BISSOLORO — Kedisiplinan menjadi pesan utama dalam Apel Pagi Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Selasa, 15 September 2026. Apel yang dilaksanakan pada pagi hari di lingkungan pesantren, Bissoloro, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa, tersebut dipimpin oleh Wakil Direktur III (Wadir III) Muhammad Khairun, S.Pd.I. selaku pembina apel.
Apel pagi merupakan bagian dari rutinitas harian santri Darul Fallaah. Kegiatan ini menjadi sarana untuk memastikan kesiapan santri sebelum mengikuti rangkaian pembelajaran dan pembinaan, sekaligus menjadi ruang penyampaian arahan mengenai kedisiplinan, kebersihan, ketertiban, tanggung jawab, dan kehidupan bersama di lingkungan pesantren.
Disiplin Harus Dimulai dari Hal Sederhana
Dalam amanatnya, Muhammad Khairun, S.Pd.I., menekankan bahwa kedisiplinan bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan pesantren, tetapi merupakan kebiasaan yang harus tumbuh dari kesadaran pribadi.
Ia mengingatkan santri agar membangun disiplin melalui hal-hal sederhana, seperti bangun tepat waktu, mengikuti salat berjamaah, hadir dalam kegiatan sesuai jadwal, menjaga kebersihan, mengenakan pakaian sesuai ketentuan, serta melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh.
Menurutnya, santri yang terbiasa disiplin dalam perkara kecil akan lebih siap menerima tanggung jawab yang lebih besar.
“Disiplin itu dimulai dari hal-hal sederhana. Kalau kita mampu mengatur waktu, menaati jadwal, menjaga kebersihan dan menyelesaikan tugas dengan baik, berarti kita sedang melatih diri menjadi pribadi yang bertanggung jawab,” pesan Muhammad Khairun dalam amanatnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kehidupan pesantren memiliki aturan yang harus dipatuhi bersama. Aturan tersebut bukan untuk membatasi santri, tetapi untuk membangun keteraturan dan menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif.
Disiplin Bukan Karena Takut Hukuman
Muhammad Khairun menegaskan, kedisiplinan yang ideal bukan lahir karena takut mendapatkan sanksi. Lebih dari itu, disiplin harus tumbuh karena adanya kesadaran bahwa setiap aturan memiliki tujuan pendidikan.
Santri diharapkan mampu memahami alasan di balik setiap aturan yang diterapkan. Ketika kesadaran tersebut sudah terbentuk, kedisiplinan tidak hanya berjalan ketika diawasi pembina, tetapi tetap dilakukan meskipun tidak ada yang melihat.
“Yang kita harapkan bukan santri disiplin karena diawasi. Kita ingin kedisiplinan itu tumbuh menjadi kesadaran. Ketika tidak ada pembina yang melihat pun, aturan tetap dijalankan karena sudah menjadi bagian dari karakter,” lanjutnya.
Ia kemudian mengajak seluruh santri menjadikan apel pagi sebagai momentum untuk mengevaluasi diri dan memperbaiki kedisiplinan masing-masing.
Pesantren Membentuk Kebiasaan, Bukan Sekadar Memberi Aturan
Sementara itu, Direktur Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Dr. Dahlan Lama Bawa, S.Ag., M.Ag., mengatakan bahwa disiplin merupakan salah satu fondasi penting dalam sistem pendidikan pesantren.
Menurutnya, kehidupan pesantren memberikan ruang yang luas bagi santri untuk belajar mengatur diri. Jadwal ibadah, belajar, kebersihan, makan, istirahat, hingga kegiatan organisasi merupakan rangkaian pembiasaan yang jika dilakukan secara konsisten akan membentuk karakter.
“Pesantren bukan hanya tempat untuk mendapatkan ilmu, tetapi juga tempat membangun kebiasaan. Karena itu, setiap rutinitas yang dilakukan santri memiliki nilai pendidikan, termasuk apel pagi,” ujar Dr. Dahlan.
Ia menjelaskan, kedisiplinan memiliki hubungan erat dengan kemandirian. Santri yang mampu mengatur waktu dan bertanggung jawab terhadap kewajibannya akan lebih mudah berkembang menjadi pribadi yang mandiri.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya dapat dilihat dari prestasi akademik. Sikap, akhlak, tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemampuan menjalankan amanah juga menjadi bagian penting dari keberhasilan pembinaan.
“Kita ingin santri Darul Fallaah memiliki keseimbangan antara ilmu, akhlak, keterampilan, dan kedisiplinan. Semua itu harus dibangun melalui proses yang terus-menerus,” tambahnya.
Apel Menjadi Ruang Evaluasi Bersama
Dr. Dahlan juga melihat apel pagi sebagai salah satu instrumen sederhana dalam membangun komunikasi antara pimpinan, pembina, dan santri. Melalui apel, pesan-pesan penting dapat disampaikan secara langsung kepada seluruh santri.
Selain itu, kondisi barisan juga dapat menjadi gambaran awal mengenai kesiapan santri dalam mengikuti aktivitas hari itu.
Kerapian, ketepatan waktu, sikap ketika menerima arahan, hingga kepatuhan terhadap instruksi merupakan bagian dari indikator kedisiplinan yang dapat dilatih melalui apel.
Dari Disiplin Menuju Tanggung Jawab
Pesan kedisiplinan yang disampaikan dalam apel pagi tersebut pada akhirnya diarahkan pada pembentukan rasa tanggung jawab. Santri tidak hanya diharapkan mampu menaati aturan ketika berada di pesantren, tetapi juga memiliki kemampuan membawa kebiasaan tersebut ke luar lingkungan pesantren.
Kedisiplinan dalam mengatur waktu, menjaga amanah, menghormati orang lain, menyelesaikan tugas, dan menjaga lingkungan merupakan karakter yang dibutuhkan santri ketika kelak melanjutkan pendidikan maupun kembali ke masyarakat.
Apel pagi pun menjadi bagian dari proses tersebut. Kegiatan yang berlangsung singkat setiap hari menjadi sarana pembiasaan yang dilakukan secara konsisten.
Rutinitas Kecil, Dampak Besar
Bagi Darul Fallaah, pembentukan karakter tidak selalu harus dimulai dari kegiatan besar. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara terus-menerus justru dapat menjadi fondasi penting dalam membentuk pribadi santri.
Melalui apel pagi, santri dilatih untuk hadir tepat waktu, berdiri tertib, mendengarkan arahan, menjaga sikap, dan siap menjalankan aktivitas berikutnya.
Apel pagi Selasa, 15 September 2026, menjadi pengingat bagi seluruh santri Darul Fallaah bahwa kedisiplinan bukan sekadar aturan yang harus ditaati, melainkan kebiasaan yang perlu ditanamkan untuk membentuk pribadi yang bertanggung jawab, mandiri, dan siap menghadapi kehidupan di masa depan.
0 Komentar