![]() |
| Ananda Nur Hidayah Ramadani, santri kelas XI SMK Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, saat menyampaikan kultum ba’da Subuh bertema “Pentingnya Sifat Amanah”, Kamis (3/9/2026) |
BISSOLORO — Mengawali aktivitas pagi dengan penguatan nilai-nilai keislaman, Ananda Nur Hidayah Ramadani, santri kelas XI SMK Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, menyampaikan kultum ba’da Subuh pada Kamis, 3 September 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia mengangkat tema “Pentingnya Sifat Amanah”, mengajak para santri untuk memahami dan membiasakan sikap dapat dipercaya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam penyampaiannya, Nur Hidayah mengingatkan bahwa amanah merupakan salah satu sifat penting yang harus dimiliki seorang muslim. Amanah tidak hanya berkaitan dengan tanggung jawab besar, tetapi juga tercermin melalui hal-hal sederhana, seperti menjaga kepercayaan, melaksanakan tugas dengan sungguh-sungguh, menjaga titipan, berkata jujur, serta menyelesaikan tanggung jawab yang telah diberikan.
Amanah Dimulai dari Hal Sederhana
Di lingkungan pesantren, sifat amanah memiliki posisi penting karena kehidupan santri tidak terlepas dari berbagai bentuk tanggung jawab. Mulai dari mengikuti pembelajaran, menjalankan tugas kebersihan, menjaga barang milik bersama, menaati aturan, hingga menjalankan tugas organisasi.
Melalui tema tersebut, Nur Hidayah mengajak teman-temannya untuk tidak menganggap amanah sebagai sesuatu yang berat. Sebaliknya, sifat amanah dapat dimulai dari kemampuan menjalankan tugas-tugas sederhana secara konsisten.
Seseorang yang terbiasa menjaga amanah akan lebih mudah mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Sebaliknya, ketika kepercayaan disia-siakan, hubungan dengan sesama dapat terganggu dan tanggung jawab yang diberikan menjadi tidak terlaksana dengan baik.
Karena itu, membangun sifat amanah sejak menjadi santri menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi yang memiliki karakter kuat dan bertanggung jawab.
Santri Produktif dengan Beragam Prestasi
Nur Hidayah Ramadani merupakan santri asal Taeng, Pallangga. Ia merupakan putri dari Ernawati, seorang ibu rumah tangga.
Selain mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas, Nur Hidayah aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan diri di lingkungan pesantren. Ia mengikuti sejumlah ekstrakurikuler, yakni Hizbul Wathan (HW), Tapak Suci, Kaligrafi, dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).
Aktivitas tersebut memberikan ruang bagi dirinya untuk mengembangkan kemampuan dalam bidang kepanduan, bela diri, seni, kepemimpinan, dan organisasi.
Produktivitasnya juga terlihat dari sejumlah capaian yang telah diraih. Nur Hidayah tercatat sebagai penulis buku Ketika Santri Berkisah, sebuah pengalaman yang menunjukkan kemampuannya dalam bidang literasi dan kepenulisan.
Ia juga berhasil meraih Juara 3 Lomba Cerpen Semarak 17 Agustus 2026 serta Juara 3 Parade SmaHF ORE Hizbul Wathan.
Berbagai aktivitas dan prestasi tersebut memperlihatkan bahwa santri dapat mengembangkan potensi melalui berbagai bidang, sekaligus tetap menjalankan proses pendidikan dan pembinaan di pesantren.
Kultum sebagai Ruang Mengembangkan Literasi dan Komunikasi
Kegiatan kultum ba’da Subuh menjadi salah satu sarana pembinaan santri Darul Fallaah dalam mengembangkan kemampuan komunikasi dan keberanian menyampaikan gagasan.
Bagi Nur Hidayah, pengalaman sebagai penulis juga menjadi bekal dalam menyusun materi dan menyampaikan pesan secara terstruktur. Kemampuan literasi yang dipadukan dengan pengalaman berorganisasi memberikan ruang bagi santri untuk mengembangkan kemampuan berbicara di hadapan jamaah.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk pembelajaran praktis. Santri belajar tidak hanya memahami materi keagamaan, tetapi juga menyampaikannya dengan bahasa yang mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Amanah sebagai Bekal Kepemimpinan
Sifat amanah juga memiliki kaitan erat dengan kepemimpinan. Seorang pemimpin harus mampu menjalankan kepercayaan dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Bagi santri yang aktif dalam organisasi seperti IPM dan HW, nilai amanah menjadi semakin penting. Setiap tugas organisasi membutuhkan komitmen, kedisiplinan, dan kesediaan untuk bertanggung jawab terhadap keputusan maupun pekerjaan yang telah dipercayakan.
Karena itu, pembiasaan amanah di lingkungan pesantren diharapkan dapat menjadi bekal bagi santri ketika kelak terlibat dalam kehidupan masyarakat.
Santri tidak hanya diharapkan menjadi pribadi yang cerdas, tetapi juga dapat dipercaya, bertanggung jawab, jujur, dan mampu menjalankan tugas dengan baik.
Dari Mimbar Subuh, Menanamkan Karakter
Kultum yang disampaikan Nur Hidayah menjadi bagian dari proses pembinaan karakter yang terus dilakukan di Darul Fallaah.
Pesan tentang amanah menjadi relevan dengan kehidupan santri yang setiap hari belajar hidup bersama, berbagi tanggung jawab, mengikuti aturan, dan menjalankan berbagai tugas kepesantrenan.
Dari kegiatan sederhana tersebut, nilai-nilai Islam diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan.
Dari mimbar ba’da Subuh, Nur Hidayah Ramadani mengajak santri untuk menjaga setiap kepercayaan, menunaikan setiap tanggung jawab, dan menjadikan amanah sebagai bagian dari karakter dalam kehidupan.

0 Komentar