| Santri Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar mengikuti Halaqah Al-Qur’an ba’da shalat Subuh, Kamis (17/9/2026), sebagai bagian dari pembiasaan kehidupan Qur’ani di lingkungan pesantren. |
BISSOLORO — Pembiasaan membaca dan mempelajari Al-Qur’an kembali menjadi bagian dari aktivitas harian santri Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa. Kamis, 17 September 2026, santri mengikuti Halaqah Al-Qur’an ba’da shalat Subuh sebagai bagian dari pembinaan keagamaan di lingkungan pesantren.
Halaqah dilaksanakan setelah shalat Subuh dengan suasana yang tenang dan tertib. Santri mengikuti kegiatan secara berkelompok untuk memperdalam kemampuan membaca Al-Qur’an sekaligus membangun kebiasaan berinteraksi dengan Al-Qur’an sejak pagi hari.
Kegiatan ini tidak hanya diarahkan pada kemampuan membaca secara lancar, tetapi juga menjadi ruang pembinaan agar santri semakin memperhatikan ketepatan bacaan, pelafalan huruf, serta penerapan kaidah membaca Al-Qur’an.
Membentuk Kebiasaan Qur’ani
Halaqah Al-Qur’an menjadi salah satu aktivitas penting dalam kehidupan santri Darul Fallaah. Rutinitas yang ditempatkan setelah shalat Subuh memberikan kesempatan kepada santri untuk mengawali aktivitas harian dengan kegiatan yang bernilai ibadah dan pembelajaran.
Melalui pembiasaan tersebut, pesantren berupaya menjadikan Al-Qur’an tidak sekadar dipelajari dalam pembelajaran formal, tetapi juga hadir dalam keseharian santri.
Direktur Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Dr. Dahlan Lama Bawa, M.Ag., menekankan bahwa pembinaan santri perlu dibangun melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.
Menurutnya, kedekatan santri dengan Al-Qur’an perlu ditanamkan melalui rutinitas, sehingga membaca dan mempelajari Al-Qur’an menjadi bagian dari karakter dan kehidupan mereka.
“Pembiasaan seperti halaqah Al-Qur’an perlu dilakukan secara konsisten. Harapannya, santri tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, tetapi juga tumbuh kecintaan untuk terus mempelajari dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Dari Subuh Menjadi Bekal Sehari-hari
Halaqah ba’da Subuh juga menjadi bagian dari upaya pesantren membangun pola kehidupan santri yang teratur. Setelah menunaikan ibadah Subuh, santri diarahkan untuk melanjutkan waktu pagi dengan aktivitas pembinaan sebelum memasuki rangkaian kegiatan pendidikan berikutnya.
Rutinitas tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan pesantren berlangsung tidak hanya melalui proses belajar di ruang kelas, tetapi juga melalui pembiasaan ibadah, kedisiplinan, dan interaksi langsung dengan Al-Qur’an.
Dengan berlangsung secara rutin, Halaqah Al-Qur’an diharapkan dapat memperkuat kemampuan baca Al-Qur’an sekaligus membentuk karakter santri yang dekat dengan nilai-nilai keislaman.
Bagi Darul Fallaah, pembiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari menjadi bagian dari proses panjang membentuk santri yang memiliki fondasi keagamaan, kedisiplinan, dan kecintaan terhadap ilmu.
0 Komentar