Muh. Habib Akbar Bahas Pentingnya Keimanan dalam Kultum Ba’da Magrib

Ananda Muh. Habib Akbar, santri kelas VIII B Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar, saat menyampaikan Kultum Ba’da Magrib bertema “Tidak Ada Pertolongan bagi Orang Kafir”, Selasa (15/9/2026), di Bissoloro, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa.

BISSOLORO — Pentingnya menjaga keimanan dan memahami konsekuensi kekafiran menjadi pokok bahasan Kultum Ba’da Magrib yang disampaikan Ananda Muh. Habib Akbar, santri kelas VIII B Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Selasa, 15 September 2026.

Kegiatan berlangsung di Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar, Bissoloro, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa. Dalam kultumnya, Muh. Habib Akbar mengangkat tema “Tidak Ada Pertolongan bagi Orang Kafir”, dengan pembahasan yang diarahkan pada pentingnya keimanan kepada Allah SWT dan kesadaran seorang muslim untuk senantiasa menjaga keyakinan serta amal perbuatannya.

Menguatkan Kesadaran tentang Keimanan

Dalam penyampaiannya, Muh. Habib Akbar mengajak para santri memahami bahwa kehidupan seorang muslim tidak dapat dilepaskan dari keimanan. Keimanan menjadi dasar dalam menjalankan ibadah sekaligus menjadi pedoman dalam menentukan sikap dan perilaku.

Tema yang dibawakan juga menjadi pengingat agar seorang muslim tidak meremehkan persoalan akidah. Keimanan kepada Allah SWT harus dijaga melalui ibadah, ketaatan, serta menjauhi berbagai perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Pembahasan tentang tidak adanya pertolongan bagi orang kafir dalam konteks ajaran Islam juga diarahkan untuk memperkuat pemahaman santri mengenai pentingnya keselamatan iman dan ketundukan kepada Allah SWT.

Kultum Menjadi Ruang Belajar Santri

Kultum ba’da Magrib menjadi salah satu kegiatan pembinaan yang memberikan kesempatan kepada santri untuk menyampaikan materi keislaman di hadapan jamaah.

Selain memperkuat pemahaman agama, kegiatan tersebut melatih keberanian santri berbicara di depan umum, menyusun materi, menyampaikan pesan secara terarah, serta mempertanggungjawabkan materi yang disampaikan.

Bagi Muh. Habib Akbar, kesempatan menyampaikan kultum menjadi bagian dari proses belajar untuk mengembangkan kemampuan komunikasi sekaligus memperdalam pengetahuan keagamaan.

Santri Panggentungan Aktif di HW dan Tapak Suci

Muh. Habib Akbar merupakan santri kelas VIII B yang berasal dari Panggentungan. Ia merupakan putra dari Andir Faisal Dg. Mangung, yang berprofesi sebagai buruh.

Di lingkungan pesantren, Muh. Habib Akbar aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan (HW) dan Tapak Suci. Dua aktivitas tersebut menjadi ruang bagi santri untuk mengembangkan kedisiplinan, keberanian, kemandirian, serta kemampuan bekerja sama.

Menghubungkan Iman dengan Kehidupan

Materi yang disampaikan dalam kultum tersebut tidak berhenti pada pemahaman tentang konsekuensi kekafiran. Pesan yang lebih mendasar adalah bagaimana santri menjaga keimanan dalam kehidupan sehari-hari.

Keimanan perlu tercermin dalam perilaku. Santri diajak untuk menjaga salat, menghormati orang tua dan guru, berkata baik, menjaga amanah, serta menjauhi perbuatan yang dapat merusak diri dan hubungan dengan orang lain.

Dengan demikian, pemahaman keagamaan diharapkan tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap dan kebiasaan.

#HumasDF

Posting Komentar

0 Komentar