![]() |
| Ananda Muh. Fadil saat menyampaikan kultum ba’da salat Magrib bertema “Hikmah Menjadi Anak Rantau dalam Menuntut Ilmu” di Ponpes Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro. |
Bissoloro — Ananda Muh. Fadil, santri asal Maumere, menyampaikan kultum ba’da salat Magrib di Ponpes Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro dengan tema “Hikmah Menjadi Anak Rantau dalam Menuntut Ilmu.” Dalam kultumnya, Fadil mengajak para santri yang sedang menempuh pendidikan jauh dari keluarga untuk tetap semangat menjalani proses belajar dan mengingat kembali tujuan awal meninggalkan rumah.
Fadil menyampaikan bahwa menjadi anak rantau bukanlah perkara mudah. Jarak dari orang tua membuat seorang santri harus belajar hidup lebih mandiri, mengatur waktu, menjaga diri, serta menghadapi berbagai tantangan tanpa selalu mendapatkan pendampingan langsung dari keluarga.
Menurutnya, keputusan untuk meninggalkan rumah dan menuntut ilmu perlu dijalani dengan kesungguhan. Jarak dan rasa rindu kepada orang tua hendaknya tidak menjadi alasan untuk kehilangan semangat dalam belajar.
“Tetap semangat meskipun jauh dari orang tua. Ingat tujuan awal kita keluar rumah untuk mencari rida Allah,” menjadi pesan utama yang disampaikan Fadil dalam kultumnya.
Ia mengajak para santri untuk menjadikan pengalaman merantau sebagai proses pembentukan karakter. Hidup jauh dari keluarga dapat mengajarkan kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kemampuan untuk menyelesaikan persoalan secara lebih dewasa.
Selain itu, Fadil mengingatkan bahwa perjuangan menuntut ilmu membutuhkan kesabaran dan keikhlasan. Setiap kesulitan yang dihadapi selama berada di pesantren dapat menjadi bagian dari proses untuk mencapai tujuan pendidikan dan memperoleh keberkahan ilmu.
Kultum ba’da Magrib tersebut menjadi bagian dari kegiatan pembinaan keagamaan di Ponpes Darul Fallaah. Melalui kegiatan ini, santri tidak hanya mendapatkan penguatan nilai-nilai keislaman, tetapi juga diberi kesempatan untuk melatih kemampuan berbicara, menyampaikan gagasan, dan tampil di hadapan jamaah.
Muh. Fadil merupakan putra dari Harianto, yang berprofesi sebagai nelayan, dan berasal dari Maumere. Sebagai santri yang menempuh pendidikan jauh dari keluarga, pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan pendidikan sekaligus pembentukan kemandiriannya.
Di lingkungan organisasi santri, Fadil dipercaya sebagai OSIP periode 2026/2027 pada bidang Agama dan Kebahasaan. Ia juga aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler kaligrafi dan Hizbul Wathan (HW).
Keterlibatan dalam organisasi dan ekstrakurikuler memberikan ruang bagi Fadil untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan, keagamaan, kebahasaan, serta keterampilan seni. Pengalaman tersebut sekaligus melengkapi proses pendidikan yang dijalaninya di pesantren.
Melalui kultum bertema “Hikmah Menjadi Anak Rantau dalam Menuntut Ilmu,” Fadil mengajak para santri perantau untuk tidak larut dalam rasa rindu dan kesulitan. Jauh dari orang tua hendaknya dipandang sebagai kesempatan untuk belajar mandiri sekaligus memperjuangkan cita-cita melalui jalan pendidikan.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan santri Darul Fallaah yang memadukan pendidikan keagamaan, karakter, kepemimpinan, dan pengembangan potensi. Perjalanan menuntut ilmu diharapkan menjadi bekal bagi santri untuk tumbuh sebagai pribadi yang mandiri, berakhlak, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Humas DF

0 Komentar