Muh. Ali Yahya Ingatkan Bahaya Berbicara Kotor

Ananda Muh. Ali Yahya, santri kelas VIII Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, saat menyampaikan kultum ba’da Magrib dengan tema “Bahayanya Berbicara Kotor”, Jumat (5/9/2026). 

BISSOLORO — Menutup aktivitas sore dengan penguatan nilai-nilai keislaman, Ananda Muh. Ali Yahya, santri kelas VIII Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, menyampaikan kultum ba’da Magrib pada Jumat, 5 September 2026. Dalam kultumnya, ia mengangkat tema “Bahayanya Berbicara Kotor”, mengajak para santri untuk menjaga lisan dan membiasakan komunikasi yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui materi yang disampaikan, Muh. Ali Yahya mengingatkan bahwa ucapan merupakan bagian penting dari akhlak seorang muslim. Perkataan yang kasar, kotor, menghina, atau menyakiti orang lain dapat menimbulkan dampak buruk, baik bagi diri sendiri maupun hubungan dengan sesama.

Karena itu, santri diajak untuk membiasakan berbicara dengan sopan, santun, dan bermanfaat, serta menghindari kata-kata yang tidak pantas meskipun disampaikan dalam suasana bercanda.

Menjaga Lisan, Menjaga Akhlak

Tema yang dibawakan Muh. Ali Yahya memiliki kaitan erat dengan kehidupan santri yang setiap hari hidup dan berinteraksi bersama.

Di lingkungan pesantren, kemampuan menjaga ucapan menjadi bagian dari pembentukan karakter. Santri tidak hanya dituntut memiliki pengetahuan yang baik, tetapi juga mampu menunjukkan akhlak melalui cara berbicara dan memperlakukan orang lain.

Kebiasaan berbicara dengan baik dapat menciptakan suasana pergaulan yang lebih nyaman. Sebaliknya, perkataan yang kasar atau kotor berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, menyakiti perasaan, bahkan merusak hubungan persaudaraan.

Karena itu, kultum tersebut menjadi pengingat sederhana bahwa menjaga lisan merupakan bagian dari menjaga diri dan menghormati orang lain.

Santri Asal Maros yang Aktif Berkegiatan

Muh. Ali Yahya merupakan putra dari Usman HS dan Serliana, yang berprofesi sebagai pijat refleksi. Ia berasal dari Maros dan kini menempuh pendidikan sebagai santri kelas VIII di Darul Fallaah.

Di luar kegiatan pembelajaran formal, Muh. Ali Yahya juga mengikuti kegiatan Tahfidz Al-Qur’an. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari proses pengembangan kemampuan keagamaan dan pembentukan karakter selama berada di pesantren.

Selain aktif dalam kegiatan keagamaan, ia juga telah menorehkan prestasi di bidang seni. Muh. Ali Yahya berhasil meraih Juara 2 Lomba Drama Pendek.

Prestasi tersebut menunjukkan bahwa ruang pengembangan santri di Darul Fallaah tidak hanya berfokus pada pembelajaran akademik, tetapi juga memberikan kesempatan untuk mengembangkan kreativitas dan bakat seni.

Kultum Melatih Keberanian Santri

Kegiatan kultum ba’da Magrib menjadi salah satu ruang pembinaan bagi santri untuk belajar menyampaikan pesan-pesan keislaman di hadapan jamaah.

Kesempatan tampil di depan orang lain melatih santri untuk membangun keberanian, mengatur penyampaian materi, berbicara secara terstruktur, dan menyampaikan pesan dengan bahasa yang mudah dipahami.

Bagi Muh. Ali Yahya, menyampaikan kultum juga menjadi pengalaman untuk mengembangkan kemampuan komunikasi sekaligus mengamalkan nilai yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan semacam ini diharapkan mampu membentuk santri yang tidak hanya memahami nilai-nilai agama, tetapi juga memiliki keberanian untuk menyampaikan kebaikan kepada orang lain.

Dari Mimbar Magrib, Belajar Menjaga Perkataan

Pesan yang disampaikan Muh. Ali Yahya menjadi pengingat bagi seluruh santri bahwa setiap perkataan memiliki dampak.

Dalam kehidupan bersama di pesantren, menjaga lisan menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang nyaman, saling menghargai, dan penuh persaudaraan.

Melalui kultum ba’da Magrib, Muh. Ali Yahya mengajak teman-temannya untuk membangun kebiasaan sederhana: berpikir sebelum berbicara, memilih kata yang baik, dan menggunakan lisan untuk menyampaikan kebaikan.

Dari mimbar ba’da Magrib, Muh. Ali Yahya mengingatkan: menjaga lisan bukan sekadar menjaga ucapan, tetapi juga menjaga akhlak, persaudaraan, dan keharmonisan kehidupan bersama.

Humas DF

Posting Komentar

0 Komentar