| Santri kelas X MA Darul Fallaah Unismuh Makassar, Dea Cinta Dewi, saat menyampaikan kultum ba’da Subuh bertema “Sudah Siapkah Menghadapi Kematian?”, Ahad (20/9/2026). |
BISSOLORO — Santri kelas X MA Darul Fallaah Unismuh Makassar, Dea Cinta Dewi, menyampaikan kultum ba’da Subuh dengan mengangkat tema “Sudah Siapkah Menghadapi Kematian?” di lingkungan Pondok Pesantren Darul Fallaah, Bissoloro, Kabupaten Gowa, Ahad (20/9/2026).
Dalam kultumnya, Dea mengajak para santri untuk menjadikan kematian sebagai bagian dari renungan dalam menjalani kehidupan. Menurutnya, kematian merupakan kepastian yang akan dialami setiap manusia, sementara waktu dan tempat datangnya tidak diketahui.
Karena itu, kesiapan menghadapi kematian tidak cukup hanya dengan memikirkan kapan ajal akan tiba. Kesiapan tersebut perlu diwujudkan melalui amal kebaikan, ibadah, memperbaiki akhlak, serta menjalankan tanggung jawab sebagai seorang Muslim.
Mengisi Waktu dengan Amal Kebaikan
Dea mengingatkan bahwa kehidupan di dunia merupakan kesempatan untuk mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat. Setiap waktu yang dimiliki dapat diisi dengan aktivitas yang bernilai ibadah dan memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
Bagi santri, persiapan tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menjaga shalat, membaca dan mempelajari Al-Qur’an, menghormati guru dan pembina, berbakti kepada orang tua, menjaga hubungan dengan sesama, serta bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.
Tema tersebut juga menjadi momentum bagi para santri untuk melakukan muhasabah, yakni mengevaluasi kembali perjalanan diri dan memperbaiki kekurangan yang masih ada.
Pertanyaan “Sudah siapkah menghadapi kematian?” tidak hanya menjadi pertanyaan tentang akhir kehidupan, tetapi juga menjadi dorongan untuk melihat sejauh mana seseorang telah memanfaatkan kehidupan yang diberikan Allah.
Kultum Melatih Keberanian dan Komunikasi Santri
Kegiatan kultum ba’da Subuh menjadi salah satu ruang pembinaan santri Darul Fallaah. Melalui kegiatan ini, santri tidak hanya belajar menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga dilatih untuk berbicara di hadapan jamaah dengan percaya diri dan terarah.
Dea Cinta Dewi merupakan santri kelas X MA yang berasal dari Maumere. Ia merupakan putri dari Ridwan dan Waramja, yang bekerja sebagai nelayan. Di lingkungan pesantren, Dea juga aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan (HW).
Keterlibatan dalam HW menjadi salah satu ruang bagi Dea untuk mengembangkan kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, dan keberanian. Nilai-nilai tersebut turut mendukung proses pembinaan santri dalam berbagai kegiatan pesantren.
Melalui kultum bertema kematian, Dea menyampaikan pesan bahwa kehidupan perlu dijalani dengan kesadaran bahwa setiap manusia memiliki batas waktu. Karena itu, kesempatan belajar, beribadah, berbuat baik, dan memperbaiki diri sebaiknya tidak ditunda.
Kegiatan kultum ba’da Subuh tersebut sekaligus menjadi bagian dari pembiasaan santri Darul Fallaah untuk menghidupkan suasana keilmuan dan keagamaan sejak pagi hari.
Profil Santri
Nama: Dea Cinta Dewi
Kelas: X MA
Orang Tua: Ridwan & Waramja
Pekerjaan Orang Tua: Nelayan
Asal: Maumere
Ekstrakurikuler: Hizbul Wathan (HW)
Judul Kultum: Sudah Siapkah Menghadapi Kematian?
Waktu: Ahad, 20 September 2026
#HumasDF
0 Komentar