Kebaikan dan Dosa Jadi Renungan Santri dalam Kultum Ba’da Subuh

Ananda Dzahratul Aini, santri kelas VIII A SMP Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar, saat menyampaikan Kultum Ba’da Subuh bertema “Kebaikan dan Dosa”, Selasa (15/9/2026), di Bissoloro, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa.

BISSOLORO — Memahami perbedaan antara kebaikan dan dosa menjadi tema yang disampaikan Ananda Dzahratul Aini, santri kelas VIII A SMP Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, dalam Kultum Ba’da Subuh, Selasa, 15 September 2026.

Kegiatan berlangsung di Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar, Bissoloro, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa. Melalui tema “Kebaikan dan Dosa”, Dzahratul Aini mengajak para santri untuk memahami pentingnya membedakan perbuatan yang bernilai kebaikan dan tindakan yang harus dihindari karena termasuk dosa.

Mengajak Santri Memilih Kebaikan

Dalam kultumnya, Dzahratul Aini menyampaikan bahwa setiap perbuatan yang dilakukan manusia memiliki konsekuensi. Karena itu, seorang muslim perlu berhati-hati dalam menentukan sikap dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.

Kebaikan tidak selalu berbentuk sesuatu yang besar. Bersikap jujur, menghormati orang tua dan guru, membantu teman, menjaga kebersihan, berkata baik, serta melaksanakan ibadah merupakan contoh perilaku yang dapat dibiasakan dalam kehidupan santri.

Sebaliknya, perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain perlu dihindari. Santri diajak untuk membangun kesadaran bahwa pilihan kecil dalam keseharian dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter.

Kebaikan Dimulai dari Kebiasaan

Lingkungan pesantren menjadi ruang pembelajaran bagi santri untuk membiasakan diri melakukan kebaikan. Rutinitas ibadah, belajar, menjaga kebersihan, mengikuti aturan, dan hidup bersama dengan teman menjadi kesempatan untuk mempraktikkan nilai-nilai tersebut.

Dzahratul Aini juga mengajak para santri agar tidak meremehkan perbuatan baik meskipun terlihat sederhana. Kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten dapat membentuk pribadi yang lebih bertanggung jawab dan peduli.

Menghindari Perbuatan yang Mengarah pada Dosa

Selain mendorong kebaikan, pembahasan tentang dosa menjadi pengingat agar santri lebih berhati-hati dalam ucapan maupun tindakan.

Perilaku seperti berbohong, menyakiti orang lain, berkata kasar, mengabaikan kewajiban, atau melakukan tindakan yang bertentangan dengan ajaran Islam perlu dihindari.

Pemahaman tersebut diharapkan membuat santri memiliki kemampuan untuk melakukan evaluasi terhadap diri sendiri dan memperbaiki perilaku ketika melakukan kesalahan.

Santri Moncongan Aktif dalam Tiga Ekstrakurikuler

Dzahratul Aini merupakan santri kelas VIII A SMP yang berasal dari Moncongan, Desa Bontomanai, Kecamatan Bungaya. Ia merupakan putri dari Ramli dan Murni, yang berprofesi sebagai petani.

Di lingkungan pesantren, Dzahratul Aini aktif mengikuti tiga kegiatan ekstrakurikuler, yakni Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Tapak Suci (TS), dan Hizbul Wathan (HW).

Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pengembangan diri santri, baik dalam aspek kedisiplinan, organisasi, kepemimpinan, maupun pembentukan karakter.

Kultum Melatih Keberanian dan Tanggung Jawab

Kultum ba’da Subuh juga menjadi ruang pembelajaran bagi santri untuk melatih kemampuan berbicara di depan jamaah. Santri mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan gagasan keislaman sekaligus belajar bertanggung jawab terhadap materi yang dibawakan.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan yang menghubungkan pemahaman agama dengan praktik komunikasi dan keberanian tampil di hadapan orang lain.

Melalui tema “Kebaikan dan Dosa”, Dzahratul Aini membawa pesan sederhana bahwa kehidupan seorang muslim perlu diarahkan pada perbuatan yang baik serta menjauhi tindakan yang dilarang.

Kultum Ba’da Subuh tersebut menjadi salah satu ruang pembinaan santri Darul Fallaah untuk memperkuat pemahaman keagamaan sekaligus membangun kebiasaan melakukan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

#HumasDF

Posting Komentar

0 Komentar