Kunjungan Muhibah dan Studi Budaya Lintas Flores Warnai Milad ke-20 Darul Fallaah

MAKASSAR – Dalam rangka menyemarakkan Milad ke-20 Pondok Pesantren Darul Fallaah Universitas Muhammadiyah Makassar di Bissoloro, sebanyak 30 peserta mengikuti Kunjungan Muhibah dan Studi Budaya Lintas Flores yang berlangsung pada 1–10 Juli 2026. Rombongan terdiri atas unsur pimpinan pondok, dewan guru, dewan pengasuhan, tenaga kependidikan, serta perwakilan keluarga besar Darul Fallaah.

Mengusung semangat merawat ukhuwah, memperluas wawasan, dan memperkuat jejaring pendidikan, kegiatan ini dilaksanakan di Kabupaten Lembata, Kabupaten Sikka, dan Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Selama sepuluh hari, rombongan menjalankan berbagai agenda yang memadukan silaturahim, studi budaya, pengabdian masyarakat, sosialisasi pendidikan tinggi, hingga kuliah tamu di perguruan tinggi Muhammadiyah dan mitra.

Merawat Silaturahim Melalui Kunjungan Muhibah

Direktur Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Dr. Dahlan Lama Bawa, M.Ag., menjelaskan bahwa kunjungan muhibah merupakan bagian dari komitmen pesantren dalam menjaga hubungan kekeluargaan dengan para santri, alumni, serta masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan Darul Fallaah.

"Kunjungan Muhibah ini kami laksanakan untuk mempererat silaturahim, merawat kebersamaan, serta memperkuat ukhuwah dengan keluarga besar Darul Fallaah, khususnya para santri, alumni, dan orang tua santri di wilayah Kedang, Kecamatan Omesuri dan Buyasuri, Kabupaten Lembata, serta di Kabupaten Sikka, termasuk keluarga besar yang berasal dari Pulau Sukun," ujar Dahlan.

Menurutnya, pesantren tidak hanya bertanggung jawab mendidik santri selama berada di lingkungan pondok, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk terus menjaga hubungan kekeluargaan setelah mereka kembali ke tengah masyarakat.

Salah satu agenda yang menjadi perhatian khusus dalam Kunjungan Muhibah ini adalah silaturahim ke kediaman orang tua santri di berbagai daerah. Di Kabupaten Sikka, rombongan mengunjungi keluarga Imam Nazrul Rahmatullah, santri kelas VIII Pondok Pesantren Darul Fallaah yang lahir di Batam, 25 Maret 2012 dan berdomisili di Waipare. Kunjungan tersebut disambut hangat oleh kedua orang tuanya, Baco Kawe dan Nur Imami. Bagi keluarga besar Darul Fallaah, kunjungan ke rumah santri merupakan wujud penghargaan dan komitmen pesantren dalam membangun hubungan yang erat dengan orang tua sebagai mitra strategis dalam proses pendidikan. Melalui silaturahim ini, pesantren tidak hanya memperkuat komunikasi dengan keluarga santri, tetapi juga meneguhkan nilai kekeluargaan yang menjadi ruh pendidikan di Pondok Pesantren Darul Fallaah.

Flores, Laboratorium Kehidupan Multikultural

Ketua Panitia Kunjungan Muhibah dan Studi Budaya, Ismail, S.P., menjelaskan bahwa Flores dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki kekayaan budaya yang sangat kuat dan menjadi contoh nyata kehidupan masyarakat yang harmonis dalam keberagaman.

"Flores merupakan ruang belajar yang sangat berharga. Keberagaman budaya, adat istiadat, dan kehidupan masyarakatnya menunjukkan bahwa budaya dapat menjadi modal sosial yang mampu menjaga persaudaraan, memperkuat kohesi sosial, serta merawat kerukunan antarumat beragama," ujarnya.

Selama berada di Lembata, Sikka, dan Ende, rombongan memperoleh sambutan yang sangat hangat dari pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, masyarakat, alumni, serta keluarga santri. Di berbagai lokasi, rombongan disambut dengan tarian adat khas Lamaholot, iringan musik tradisional Kong Bawa dan Soka Hedung, yang menjadi simbol penghormatan sekaligus ungkapan persaudaraan masyarakat kepada para tamu.

Bagi rombongan Darul Fallaah, sambutan tersebut menjadi pengalaman budaya yang tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga memperkuat keyakinan bahwa kearifan lokal merupakan fondasi penting dalam membangun masyarakat yang damai dan inklusif.

Memperkuat Kolaborasi Akademik Melalui Kuliah Tamu

Selain kegiatan sosial dan budaya, rangkaian kunjungan juga diisi dengan agenda akademik melalui penyelenggaraan Kuliah Tamu di dua perguruan tinggi di Pulau Flores.

Kuliah tamu pertama dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Maumere (UNIMOF) dengan narasumber Dr. Amirah Mawardi, S.Ag., M.Si., Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar. Kegiatan tersebut dihadiri pimpinan universitas, dosen, mahasiswa, serta warga Muhammadiyah Kabupaten Sikka.

Sementara itu, kuliah tamu kedua berlangsung di Universitas Flores (UNFLOR) dengan narasumber Dr. Dahlan Lama Bawa, M.Ag. mengangkat tema "Strategi Merawat Kerukunan Antarumat Beragama Berbasis Kearifan Lokal."

Dalam pemaparannya, Dahlan menjelaskan bahwa kerukunan tidak hanya dibangun melalui regulasi atau dialog formal, tetapi juga bertumpu pada nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Ia menguraikan lima nilai kearifan lokal Nusa Tenggara Timur yang menjadi perekat kehidupan bersama, yaitu semangat kekeluargaan, gotong royong, musyawarah, tradisi doa dan syukur bersama, serta penghormatan terhadap martabat sesama manusia.

Menurutnya, nilai-nilai tersebut memiliki keselarasan dengan ajaran Islam yang menekankan persaudaraan, keadilan, dan penghormatan terhadap perbedaan.

"Budaya mengajarkan kita hidup berdampingan, sementara agama membimbing kita untuk hidup bermartabat. Ketika keduanya berjalan seiring, akan lahir masyarakat yang damai, berkeadaban, dan saling menguatkan. Dengan budaya kita kuat, dengan agama kita beradab, dan dengan kebersamaan kita menjadi hebat," tegas Dahlan, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan.

Meneguhkan Spirit Pengabdian

Kunjungan Muhibah dan Studi Budaya Lintas Flores bukan sekadar perjalanan lintas daerah, tetapi menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan nilai-nilai pendidikan, dakwah, budaya, dan kemanusiaan dalam satu rangkaian pengabdian.

Melalui kegiatan ini, Pondok Pesantren Darul Fallaah menegaskan komitmennya untuk terus membangun generasi yang unggul secara intelektual, kokoh dalam spiritualitas, serta mampu merawat persatuan bangsa melalui penghargaan terhadap budaya dan keberagaman.

Momentum Milad ke-20 ini menjadi penanda bahwa perjalanan Darul Fallaah tidak hanya bertumbuh sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai institusi kaderisasi yang aktif membangun jejaring kebangsaan, memperkuat ukhuwah Islamiyah, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat Indonesia.

#HumasDF

Lebih baru Lebih lama