Shalat Dhuha Jadi Bagian dari The Nine Golden Habits Darul Fallaah

Santri Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar melaksanakan Shalat Dhuha sebagai bagian dari pembiasaan ibadah dan The Nine Golden Habits, Sabtu (19/9/2026).

BISSOLORO — Shalat Dhuha menjadi bagian dari rutinitas pembinaan keagamaan santri Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar, Sabtu (19/9/2026). Pembiasaan ini diarahkan untuk membangun kedisiplinan ibadah sekaligus memperkuat karakter santri dalam menjalani kehidupan sehari-hari di pesantren.

Pelaksanaan Shalat Dhuha tidak sekadar dipandang sebagai aktivitas ibadah sunnah, tetapi menjadi bagian dari proses pendidikan yang dilakukan secara konsisten. Melalui pembiasaan tersebut, santri dilatih untuk mampu mengatur waktu, menjaga komitmen beribadah, dan membangun kesadaran bahwa aktivitas belajar perlu berjalan seiring dengan penguatan spiritual.

Direktur: Kebiasaan Baik Harus Dibangun Secara Konsisten

Direktur Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar, Dr. Dahlan Lama Bawa, M.Ag., menekankan bahwa pembinaan santri di pesantren perlu dilakukan melalui kebiasaan yang konkret dan dilaksanakan secara berkelanjutan.

Menurutnya, Shalat Dhuha merupakan salah satu bentuk pembiasaan yang diharapkan dapat membangun kesadaran santri terhadap pentingnya menjaga hubungan dengan Allah SWT di tengah berbagai aktivitas pendidikan.

“Shalat Dhuha kita tempatkan sebagai bagian dari pembiasaan. Anak-anak tidak cukup hanya mengetahui bahwa Shalat Dhuha itu sunnah, tetapi mereka perlu dibiasakan melaksanakannya. Dari kebiasaan yang dilakukan terus-menerus, insyaallah akan tumbuh kesadaran dan karakter yang baik,” ujar Dr. Dahlan.

Ia menjelaskan, pendidikan pesantren tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan akademik santri. Lebih dari itu, pesantren memiliki tanggung jawab membentuk pribadi yang memiliki keseimbangan antara ilmu, ibadah, akhlak, kedisiplinan, dan kemandirian.

Karena itu, berbagai rutinitas keagamaan yang diterapkan di pesantren harus dipahami sebagai bagian dari sistem pembinaan.

“Kita ingin santri Darul Fallaah tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga memiliki kebiasaan ibadah, akhlak dan kedisiplinan. Hal-hal sederhana seperti Shalat Dhuha, jika dilakukan dengan kesadaran dan konsisten, akan menjadi bekal penting bagi kehidupan mereka,” lanjutnya.

Dr. Dahlan juga mengingatkan agar kegiatan pembiasaan tidak berhenti pada pelaksanaan secara formal. Nilai yang terkandung di dalamnya perlu diterjemahkan dalam perilaku santri sehari-hari.

Menurutnya, kedisiplinan dalam beribadah diharapkan beriringan dengan kedisiplinan belajar, menjaga kebersihan, menghormati guru dan pembina, serta membangun hubungan yang baik dengan sesama santri.

Kepala Asrama: Pembiasaan Membentuk Kedisiplinan Santri

Sementara itu, Kepala Asrama Darul Fallaah, K.M. Muh. Salim, S.Pd.I., menjelaskan bahwa rutinitas ibadah menjadi bagian penting dalam kehidupan santri selama berada di asrama.

Menurutnya, kehidupan asrama memberikan ruang yang luas untuk membangun kebiasaan melalui aktivitas yang dilakukan secara berulang dan terarah. Shalat Dhuha menjadi salah satu aktivitas yang diarahkan untuk membantu santri membangun kedisiplinan dalam mengatur waktu ibadah.

“Di asrama, kita tidak hanya mengatur aktivitas santri, tetapi juga berusaha membangun kebiasaan. Shalat Dhuha menjadi salah satu pembiasaan agar santri terbiasa meluangkan waktu untuk beribadah di tengah aktivitas mereka,” jelas K.M. Muh. Salim.

Ia menambahkan, pembinaan melalui kebiasaan membutuhkan keteladanan, pendampingan, dan konsistensi. Santri perlu diberikan pemahaman mengenai alasan setiap kegiatan dilakukan sehingga mereka tidak sekadar menjalankan rutinitas karena aturan.

“Yang kita harapkan bukan hanya santri hadir dan melaksanakan Shalat Dhuha, tetapi mereka memahami maknanya. Kalau sudah menjadi kesadaran, kebiasaan itu akan lebih mudah mereka bawa ketika nanti kembali ke keluarga dan hidup di tengah masyarakat,” katanya.

Kepala Asrama juga menilai bahwa rutinitas ibadah dapat membantu menciptakan suasana kehidupan pesantren yang lebih tertib. Santri belajar membagi waktu antara ibadah, belajar, istirahat, kegiatan organisasi, kebersihan, dan aktivitas lainnya.

Bagian dari The Nine Golden Habits

Shalat Dhuha merupakan bagian dari The Nine Golden Habits yang diterapkan dalam pembinaan santri Darul Fallaah.

Pada kebiasaan pertama, santri diarahkan untuk melaksanakan shalat lima waktu tepat waktu secara berjamaah, diiringi shalat sunat rawatib, shalat lail, dan Shalat Dhuha.

Konsep tersebut menunjukkan bahwa pembinaan karakter di pesantren dibangun melalui rutinitas yang terstruktur. Santri tidak hanya mendapatkan materi keagamaan dalam pembelajaran dan kajian, tetapi juga diberi ruang untuk mempraktikkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Konsistensi menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Sebab, karakter tidak terbentuk hanya melalui satu kali kegiatan, melainkan melalui kebiasaan yang dilakukan secara berulang hingga menjadi bagian dari pola hidup.

Shalat Dhuha dan Pendidikan Karakter

Dalam konteks pendidikan pesantren, Shalat Dhuha memiliki dimensi pembinaan yang lebih luas. Santri belajar mengalokasikan waktu khusus untuk ibadah, menjaga keteraturan aktivitas, serta membangun kesadaran spiritual sebelum menjalani rangkaian kegiatan berikutnya.

Pembiasaan ini juga menjadi bagian dari ikhtiar Darul Fallaah untuk membangun santri yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki karakter dan kehidupan keagamaan yang kuat.

Dengan demikian, Shalat Dhuha pada Sabtu (19/9/2026) menjadi bagian dari rangkaian pembinaan yang terus dihidupkan di lingkungan pesantren. Dari aktivitas yang sederhana dan dilakukan secara konsisten, diharapkan tumbuh kebiasaan baik yang kemudian berkembang menjadi karakter dan nilai hidup santri.

#HumasDF

Posting Komentar

0 Komentar