Amanah PWM Sulsel: Semangat Kemandirian Nabi Jadi Inspirasi Darul Fallaah Menuju Unggul dan Mandiri

Prof. Dr. KH. Mustari Bosra, M.A. dorong Ponpes Darul Fallaah menjadikan usia 20 tahun sebagai momentum memperkuat keunggulan akademik dan kemandirian ekonomi


BISSOOLORO – Semangat kemandirian yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW sejak usia muda menjadi salah satu pesan penting Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan, Prof. Dr. KH. Mustari Bosra, M.A., dalam amanahnya pada Resepsi Milad ke-20 Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Rabu (12/8/2026).


Amanah tersebut disampaikan dalam rangkaian peringatan dua dasawarsa Ponpes Darul Fallaah, yang berlangsung di Bissoloro, Kabupaten Gowa, dengan mengusung semangat “Menuju Ponpes Unggul dan Mandiri.”


Dalam amanahnya, Prof. Mustari mengangkat keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai inspirasi bagi pesantren dalam membangun kemandirian.

“Nabi sudah mandiri di umur 10 tahun: berdagang, menggembala, dan lain-lain.”


Pesan tersebut menjadi relevan dengan arah pengembangan Ponpes Darul Fallaah yang memasuki dasawarsa ketiga, 2026–2036.


Unggul secara Akademik, Mandiri secara Ekonomi


Semangat kemandirian Nabi kemudian menjadi refleksi bagi Darul Fallaah untuk tidak hanya membangun kualitas pendidikan, tetapi juga memperkuat kemampuan ekonomi lembaga.


Visi dasawarsa ketiga yang dirumuskan Ponpes Darul Fallaah adalah “Menuju Unggul dan Mandiri.” Keunggulan diarahkan pada bidang akademik, sedangkan kemandirian diarahkan pada bidang ekonomi.


Keunggulan akademik menuntut penguatan kualitas sumber daya manusia, pembelajaran, pembinaan, serta atmosfer akademik pesantren. Sementara kemandirian ekonomi membutuhkan kemampuan pesantren dalam mengelola aset dan mengembangkan sumber-sumber ekonomi secara produktif.


Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kemandirian tidak lahir secara instan. Ia membutuhkan etos kerja, keberanian memulai, kemampuan mengelola potensi, serta konsistensi dalam menjalankan proses.

Dua Dekade Menjadi Pijakan


Amanah Prof. Mustari disampaikan setelah Direktur Ponpes Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Dr. Dahlan Lama Bawa, S.Ag., M.Ag., menyampaikan pidato Milad ke-20.


Dalam pidatonya, Dahlan menjelaskan perjalanan Darul Fallaah dalam tiga dasawarsa. Periode 2006–2016 menjadi fase merintis jalan lurus, sedangkan 2016–2026 menjadi fase mewujudkan pondok biasa menjadi luar biasa.


Memasuki periode 2026–2036, pesantren diarahkan untuk membangun keunggulan akademik dan kemandirian ekonomi.


Arah tersebut menjadi tantangan baru bagi seluruh unsur pesantren, terutama dalam menyiapkan SDM yang berkomitmen terhadap sistem dan SOP serta memperkuat pengelolaan aset sebagai basis kemandirian ekonomi.


Pesantren dan Kaderisasi Masa Depan


Dalam konteks Muhammadiyah, penguatan pesantren juga memiliki hubungan erat dengan proses kaderisasi. Pesantren bukan hanya tempat berlangsungnya pembelajaran, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, kedisiplinan, dan semangat pengabdian.


Ponpes Darul Fallaah telah mengembangkan sejumlah program pembelajaran dan pembinaan, seperti The Nine Golden Habits, tahfidz, kitab kuning dan tafsir, bahasa Arab, bahasa Inggris, ekstrakurikuler, olahraga, serta berbagai program pembinaan lainnya.


Seluruh program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan yang memadukan ilmu, karakter, keterampilan, dan kemandirian.


Karena itu, amanah Ketua PWM Sulsel pada Milad ke-20 tidak sekadar menjadi pesan seremonial, tetapi menjadi refleksi atas arah perjalanan Darul Fallaah setelah melewati dua puluh tahun.


Keteladanan Nabi tentang kemandirian menjadi inspirasi. Dua puluh tahun perjalanan menjadi modal. Dan dasawarsa 2026–2036 menjadi ruang pembuktian: Ponpes Darul Fallaah menuju pesantren yang unggul secara akademik dan mandiri secara ekonomi.


Humas DF


Posting Komentar

0 Komentar