Sepuluh santri Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro mengikuti lomba Jelajah Alam dan Tali Temali dalam KSMN II di Bumi Perkemahan Coban Rondo, Malang, Rabu (23/9/2026). |
MALANG — Dari Bissoloro, Kabupaten Gowa, 10 santri Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar membawa semangat kepesantrenan ke panggung nasional melalui lomba Jelajah Alam dan Tali Temali dalam Kemah Santri Muhammadiyah Nasional (KSMN) II di Bumi Perkemahan Coban Rondo, Malang, Jawa Timur, Rabu (23/9/2026).
Rangkaian perlombaan berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Kegiatan ini menjadi salah satu arena yang menguji kemampuan santri dalam menghadapi tantangan alam terbuka, sekaligus melatih ketangkasan, ketelitian, kedisiplinan, kekompakan, dan kemampuan bekerja sama.
Sepuluh santri yang mengikuti rangkaian lomba tersebut ialah Dina Alvita, Nur Azizah Salsabila, Ayyatul Husna, Nur Hikmah Ramadhani, Muli, Dian Maghfira Aswad, Siti Salisa Turrohmah, Miftahul Chair Roni, Nur Kumala Sari, dan Nurul Amirah Alfaizah.
Kehadiran mereka melengkapi partisipasi Darul Fallaah dalam berbagai cabang KSMN II, yang mencakup kompetisi keislaman, kepanduan, keterampilan, hingga aktivitas di alam terbuka. Secara umum, KSMN II memang dirancang sebagai ruang bagi santri untuk berbagi ilmu, pengalaman, dan keterampilan antarpesantren Muhammadiyah dari berbagai daerah.
Bukan Sekadar Menjelajah Alam
Jelajah Alam dan Tali Temali menghadirkan tantangan yang berbeda dibandingkan lomba akademik. Peserta tidak hanya dituntut memahami instruksi, tetapi juga mampu menjaga koordinasi, ketahanan fisik, konsentrasi, serta menyelesaikan tugas secara bersama-sama.
Bagi santri Darul Fallaah, pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk mempraktikkan nilai-nilai yang selama ini dibangun dalam kehidupan pesantren.
Kedisiplinan diperlukan untuk mengikuti setiap tahapan kegiatan. Ketelitian dibutuhkan dalam menyelesaikan tugas tali-temali. Sementara dalam jelajah alam, kekompakan dan komunikasi menjadi bagian penting agar seluruh anggota dapat menjalani tantangan secara bersama.
Karena itu, pengalaman di Coban Rondo tidak berhenti pada persoalan hasil perlombaan. Setiap tahapan menjadi proses pembelajaran yang mempertemukan santri dengan pengalaman baru dan peserta dari berbagai daerah.
Santri Belajar dari Tantangan
Pendamping KSMN II Darul Fallaah, Uly Eka Saputri, melihat keterlibatan santri dalam Jelajah Alam dan Tali Temali sebagai bagian penting dari proses pembentukan pengalaman dan karakter.
Menurut Uly Eka Saputri, kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada santri untuk menguji kemampuan mereka secara langsung di lapangan. Tantangan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan keterampilan teknis, tetapi juga bagaimana peserta menjaga kekompakan, mengikuti arahan, mengatur tenaga, dan menyelesaikan tugas sebagai sebuah tim.
Ia juga menempatkan pengalaman KSMN II sebagai bagian dari pembelajaran yang dapat dibawa pulang ke Darul Fallaah. Bertemu dengan santri dari berbagai pesantren dan daerah memberikan wawasan baru sekaligus memperluas pengalaman para peserta.
Bagi pendamping, proses tersebut sama pentingnya dengan hasil lomba. Santri diharapkan mampu mengambil pelajaran dari setiap tantangan, baik ketika berhasil menyelesaikan tugas maupun ketika menghadapi kesulitan selama perlombaan.
Pengalaman Nasional Menjadi Bekal Santri
Direktur Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Dr. Dahlan Lama Bawa, M.Ag., memberikan perhatian terhadap keikutsertaan santri dalam berbagai cabang lomba KSMN II.
Menurutnya, keikutsertaan santri dalam kegiatan nasional seperti KSMN II merupakan bagian dari proses pendidikan yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Santri perlu mendapatkan pengalaman berkompetisi, berinteraksi, bekerja sama, sekaligus menghadapi tantangan secara langsung.
Dr. Dahlan menilai kegiatan Jelajah Alam dan Tali Temali memiliki nilai pendidikan tersendiri karena mendorong santri untuk membangun kedisiplinan, ketahanan, keberanian, ketelitian, dan kerja sama.
Ia juga menekankan bahwa pengalaman yang diperoleh selama KSMN II hendaknya tidak berhenti di Coban Rondo. Para santri diharapkan membawa pengalaman tersebut kembali ke lingkungan pesantren dan menjadikannya sebagai bekal untuk meningkatkan kemampuan diri.
Bagi Darul Fallaah, lanjutnya, keberangkatan santri ke panggung nasional bukan hanya tentang membawa nama pesantren dalam perlombaan. Lebih jauh, momentum tersebut menjadi ruang untuk memperluas wawasan, membangun jejaring persaudaraan, serta mengukur kemampuan santri melalui pengalaman bersama peserta dari berbagai daerah.
Dari Bissoloro, Membawa Semangat ke Panggung Nasional
Kehadiran 10 santri Darul Fallaah dalam Jelajah Alam dan Tali Temali memperlihatkan bahwa pembinaan santri mencakup berbagai dimensi. Kemampuan keislaman berjalan bersama dengan pembentukan karakter, keterampilan, kedisiplinan, dan kerja sama.
Dari lingkungan pesantren di Bissoloro menuju kawasan alam Coban Rondo, para santri mendapatkan pengalaman yang tidak setiap hari mereka temui. Mereka belajar menghadapi tantangan, menjaga kekompakan, dan beradaptasi dalam suasana kompetisi nasional.
KSMN II pun menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan santri Muhammadiyah dari berbagai wilayah Indonesia. Di tengah kompetisi, tumbuh pula pengalaman persaudaraan, pertukaran wawasan, dan semangat untuk terus berkembang.
Bagi Darul Fallaah, setiap cabang lomba menjadi bagian dari perjalanan pendidikan santri. Bukan hanya tentang siapa yang menjadi pemenang, tetapi tentang bagaimana santri pulang membawa pengalaman, keterampilan, dan semangat baru untuk terus bertumbuh.
0 Komentar