Oase Jumat Buka Kajian 10 Surat Pilihan, Angkat Pesan Al-Kahfi

Ustadz Hasrul Parawansyah, S.Pd., menyampaikan OASE JUMAT — Kajian Tematik 10 Surat Pilihan, Serial 1 Surat Al-Kahfi, dengan pembahasan QS. Al-Kahfi ayat 1–8 bertema “Landasan Manhaj & Hakikat Perhiasan Dunia”, Sabtu (19/9/2026).

BISSOLORO — Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa, memulai program OASE JUMAT (Obrolan Al-Qur’an dan Spiritualitas Jumat) melalui kajian tematik 10 Surat Pilihan. Pada seri perdana, kajian mengangkat QS. Al-Kahfi ayat 1–8 dengan tema “Landasan Manhaj & Hakikat Perhiasan Dunia”.

Kajian yang berlangsung Sabtu, 19 September 2026 tersebut disampaikan oleh Ustaz Hasrul Parawansyah, S.Pd. Program ini menjadi bagian dari pembinaan keislaman yang diarahkan untuk memperkuat interaksi santri dengan Al-Qur’an melalui pembacaan, pemahaman, tadabbur, dan pengamalan.

Memasuki Serial 1, Pekan 1 dari 9, pembahasan Surat Al-Kahfi menjadi pijakan awal untuk mengajak santri melihat Al-Qur’an sebagai petunjuk sekaligus memahami bagaimana manusia seharusnya menempatkan kehidupan dunia.

Al-Kahfi dan Landasan Cara Pandang

Ustaz Hasrul Parawansyah, S.Pd., menjelaskan bahwa QS. Al-Kahfi ayat 1–8 memiliki pesan mendasar mengenai kedudukan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.

Menurutnya, Al-Qur’an tidak cukup hanya dibaca, tetapi perlu dipahami dan dijadikan landasan dalam menentukan sikap.

“Surat Al-Kahfi pada bagian awal memberikan gambaran tentang Al-Qur’an sebagai petunjuk yang lurus. Karena itu, kita perlu menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan dalam melihat kehidupan, menentukan pilihan, dan menghadapi berbagai ujian,” jelas Hasrul.

Ia mengatakan, tema “Landasan Manhaj” berkaitan dengan pentingnya memiliki arah dan prinsip yang jelas dalam menjalani kehidupan.

Bagi santri, prinsip tersebut dapat diterapkan dalam berbagai aktivitas, mulai dari belajar, berorganisasi, berinteraksi dengan sesama, hingga menentukan prioritas dalam kehidupan.

“Kalau landasannya benar, cara kita berpikir dan bertindak juga akan diarahkan kepada kebaikan. Karena itu, belajar Al-Qur’an harus sampai pada bagaimana ayat tersebut membentuk cara kita menjalani kehidupan,” tambahnya.

Memahami Hakikat Perhiasan Dunia

Pembahasan kemudian diarahkan pada QS. Al-Kahfi ayat 7–8 yang menggambarkan berbagai hal di muka bumi sebagai perhiasan sekaligus ujian bagi manusia.

Hasrul mengajak santri memahami bahwa kehidupan dunia dengan segala keindahannya bukan sesuatu yang harus ditolak, tetapi perlu ditempatkan secara proporsional.

“Perhiasan dunia bukan berarti harus kita jauhi. Kita boleh memiliki cita-cita, mengejar prestasi, menggunakan fasilitas, dan menikmati nikmat Allah. Tetapi semua itu jangan sampai membuat kita kehilangan tujuan hidup,” ujarnya.

Menurutnya, ilmu, prestasi, harta, maupun berbagai fasilitas dapat menjadi sarana untuk melakukan kebaikan apabila digunakan dengan benar.

Sebaliknya, berbagai kenikmatan tersebut dapat menjadi ujian apabila membuat seseorang lalai terhadap tanggung jawab dan tujuan kehidupannya.

“Yang penting bukan sekadar apa yang kita miliki, tetapi bagaimana kita menggunakan apa yang kita miliki. Dunia adalah sarana, bukan tujuan akhir,” katanya.

Kajian Harus Melahirkan Kebiasaan Qur’ani

Direktur Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Dr. Dahlan Lama Bawa, M.Ag., mengatakan OASE JUMAT diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun budaya Qur’ani di lingkungan pesantren.

Menurutnya, santri perlu mendapatkan ruang yang cukup untuk membaca, memahami, dan mendalami kandungan Al-Qur’an secara kontekstual.

“OASE JUMAT kita hadirkan sebagai ruang untuk memperkuat interaksi santri dengan Al-Qur’an. Kita ingin santri tidak hanya membaca dan menghafal ayat, tetapi juga memahami pesan yang terkandung di dalamnya dan mampu mengambil pelajaran untuk kehidupan sehari-hari,” ujar Dr. Dahlan.

Ia menilai kajian tematik akan membantu santri melihat bahwa Al-Qur’an memiliki hubungan erat dengan berbagai persoalan kehidupan.

“Al-Qur’an harus menjadi landasan dalam membangun cara berpikir dan mengambil sikap. Karena itu, kajian seperti ini penting agar santri memiliki kemampuan melihat kehidupan dengan perspektif Al-Qur’an,” jelasnya.

Khusus pembahasan Surat Al-Kahfi, menurut Dr. Dahlan, tema tentang hakikat perhiasan dunia relevan dengan proses pembentukan orientasi hidup santri.

“Santri perlu memahami bahwa dunia adalah tempat untuk beramal dan mempersiapkan kehidupan akhirat. Ilmu, prestasi, harta, dan berbagai fasilitas yang dimiliki harus diarahkan menjadi sarana kebaikan, bukan menjadi tujuan akhir,” tuturnya.

Dari Kajian Menuju Muhasabah

Ustaz Hasrul juga mengajak santri menjadikan pembahasan Al-Kahfi sebagai momentum muhasabah diri. Setiap santri perlu melihat kembali apa yang sedang dikejar dan bagaimana orientasi tersebut memengaruhi kehidupan.

“Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apa yang sedang kita kejar, untuk apa kita belajar, untuk apa kita ingin berprestasi, dan ke mana semua itu akan membawa kita? Al-Qur’an mengajarkan agar kita tidak tertipu oleh perhiasan dunia, tetapi menjadikannya sebagai sarana untuk menghasilkan amal yang terbaik,” ungkapnya.

Menurutnya, tadabbur akan lebih bermakna apabila menghasilkan perubahan perilaku.

“Kajian Al-Qur’an jangan berhenti pada pengetahuan. Setelah memahami ayat, kita perlu melihat apa yang harus berubah dalam diri kita. Kalau sebelumnya kurang disiplin, menjadi lebih disiplin. Kalau sebelumnya mudah tergoda oleh hal-hal yang tidak penting, kita belajar mengendalikan diri. Itulah salah satu bentuk tadabbur,” jelasnya.

OASE JUMAT Berlangsung Berseri

OASE JUMAT dikemas sebagai kajian tematik 10 Surat Pilihan yang dilaksanakan secara berseri. Serial pertama mengangkat Surat Al-Kahfi dengan pembahasan QS. Al-Kahfi ayat 1–8.

Format kajian berseri memberikan ruang bagi santri untuk mengikuti pembahasan secara bertahap. Setiap pertemuan diarahkan tidak hanya untuk menambah wawasan keislaman, tetapi juga menghubungkan pesan Al-Qur’an dengan kehidupan nyata.

Dr. Dahlan berharap program tersebut dapat tumbuh menjadi tradisi positif di lingkungan pesantren.

“Kami berharap kajian ini melahirkan kebiasaan membaca Al-Qur’an, memahami maknanya, merenungkannya, kemudian berusaha mengamalkannya. Dari situlah nilai Al-Qur’an diharapkan benar-benar hadir dalam kehidupan santri,” pungkasnya.

Melalui pembukaan Serial 1 Surat Al-Kahfi, Darul Fallaah memulai rangkaian kajian yang menempatkan Al-Qur’an sebagai sumber ilmu, nilai, dan pedoman kehidupan. Pesan tentang landasan manhaj dan hakikat perhiasan dunia menjadi pintu masuk bagi santri untuk membangun orientasi hidup yang lebih terarah dan berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an.

#HumasDF

Posting Komentar

0 Komentar