Ustadz Alimuddin, S.E., saat memberikan amanat pada apel pagi santri Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Rabu (30/9/2026). |
Bissoloro — Apel pagi santri Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Rabu (30/9/2026), diisi dengan amanat tentang hikmah kehidupan dan pentingnya bersyukur menjadi santri.
Apel dipimpin dan dibina oleh Ustaz Alimuddin, S.E. Dalam amanatnya, ia mengajak santri untuk melihat setiap pengalaman dalam kehidupan sebagai bagian dari proses belajar. Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan, sehingga setiap keadaan perlu dihadapi dengan sikap yang bijak dan kesediaan untuk mengambil pelajaran.
Pesan tersebut diarahkan agar santri tidak hanya berorientasi pada hasil yang ingin dicapai, tetapi juga memahami proses yang sedang dijalani. Tantangan, keterbatasan, keberhasilan, maupun kegagalan dapat menjadi pengalaman yang membentuk cara berpikir dan sikap seseorang.
Belajar Memahami Hikmah Kehidupan
Dalam kehidupan sehari-hari, santri menghadapi berbagai situasi yang menjadi bagian dari proses pendidikan. Jadwal kegiatan yang teratur, kewajiban mengikuti pembelajaran, ibadah berjamaah, menjaga kebersihan, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, hingga hidup bersama teman-teman merupakan pengalaman yang secara bertahap membentuk kebiasaan.
Karena itu, kehidupan di pesantren tidak hanya berkaitan dengan kegiatan belajar di ruang kelas. Nilai-nilai yang diperoleh juga tumbuh melalui pembiasaan dan interaksi sehari-hari. Kajian mengenai pendidikan karakter di pesantren menunjukkan bahwa proses pendidikan berlangsung melalui pembelajaran sekaligus kehidupan keseharian, termasuk pembiasaan kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kehidupan bersama.
Dalam konteks tersebut, santri diajak untuk tidak melewatkan setiap pengalaman begitu saja. Hal-hal sederhana yang dilakukan setiap hari dapat menjadi bagian dari proses membentuk pribadi yang lebih matang.
Bersyukur Menjadi Santri
Selain membahas hikmah kehidupan, amanat apel juga menekankan pentingnya bersyukur menjadi santri.
Kesempatan memperoleh pendidikan di pesantren merupakan bagian dari perjalanan yang patut dihargai. Santri mendapatkan ruang untuk belajar ilmu pengetahuan sekaligus menjalani pembiasaan keagamaan dan kehidupan bersama dalam lingkungan pendidikan.
Rasa syukur tersebut dapat diwujudkan melalui kesungguhan menjalani pendidikan. Belajar dengan baik, menghormati guru dan pembina, menjaga hubungan dengan sesama, mengikuti aturan pesantren, serta menggunakan waktu dengan kegiatan yang bermanfaat menjadi bagian dari bentuk syukur dalam kehidupan santri.
Syukur juga tidak hanya berkaitan dengan keadaan yang menyenangkan. Ketika menghadapi kesulitan, santri tetap dapat mengambil pelajaran dan menjadikannya sebagai bagian dari proses untuk memperbaiki diri.
Menjalani Proses dengan Kesadaran
Amanat apel pagi tersebut menjadi pengingat bagi santri Darul Fallaah agar menjalani kehidupan pesantren dengan kesadaran. Setiap kegiatan memiliki tujuan, sementara setiap pengalaman dapat memberikan pelajaran apabila dijalani dengan sungguh-sungguh.
Pembentukan karakter melalui pembiasaan memang menjadi salah satu bagian penting dalam pendidikan pesantren. Sejumlah kajian menempatkan kemandirian, tanggung jawab, kedisiplinan, serta nilai religius sebagai bagian dari karakter yang dibangun melalui kehidupan santri sehari-hari.
Dengan demikian, pesan tentang hikmah kehidupan dan syukur menjadi santri tidak berhenti pada amanat apel. Nilai tersebut diharapkan dapat hadir dalam keseharian santri, baik saat belajar, beribadah, menjalankan tugas, berinteraksi dengan teman, maupun ketika menghadapi berbagai tantangan selama berada di pesantren.
Apel pagi kemudian menjadi salah satu ruang pembinaan rutin untuk mengingatkan kembali nilai-nilai tersebut sebelum santri melanjutkan aktivitas pendidikan dan kegiatan pesantren.
#HumasDF
0 Komentar