Muh. Nur Fatanah: Setiap Perbuatan Tak Lepas dari Pengawasan Allah


Muh. Nur Fatanah, santri kelas X MA Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, saat menyampaikan kultum ba’da Magrib, Selasa (29/9/2026).

GOWA — Kultum ba’da Magrib di Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Selasa (29/9/2026), diisi oleh Muh. Nur Fatanah, santri kelas X MA. Dalam kultumnya, ia mengangkat tema “Setiap Perbuatan Manusia Tidak Lepas dari Pengawasan Allah.”

Di hadapan para santri, Muh. Nur Fatanah mengajak untuk memahami bahwa kehidupan manusia tidak pernah lepas dari pengetahuan dan pengawasan Allah SWT. Kesadaran tersebut penting untuk menjadi dasar dalam menentukan sikap, baik ketika berada di hadapan orang lain maupun saat tidak ada seorang pun yang melihat.

Pesan tersebut berkaitan dengan firman Allah dalam QS. Qaf ayat 16 yang menjelaskan bahwa Allah mengetahui apa yang dibisikkan dalam diri manusia dan mengetahui keadaan manusia dengan sangat dekat.

Menjaga Sikap dalam Kehidupan Sehari-hari

Menurut pesan yang disampaikan dalam kultum, kesadaran bahwa setiap perbuatan diketahui Allah dapat mendorong seseorang untuk lebih berhati-hati dalam bersikap. Perkataan, tindakan, maupun pilihan yang dilakukan dalam keseharian perlu dipertimbangkan agar tidak membawa kepada perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Bagi santri, pesan tersebut dapat diterapkan dalam berbagai aktivitas di lingkungan pesantren. Mulai dari mengikuti pembelajaran, melaksanakan ibadah, menaati aturan, menjaga kebersihan, hingga membangun hubungan yang baik dengan sesama santri.

Kesadaran terhadap pengawasan Allah juga berkaitan dengan tanggung jawab pribadi. Seseorang tidak seharusnya berbuat baik hanya karena sedang dilihat atau dinilai oleh orang lain. Nilai kejujuran dan tanggung jawab justru terlihat ketika seseorang mampu menjaga perilakunya meskipun tidak sedang berada dalam pengawasan manusia.

Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa setiap amal akan mendapatkan balasan. QS. Az-Zalzalah ayat 7–8 menyebutkan bahwa kebaikan maupun keburukan seberat zarrah akan diperlihatkan kepada pelakunya.

Kultum Menjadi Ruang Belajar Santri

Kultum ba’da Magrib menjadi salah satu ruang bagi santri Darul Fallaah untuk belajar menyampaikan pesan keagamaan sekaligus melatih keberanian berbicara di hadapan jamaah.

Muh. Nur Fatanah merupakan santri kelas X MA yang berasal dari Galesong. Ia merupakan putra Kamaruddin dan Rahmawati. Ayahnya tercatat sebagai pensiunan, sementara ibunya berstatus honorer. Di lingkungan pesantren, ia mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan (HW).

Melalui kultum tersebut, tema tentang pengawasan Allah ditempatkan dekat dengan kehidupan sehari-hari santri. Pesannya sederhana: setiap tindakan memiliki konsekuensi dan setiap pribadi memiliki tanggung jawab atas apa yang dilakukannya.

Kultum kemudian menjadi bagian dari pembiasaan santri untuk tidak hanya memahami nilai-nilai keislaman secara teori, tetapi juga berusaha menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan pesantren.

#HumasDf

Posting Komentar

0 Komentar