Dua Dasawarsa Darul Fallaah: Dari Merintis Jalan Lurus Menuju Pesantren Unggul dan Mandiri

Dr. Dahlan Lama Bawa ungkap perjalanan Ponpes Darul Fallaah dari membuka akses pendidikan hingga menyiapkan kemandirian ekonomi

BISSOOLORO – Memasuki usia 20 tahun, Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro meneguhkan arah baru perjalanan lembaga: menuju pesantren yang unggul secara akademik dan mandiri secara ekonomi.


Hal tersebut disampaikan Direktur Ponpes Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Dr. Dahlan Lama Bawa, S.Ag., M.Ag., dalam Pidato Milad ke-20 pada Resepsi Milad, Rabu (12/8/2026).


Dalam pidatonya, Dahlan menguraikan perjalanan Darul Fallaah dalam tiga dasawarsa. Menurutnya, sejak awal pendirian, pesantren dibangun dengan semangat membuka akses pendidikan bagi masyarakat Bissoloro dan sekitarnya, memberikan santunan pendidikan bagi yatim dan dhuafa sebagai implementasi misi Al-Ma'un, serta menjadi bagian dari ikhtiar membentengi masyarakat dari gerakan Kristenisasi yang disebutnya berpusat di kawasan segitiga emas Bontolempangan.


Berawal dari Keterbatasan


Dahlan menjelaskan, gagasan pendirian Ponpes Darul Fallaah dimulai pada 2006. Namun, pesantren belum langsung menerima santri karena saat itu belum memiliki gedung. Penerimaan santri baru dimulai pada 2007.


Dasawarsa pertama, 2006–2016, disebut sebagai fase “merintis jalan lurus.” Fokus utama periode ini adalah penguatan akidah umat di tengah kondisi masyarakat yang sebelumnya masih dipengaruhi praktik yang dalam pidatonya disebut TBC, animisme, dan dinamisme.


Memasuki dasawarsa kedua, 2016–2026, Darul Fallaah memasuki fase “mewujudkan pondok biasa menjadi luar biasa.”


Menurut Dahlan, fase tersebut dijalani dengan prinsip terus menemukan jalan baru sembari menjalankan proses pembangunan.

“Sambil berjalan menemukan jalan baru, sambil membuat perahu sambil berlayar,” demikian gambaran yang disampaikan Dahlan mengenai proses perjalanan Darul Fallaah.


Keterbatasan sumber daya tidak menghentikan pembangunan pesantren. Ia mengakui terdapat masa ketika pesantren mengalami keterbatasan secara kuantitatif, tetapi tetap berupaya mempertahankan optimisme dan kebahagiaan dalam menjalankan pengabdian.


Pembangunan dilakukan melalui swadaya murni, antara lain dengan menggalang amal, melelang buku, hingga memanfaatkan kebun dan hasil pertanian seperti jagung untuk mendukung kebutuhan pembangunan.


Dari Infaq hingga Pembangunan Masjid Al-Aqabah


Dalam pidatonya, Dahlan juga mengungkapkan peran berbagai pihak dalam perjalanan pembangunan Ponpes Darul Fallaah.


Salah satunya melalui infaq warga Bissoloro, serta kontribusi pimpinan, dosen, dan staf Unismuh. Dana tersebut digunakan untuk mendukung pembangunan pesantren.


Sementara kebutuhan makan dan minum santri diupayakan melalui berbagai usaha untuk memperoleh rezeki yang halal, termasuk menanam padi dan sayuran serta mengembangkan gerakan GJTS.


Pada periode kepemimpinan Rektor Unismuh Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag. dan Dr. Ir. H. Abd. Rakhim Nanda, S.T., M.T., IPU., Dahlan menyebut pembangunan di lingkungan Ponpes Darul Fallaah mulai mendapat dukungan melalui penganggaran dalam APB Unismuh, termasuk untuk pembangunan Masjid Al-Aqabah dan fasilitas lainnya.


Sebelumnya, Badan Pembina Harian (BPH) juga telah membangun Masjid Al-Aqabah pertama, rumah dinas, dan kantor SMP.


Rangkaian dukungan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang pembangunan fisik dan kelembagaan Darul Fallaah.


Dasawarsa Ketiga: Unggul dan Mandiri

Memasuki periode 2026–2036, Darul Fallaah menetapkan arah baru: “Menuju Unggul dan Mandiri.”


Dahlan menjelaskan, unggul yang dimaksud terutama diarahkan pada keunggulan akademik, sedangkan mandiri diarahkan pada kemandirian ekonomi.


Untuk mencapai keunggulan akademik, menurutnya, dibutuhkan sumber daya manusia yang memiliki komitmen terhadap SOP yang telah ditetapkan. Sementara untuk mencapai kemandirian ekonomi, pesantren perlu memberikan perhatian serius terhadap pengelolaan aset.


Arah tersebut menunjukkan adanya pergeseran orientasi dari sekadar membangun dan mempertahankan lembaga menuju penguatan sistem kelembagaan yang lebih terukur dan berkelanjutan.


Membangun Atmosfer Akademik


Dalam pidatonya, Dahlan juga menjelaskan upaya membangun atmosfer akademik melalui penerapan konsep Rukun Pesantren atau Arkanul Ma'had.


Konsep tersebut mencakup tiga unsur utama, yakni pembelajaran, pembinaan, dan pelayanan.


Pada aspek pembelajaran, Ponpes Darul Fallaah mengembangkan satuan pendidikan dengan mengacu pada kurikulum Kemenag, Diknas, dan LP2M.


Aspek pembinaan mencakup sejumlah program, seperti The Nine Golden Habits, tahfidz, kitab kuning dan tafsir, bahasa Arab, bahasa Inggris, ekstrakurikuler, GJTS, PPAT, serta olahraga.

Sementara aspek pelayanan mencakup kebutuhan kehidupan santri, mulai dari asrama, dapur, kantin, layanan informasi, hingga layanan kesehatan.


Ketiga unsur tersebut ditempatkan sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem pesantren yang tidak hanya berorientasi pada pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga pembinaan karakter dan pelayanan kehidupan santri.


Dua Puluh Tahun sebagai Titik Tolak


Pidato Milad ke-20 tersebut sekaligus menjadi refleksi atas perjalanan Darul Fallaah dari fase merintis, bertahan, membangun, hingga menyiapkan arah baru.


Jika dasawarsa pertama menjadi fase merintis jalan lurus, dan dasawarsa kedua menjadi fase mengubah pondok biasa menjadi luar biasa, maka dasawarsa ketiga diarahkan untuk membangun keunggulan akademik dan kemandirian ekonomi.


Dengan fondasi tersebut, Ponpes Darul Fallaah memasuki usia 20 tahun bukan dengan berhenti pada capaian masa lalu, melainkan dengan agenda baru untuk memperkuat SDM, sistem pendidikan, pembinaan santri, pelayanan, dan pengelolaan aset.


Dua dasawarsa menjadi jejak perjalanan. Dasawarsa ketiga menjadi ikhtiar untuk membuktikan bahwa Darul Fallaah mampu tumbuh sebagai pesantren yang unggul secara akademik dan mandiri secara ekonomi.

Posting Komentar

0 Komentar