun kebiasaan. Apa yang dilakukan secara terus-menerus akan membentuk karakter. Karena itu, budaya BAIS harus menjadi bagian dari kehidupan santri, bukan sekadar kegiatan kebersihan,” jelasnya.
Dari Bersih Lingkungan hingga Disiplin Diri
Budaya BAIS juga berkaitan erat dengan kedisiplinan. Santri belajar menyelesaikan tugas sesuai waktu dan tanggung jawab yang diberikan.
Dalam proses tersebut, mereka tidak hanya belajar membersihkan lingkungan, tetapi juga belajar bekerja sama, berbagi tugas, menghargai pekerjaan orang lain, dan menjaga fasilitas yang digunakan bersama.
Kebiasaan tersebut menjadi bagian dari pendidikan karakter yang berlangsung di luar ruang kelas.
BAIS Mendorong Santri Lebih Peduli
Salah satu nilai penting yang ingin dibangun melalui BAIS adalah kepedulian. Santri diarahkan untuk tidak bersikap acuh terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya.
Kepedulian tersebut dapat dimulai dari tindakan sederhana: membuang sampah pada tempatnya, merapikan barang setelah digunakan, menjaga kebersihan kamar, membersihkan ruang bersama, serta mengingatkan teman dengan cara yang baik.
Dengan demikian, budaya bersih tidak hanya menghasilkan lingkungan yang lebih nyaman, tetapi juga membentuk pola pikir bahwa setiap individu memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang baik.
Lingkungan Bersih Mendukung Proses Pendidikan
Lingkungan pesantren yang bersih dan tertata turut mendukung kenyamanan santri dalam menjalani aktivitas pendidikan. Ruang belajar yang terjaga, asrama yang rapi, serta fasilitas umum yang bersih menciptakan suasana yang lebih kondusif.
Hal tersebut menjadi semakin penting karena santri menghabiskan sebagian besar waktunya di lingkungan pesantren. Karena itu, kebersihan harus menjadi bagian dari sistem kehidupan sehari-hari.
BAIS sebagai Budaya Bersama
Budaya BAIS pada akhirnya diarahkan untuk menjadi budaya bersama seluruh warga pesantren. Santri tidak hanya menjadi pelaksana kegiatan kebersihan, tetapi juga menjadi bagian dari proses membangun lingkungan pesantren yang sehat, tertib, dan nyaman.
Pembiasaan tersebut sejalan dengan upaya Darul Fallaah membentuk santri yang memiliki keseimbangan antara ilmu, akhlak, keterampilan, kedisiplinan, dan kepedulian sosial.
Melalui budaya BAIS, Darul Fallaah menanamkan pesan sederhana bahwa lingkungan yang bersih lahir dari pribadi yang peduli. Dari kebiasaan menjaga kamar dan halaman, santri belajar menjaga amanah, menghargai lingkungan, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan bersama.
#HumasDF
0 Komentar