Wakil Direktur III Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar, Muhammad Khairun, S.Pd.I., saat menyampaikan Kajian Sirah Nabawiyah dengan tema “Kedudukan Rasulullah dalam Kehidupan” kepada santri di Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar, Bissoloro, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa.

BISSOLORO — Memahami kedudukan Rasulullah SAW dalam kehidupan seorang muslim menjadi pokok bahasan dalam Kajian Sirah Nabawiyah yang disampaikan Wakil Direktur III Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar, Muhammad Khairun, S.Pd.I. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin, 14 September 2026, bertempat di Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar, Bissoloro, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa.

Kajian yang berlangsung di Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa, tersebut mengangkat tema “Kedudukan Rasulullah dalam Kehidupan”. Materi diarahkan untuk memperkuat pemahaman santri mengenai posisi Rasulullah SAW sebagai utusan Allah sekaligus teladan dalam menjalani kehidupan.

Rasulullah sebagai Teladan Kehidupan

Dalam pemaparannya, Muhammad Khairun menjelaskan bahwa mencintai Rasulullah SAW tidak cukup hanya dengan mengenal nama, sejarah, dan perjalanan hidup beliau. Kecintaan tersebut perlu diwujudkan melalui upaya mengenal sunnah, meneladani akhlak, serta menerapkan nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Rasulullah SAW menjadi teladan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari ibadah, akhlak, hubungan sosial, kepemimpinan, pendidikan, hingga cara memperlakukan sesama.

Karena itu, mempelajari sirah nabawiyah bukan sekadar mempelajari rangkaian peristiwa sejarah, tetapi juga memahami bagaimana Rasulullah SAW menghadapi berbagai persoalan dan mengambil pelajaran yang relevan untuk kehidupan umat Islam saat ini.

Kedudukan Rasulullah bagi Seorang Muslim

Pembahasan juga menempatkan Rasulullah SAW sebagai sosok yang memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang muslim. Beliau merupakan utusan Allah SWT, pembawa risalah Islam, pemberi teladan, sekaligus pendidik umat.

Ketaatan kepada Rasulullah menjadi bagian dari ketaatan kepada Allah. Karena itu, santri perlu memiliki pemahaman yang benar tentang Rasulullah agar kecintaan kepada beliau tidak berhenti pada ungkapan, tetapi diwujudkan dalam sikap dan perilaku.

Dalam konteks kehidupan santri, keteladanan Rasulullah dapat tercermin melalui kejujuran, kesabaran, amanah, kasih sayang, kedisiplinan, keberanian menyampaikan kebenaran, dan kepedulian terhadap orang lain.

Sirah sebagai Pendidikan Karakter

Kajian Sirah Nabawiyah juga menjadi sarana untuk menghubungkan sejarah Rasulullah dengan proses pembentukan karakter santri.

Kisah perjuangan Rasulullah SAW mengajarkan bahwa perubahan membutuhkan kesabaran, strategi, keteguhan, dan pengorbanan. Nilai-nilai tersebut relevan dengan kehidupan santri yang sedang menjalani proses pendidikan dan pembinaan di pesantren.

Santri tidak hanya dituntut untuk memiliki pengetahuan agama, tetapi juga mampu menerjemahkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata.

Dengan mempelajari perjalanan Rasulullah, santri diharapkan memiliki figur teladan yang dapat menjadi rujukan dalam membangun sikap dan kepribadian.

Menumbuhkan Kecintaan kepada Rasulullah

Muhammad Khairun juga menekankan pentingnya menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW di kalangan generasi muda. Kecintaan tersebut dapat dibangun dengan memperbanyak pengetahuan tentang kehidupan beliau, membaca dan mempelajari hadis, memperbanyak shalawat, serta berusaha mengikuti sunnahnya.

Semakin seseorang mengenal pribadi Rasulullah, semakin besar peluang tumbuhnya kecintaan dan keinginan untuk meneladaninya.

Bagi santri, proses tersebut menjadi bagian dari pembentukan identitas keislaman sekaligus bekal dalam menjalani kehidupan di tengah masyarakat.

Kajian yang Menghubungkan Sejarah dan Kehidupan

Kajian Sirah Nabawiyah di Darul Fallaah menjadi ruang pembelajaran yang tidak hanya menghadirkan sejarah sebagai pengetahuan masa lalu. Setiap kisah Rasulullah diarahkan untuk menemukan nilai, pelajaran, dan keteladanan yang dapat diterapkan dalam kehidupan masa kini.

Melalui pembahasan “Kedudukan Rasulullah dalam Kehidupan”, santri diingatkan bahwa Rasulullah SAW bukan hanya tokoh sejarah yang dikenal dalam buku-buku keislaman, tetapi merupakan teladan utama yang ajaran dan akhlaknya menjadi pedoman bagi umat Islam.

Kajian tersebut diharapkan semakin memperkuat kecintaan santri kepada Rasulullah SAW, sekaligus mendorong mereka untuk menjadikan akhlak dan sunnah Rasulullah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

#HumasDF