![]() |
| Faridah Royani, santri kelas X MA Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro asal Flores, Lembata, menyampaikan kultum ba’da Subuh bertema “Sebaik-baik Bekal adalah Takwa”, Senin (12/10/2026). |
GOWA — Faridah Royani, santri kelas X Madrasah Aliyah (MA) Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, menyampaikan kultum ba’da Subuh bertema “Sebaik-baik Bekal adalah Takwa”, Senin (12/10/2026). Tema ini mengangkat pentingnya menjadikan ketakwaan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan, baik selama menuntut ilmu maupun ketika berinteraksi dengan masyarakat.
Takwa tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan ibadah, tetapi juga tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Menjaga kejujuran, menghormati orang lain, menjalankan tanggung jawab, serta menghindari perbuatan yang dilarang agama merupakan bagian dari upaya menerapkan nilai-nilai ketakwaan.
Pesan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 197, yang menegaskan bahwa “sebaik-baik bekal adalah takwa.” Ayat ini mengingatkan bahwa manusia perlu mempersiapkan bekal kehidupan yang tidak hanya bersifat material, tetapi juga mencakup keimanan dan amal kebaikan.
Takwa dalam Kehidupan Santri
Bagi santri, ketakwaan dapat diwujudkan melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Menjaga shalat lima waktu, mengikuti pembelajaran dengan sungguh-sungguh, menaati tata tertib pesantren, serta menghargai guru dan sesama santri merupakan bagian dari proses membangun karakter Islami.
Kehidupan pesantren memberikan ruang bagi santri untuk melatih kebiasaan tersebut melalui kegiatan ibadah, pembelajaran, organisasi, dan aktivitas bersama. Dalam proses itu, takwa menjadi landasan untuk membangun kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki tanggung jawab, baik terhadap diri sendiri maupun kepada Allah SWT.
Kultum ba’da Subuh juga menjadi kesempatan bagi santri untuk belajar menyampaikan pesan keagamaan di hadapan sesama. Selain memperdalam pemahaman terhadap materi Islam, kegiatan ini melatih keberanian berbicara, kemampuan berkomunikasi, dan tanggung jawab dalam menyampaikan pesan yang bermanfaat.
Melalui tema yang dibawakan Faridah, pesan tentang takwa dapat menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari pengetahuan yang diperoleh, tetapi juga dari sikap dan perilaku yang terbentuk selama proses belajar.
Mengembangkan Diri melalui Hizbul Wathan
Faridah Royani berasal dari Flores, Lembata. Ia merupakan putri dari Ahmad Allamda yang bekerja sebagai petani dan Unita Mahmud yang berprofesi sebagai guru.
Di lingkungan pesantren, Faridah mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan (HW), yang menjadi salah satu wadah pengembangan kedisiplinan, kemandirian, kepemimpinan, dan kerja sama.
Keikutsertaannya dalam kultum ba’da Subuh melengkapi pengalaman belajar di pesantren. Melalui kegiatan semacam ini, santri mendapat ruang untuk mengembangkan kemampuan diri sekaligus menghubungkan pengetahuan agama dengan kehidupan sehari-hari.
Pesan “Sebaik-baik Bekal adalah Takwa” pada akhirnya mengingatkan bahwa ilmu, pengalaman, dan keterampilan perlu disertai dengan keimanan serta akhlak yang baik. Bekal tersebut diharapkan menjadi dasar bagi santri dalam menentukan pilihan dan menjalani kehidupan secara bertanggung jawab.
#HumasDf

0 Komentar