BISSOLORO, GOWA — Menjelang berakhirnya periode kepemimpinannya, Direktur Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Dr. Dahlan Lama Bawa, M.Ag., menyampaikan filosofi Pohon Darul Fallaah sebagai gambaran tentang bagaimana pesantren dibangun, dikelola, dan dikembangkan secara berkelanjutan. Gagasan tersebut disampaikannya dalam sambutan pada Pengajian Bulanan yang dirangkaikan dengan Musyawarah Pemilihan Pimpinan periode 2026–2030, Sabtu (17/10/2026).
Filosofi itu menggambarkan Darul Fallaah sebagai satu kesatuan sistem. Kepemimpinan menjadi akar, visi dan misi menjadi batang, satuan pendidikan serta unit pelayanan menjadi cabang, santri menjadi daun, prestasi menjadi bunga, dan luaran pendidikan menjadi buah.
Pesan tersebut hadir pada momentum pergantian kepemimpinan. Karena itu, filosofi pohon tidak hanya dapat dibaca sebagai gambaran struktur pesantren, tetapi juga sebagai kerangka berpikir untuk menjaga kesinambungan program dan mengarahkan pengembangan lembaga pada periode berikutnya.
Akar yang Menopang Seluruh Kehidupan Pesantren
Dalam filosofi yang disampaikan direktur, akar melambangkan pimpinan dengan komando musyawarah. Akar menjadi penopang utama kehidupan pohon, sebagaimana kepemimpinan menentukan koordinasi dan arah gerak organisasi.
Musyawarah menjadi prinsip penting dalam menjalankan kepemimpinan. Ia menyediakan ruang untuk mendengarkan pandangan, mempertimbangkan kepentingan bersama, dan membangun keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Pimpinan dengan komando musyawarah adalah akar dari Pohon Darul Fallaah. Akar harus kuat agar pohon dapat tumbuh dan bertahan. Begitu pula kepemimpinan, harus memiliki pijakan yang kuat dan menggerakkan seluruh unsur melalui musyawarah,”
Dalam konteks pergantian pimpinan, gagasan ini menegaskan bahwa keberlanjutan pesantren tidak semestinya bergantung pada satu figur. Sistem kepemimpinan perlu menjaga agar nilai dan tujuan lembaga tetap menjadi pijakan bersama.
Batang sebagai Arah, Cabang sebagai Gerakan
Batang Pohon Darul Fallaah melambangkan visi, misi, program, dan rencana strategis atau Renstra. Bagian ini menghubungkan fondasi kepemimpinan dengan seluruh unsur yang bekerja di dalam pesantren.
Adapun cabangnya terdiri atas satuan sekolah, kelas Tahfidz, asrama putra dan putri, unit usaha, Poskestren, serta PPAT. Setiap unit menjalankan fungsi berbeda, tetapi semuanya berada dalam satu kerangka pengembangan lembaga.
“Visi, misi, program, dan Renstra adalah batang yang mengarahkan pertumbuhan. Sementara itu, seluruh satuan pendidikan dan unit pelayanan menjadi cabang yang menjalankan fungsi masing-masing. Semua harus tumbuh dalam satu arah dan saling menguatkan,”
Pesan ini mengandung penekanan pada pentingnya keterhubungan antara perencanaan dan pelaksanaan. Visi tidak cukup berhenti sebagai pernyataan, tetapi perlu diterjemahkan menjadi program yang jelas, pembagian tanggung jawab, dan evaluasi yang terukur.
Santri, Prestasi, dan Buah Pendidikan
Dalam Pohon Darul Fallaah, santri digambarkan sebagai daun, prestasi sebagai bunga, sedangkan luaran atau outcome menjadi buah.
Santri menempati bagian penting dalam sistem tersebut karena seluruh proses pendidikan dan pembinaan pada akhirnya harus mendukung pertumbuhan mereka. Prestasi menjadi salah satu tanda keberhasilan proses, sedangkan buah menggambarkan hasil lebih jauh yang diharapkan dari pendidikan pesantren.
“Santri adalah daun yang menjadi bagian dari pertumbuhan pesantren. Prestasi adalah bunganya, sedangkan buahnya adalah luaran atau hasil pendidikan. Karena itu, keberhasilan kita tidak cukup hanya terlihat dari banyaknya kegiatan, tetapi juga dari prestasi dan manfaat yang dihasilkan,”
Dalam kerangka ini, prestasi tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dari pembelajaran, pembinaan karakter, kedisiplinan, pendampingan, serta dukungan berbagai unit. Sementara itu, luaran pendidikan perlu dilihat dari kemampuan santri dan alumni mengamalkan ilmu, mengembangkan kompetensi, membangun kemandirian, dan memberi manfaat kepada masyarakat.
Dari Kepemimpinan Menuju Keberlanjutan
Filosofi Pohon Darul Fallaah menjadi relevan ketika pesantren memasuki proses pemilihan pimpinan periode 2026–2030. Pergantian kepemimpinan merupakan bagian dari perjalanan organisasi, tetapi kesinambungan sistem dan arah pengembangan lembaga memerlukan perhatian yang sama besarnya.
Akar harus tetap kuat, batang harus memberi arah, cabang perlu bekerja sesuai fungsi, dan pertumbuhan santri harus menjadi perhatian utama. Prestasi serta luaran pendidikan kemudian menjadi bagian dari ukuran untuk melihat sejauh mana seluruh unsur tersebut bekerja secara efektif.
Dengan filosofi ini, tantangan kepemimpinan berikutnya bukan hanya melanjutkan kegiatan yang telah berjalan, melainkan memastikan setiap unsur dalam Pohon Darul Fallaah memiliki peran, target, dan kontribusi yang jelas terhadap tujuan lembaga.
Gagasan yang disampaikan pada penghujung periode kepemimpinan tersebut dapat menjadi bahan refleksi bagi Darul Fallaah dalam menata langkah ke depan: membangun sistem yang tidak bergantung pada satu orang, menjaga kesinambungan program, dan memastikan bahwa seluruh proses pendidikan menghasilkan manfaat nyata bagi santri serta masyarakat.
#HumasDF

0 Komentar