![]() |
| Ananda Nia Farmila, santri kelas X MA Darul Fallaah Bissoloro, saat menyampaikan kultum ba’da Subuh dengan tema “Tolong Menolong dalam Kebaikan”, Sabtu (6/9/2026). |
BISSOLORO — Mengawali pagi dengan penguatan nilai-nilai keislaman, Ananda Nia Farmila, santri kelas X MA Darul Fallaah Bissoloro, menyampaikan kultum ba’da Subuh pada Sabtu, 6 September 2026. Dalam kesempatan tersebut, Nia mengangkat tema “Tolong Menolong dalam Kebaikan”, sebuah pesan yang mengajak santri untuk membangun kepedulian dan membiasakan diri saling membantu dalam hal-hal yang diridai Allah SWT.
Melalui kultum tersebut, Nia mengajak sesama santri memahami bahwa tolong-menolong merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang muslim. Sikap saling membantu tidak hanya diwujudkan dalam perkara besar, tetapi juga melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti membantu teman, berbagi pengetahuan, menjaga kebersihan, menguatkan ketika menghadapi kesulitan, serta mengingatkan dalam kebaikan.
Menjadikan Kebaikan sebagai Kebiasaan
Pesan yang disampaikan Nia menekankan bahwa lingkungan pesantren merupakan tempat yang tepat untuk membangun kebiasaan saling menolong. Kehidupan bersama dengan sesama santri menuntut adanya kepedulian, kerja sama, dan rasa tanggung jawab.
Tolong-menolong dalam kebaikan juga berarti saling menguatkan untuk melakukan hal yang positif dan menghindari perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Bagi santri, nilai tersebut dapat diterapkan dalam berbagai aktivitas, mulai dari kegiatan belajar, ibadah berjamaah, kebersihan lingkungan, kegiatan organisasi, hingga aktivitas kepesantrenan lainnya.
Dengan membiasakan diri membantu dalam kebaikan, santri tidak hanya belajar menjadi pribadi yang mandiri, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan orang-orang di sekitarnya.
Santri Asal Maumere yang Aktif dan Berprestasi
Nia Farmila merupakan santri asal Maumere, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia merupakan putri dari Mahding dan Bayati, yang berprofesi sebagai petani.
Menempuh pendidikan di Darul Fallaah, Nia aktif mengembangkan potensi dirinya melalui kegiatan organisasi dan kepanduan. Ia tercatat aktif dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan Hizbul Wathan (HW).
Keterlibatan tersebut menjadi ruang bagi Nia untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kedisiplinan, kerja sama, serta keberanian tampil di hadapan orang lain.
Potensi tersebut juga terlihat dari sejumlah prestasi yang telah diraihnya.
Pada Semarak Ramadan di Desa Samparong, Maumere, tahun 2025, Nia berhasil meraih Juara 3 Lomba Ceramah dan Juara 2 Lomba Puisi.
Prestasi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan santri tidak hanya berkembang dalam bidang akademik, tetapi juga dalam bidang dakwah dan sastra.
Kultum sebagai Latihan Berdakwah
Kegiatan kultum ba’da Subuh menjadi salah satu sarana pembinaan yang memberikan kesempatan kepada santri untuk menyampaikan gagasan dan pesan keislaman secara langsung.
Bagi Nia, kesempatan tersebut menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan berbicara sekaligus mengasah keberanian dalam menyampaikan pesan kepada sesama santri.
Kegiatan ini juga mengajarkan santri untuk mempersiapkan materi, menyusun gagasan, berbicara secara sistematis, serta mempertanggungjawabkan pesan yang disampaikan.
Dengan demikian, kultum tidak hanya menjadi aktivitas keagamaan, tetapi juga bagian dari proses pendidikan karakter dan pengembangan kemampuan komunikasi santri.
Dari Maumere ke Bissoloro, Tumbuh Menjadi Santri Berdaya
Perjalanan Nia dari Maumere untuk menempuh pendidikan di Darul Fallaah Bissoloro menjadi bagian dari dinamika kehidupan santri yang datang dari berbagai daerah.
Di pesantren, ia tidak hanya mendapatkan pendidikan formal, tetapi juga memperoleh pengalaman melalui organisasi, kepanduan, dakwah, dan berbagai kegiatan pengembangan diri.
Kultum dengan tema “Tolong Menolong dalam Kebaikan” menjadi salah satu bentuk bagaimana nilai-nilai tersebut dihidupkan dalam keseharian santri.
Pesan yang disampaikan Nia juga menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan di pesantren tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari tumbuhnya karakter peduli, suka membantu, mampu bekerja sama, dan memiliki keberanian untuk mengajak kepada kebaikan.
Dari mimbar ba’da Subuh, Nia Farmila mengajak sesama santri untuk menjadikan tolong-menolong sebagai budaya—saling membantu dalam kebaikan, saling menguatkan dalam perjuangan, dan bersama-sama tumbuh menjadi generasi yang bermanfaat.

0 Komentar