BISSOLORO — Kesabaran dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan menjadi pokok bahasan yang disampaikan Ananda Muh. Reza, santri kelas VIII B Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, dalam kultum ba’da Magrib, Senin, 14 September 2026.
Kegiatan berlangsung di Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar, Bissoloro, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa. Mengangkat tema “Sabar”, Muh. Reza menyampaikan pentingnya membangun kesabaran sebagai bagian dari sikap seorang muslim dalam menjalani kehidupan, termasuk ketika menghadapi kesulitan, tantangan belajar, maupun berbagai persoalan sehari-hari.
Sabar Bukan Berarti Menyerah
Dalam kultumnya, Muh. Reza menjelaskan bahwa sabar bukan berarti pasrah atau menyerah terhadap keadaan. Kesabaran justru membutuhkan kekuatan untuk tetap bertahan, mengendalikan diri, dan terus berusaha ketika menghadapi kesulitan.
Bagi seorang santri, sikap sabar dapat diterapkan dalam berbagai situasi. Mulai dari mengikuti jadwal kegiatan pesantren, menyelesaikan tugas belajar, menghadapi perbedaan dengan teman, hingga menjalani proses menghafal dan mempelajari Al-Qur’an.
Kesabaran juga diperlukan ketika hasil yang diperoleh belum sesuai dengan harapan. Dalam kondisi tersebut, seorang santri perlu terus berusaha sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.
Melatih Kesabaran Sejak di Pesantren
Kehidupan pesantren menjadi ruang yang baik untuk melatih kesabaran. Santri hidup dalam lingkungan yang memiliki aturan, jadwal, dan tanggung jawab yang harus dijalankan secara bersama-sama.
Rutinitas tersebut mengajarkan santri untuk mengendalikan keinginan pribadi dan menyesuaikannya dengan kepentingan bersama.
Melalui pembiasaan tersebut, nilai kesabaran diharapkan tidak hanya dipahami sebagai materi kultum, tetapi tumbuh menjadi karakter yang tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Santri Biring Bulu' Aktif di Hizbul Wathan
Muh. Reza merupakan santri kelas VIII B yang berasal dari Biring Bulu'. Ia merupakan putra dari Dafi Dg. Sile, yang berprofesi sebagai petani.
Di lingkungan pesantren, Muh. Reza aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan (HW). Kegiatan tersebut menjadi salah satu ruang pembinaan untuk mengembangkan kedisiplinan, kemandirian, kerja sama, dan kepemimpinan santri.
Kultum sebagai Ruang Pembelajaran
Kultum ba’da Magrib menjadi salah satu kegiatan pembinaan yang memberikan kesempatan kepada santri untuk belajar menyampaikan pesan keislaman di hadapan jamaah.
Selain memperkuat pemahaman agama, kegiatan tersebut juga melatih keberanian berbicara, kemampuan menyusun gagasan, serta tanggung jawab dalam menyampaikan materi.
Tema “Sabar” yang dibawakan Muh. Reza menjadi pesan sederhana sekaligus relevan dengan kehidupan santri. Proses pendidikan membutuhkan kesungguhan dan ketekunan, sehingga kesabaran menjadi salah satu sikap yang perlu terus dilatih.
Sabar dalam Belajar dan Berproses
Setiap santri memiliki proses dan kemampuan yang berbeda. Ada yang cepat memahami pelajaran, ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang. Begitu pula dalam menghafal Al-Qur’an maupun mengembangkan keterampilan.
Karena itu, kesabaran diperlukan agar santri tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Kegagalan dapat menjadi bahan evaluasi, sementara keberhasilan perlu disyukuri tanpa berhenti belajar.
Melalui kultum ba’da Magrib tersebut, Muh. Reza menyampaikan bahwa sabar merupakan kekuatan untuk tetap berada di jalan kebaikan, terus berusaha, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi ujian kehidupan.Keterangan Foto
#HumasDF
0 Komentar