Dr. Dahlan Lama Bawa dan Jajaran Pimpinan Baru, Merawat Pohon Darul Fallaah

Dr. Dahlan Lama Bawa, M.Ag., Ketua Badan Pembina Pesantren (BPP) Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro periode 2026–2030, bersama jajaran pimpinan baru dalam upaya menjaga keberlanjutan kelembagaan dan pengembangan pesantren.

BISSO​LORO — Keberlanjutan sebuah pesantren tidak hanya ditentukan oleh pergantian kepemimpinan, tetapi juga oleh kemampuan menjaga arah perjuangan, merawat sistem kelembagaan, dan mengembangkan potensi seluruh unsur di dalamnya. Semangat inilah yang menjadi salah satu pijakan dalam membaca susunan pimpinan baru Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro untuk periode 2026–2030.

Melalui rangkaian pemilihan yang berlangsung pada Sabtu, 17 Oktober 2026, Darul Fallaah menetapkan jajaran pimpinan pada sejumlah unsur kelembagaan. Dr. Dahlan Lama Bawa, M.Ag., tercatat sebagai Ketua Badan Pembina Pesantren (BPP), bersama Kiai Amiruddin, S.Pd.I., sebagai sekretaris dan H. Samsuddin, S.Pd., sebagai bendahara. Sementara itu, pada jajaran pengelola pesantren, Supriadi, S.Pd.I., M.Pd.I., ditetapkan sebagai Direktur, didampingi Derman, S.Pd., M.Pd., sebagai Wakil Direktur I, Alimuddin, S.E., sebagai Wakil Direktur II, dan Supriadi, S.Pd., sebagai Wakil Direktur III.

Susunan ini bukan sekadar daftar nama dan jabatan. Ia merupakan bagian dari proses menjaga kesinambungan pengelolaan lembaga, mulai dari pembinaan, perencanaan, pelaksanaan program, hingga pengembangan mutu pendidikan dan kemandirian pesantren.

Membaca Darul Fallaah melalui filosofi pohon

Salah satu cara memahami hubungan antarelemen di Darul Fallaah adalah melalui filosofi Pohon Darul Fallaah. Dalam kerangka ini, pesantren digambarkan sebagai pohon yang tumbuh melalui hubungan antara akar, batang, cabang, daun, bunga, dan buah. Setiap bagian memiliki fungsi tersendiri, tetapi semuanya saling bergantung untuk menjaga kehidupan dan menghasilkan manfaat.

Akar pohon melambangkan pimpinan dengan komando musyawarah. Akar menjadi penopang yang tidak selalu terlihat, tetapi menentukan kekuatan pohon dalam menghadapi perubahan. Dalam kehidupan kelembagaan, fungsi ini berkaitan dengan kepemimpinan yang berlandaskan musyawarah, kejelasan arah, serta kesediaan menjaga nilai dan tujuan bersama. Keberadaan Badan Pembina Pesantren dan jajaran pengelola perlu dipahami dalam hubungan yang saling mendukung, dengan tugas dan kewenangan masing-masing tetap berjalan sesuai ketentuan organisasi.

Batang pohon menggambarkan visi, misi, program, dan rencana strategis (renstra). Batang menghubungkan akar dengan seluruh bagian pohon, sebagaimana visi dan rencana strategis menjadi penghubung antara arah kebijakan dan pelaksanaan program. Karena itu, keberlanjutan kepemimpinan tidak cukup diukur dari tersusunnya struktur organisasi. Hal yang lebih mendasar ialah bagaimana arah kelembagaan diterjemahkan menjadi program yang terukur, pembagian tanggung jawab yang jelas, dan sistem kerja yang dapat dijalankan secara konsisten.

Dari batang tumbuh cabang-cabang yang merepresentasikan unsur dan unit pengembangan pesantren: satuan sekolah, kelas tahfidz, asrama putra dan putri, unit usaha, Poskestren, serta PPAT. Keberagaman unit ini menunjukkan bahwa kehidupan Darul Fallaah mencakup lebih dari kegiatan pembelajaran di ruang kelas. Ada pembinaan keagamaan, pengasuhan santri, layanan kesehatan, dan pengembangan usaha yang membutuhkan koordinasi serta dukungan kelembagaan.

Dalam filosofi tersebut, santri adalah daun, yakni bagian yang membuat pohon tampak hidup dan berkembang. Prestasi menjadi bunga, sebagai tanda proses pembinaan yang mulai menunjukkan hasil. Sementara itu, luaran atau outcome merupakan buah yang diharapkan memberi manfaat lebih luas. Gambaran ini menegaskan bahwa struktur kepemimpinan, program, dan unit kerja pada akhirnya harus bermuara pada perkembangan santri dan manfaat nyata bagi masyarakat.

Kepemimpinan sebagai penghubung arah dan pelaksanaan

Filosofi Pohon Darul Fallaah memberi kerangka untuk memahami peran jajaran pimpinan baru. Badan Pembina Pesantren menempati posisi penting dalam pembinaan kelembagaan, sedangkan direktur beserta para wakil direktur menjalankan fungsi pengelolaan sesuai pembagian tugasnya. Hubungan keduanya perlu ditopang komunikasi, musyawarah, dan konsistensi terhadap visi serta rencana strategis pesantren.

Dalam praktiknya, kesinambungan kepemimpinan berarti menjaga program yang masih relevan, mengevaluasi pelaksanaan yang belum optimal, serta mengembangkan pembaruan berdasarkan kebutuhan nyata. Pergantian personel tidak semestinya membuat arah lembaga terputus. Sebaliknya, pergantian periode menjadi kesempatan untuk memperjelas prioritas, memperkuat tata kelola, dan memastikan bahwa program tidak hanya bergantung pada individu tertentu.

Tantangan tersebut menjadi penting karena Darul Fallaah mengembangkan berbagai unit dengan kebutuhan yang berbeda. Pengelolaan sekolah memerlukan perhatian pada mutu pembelajaran dan prestasi akademik; asrama membutuhkan sistem pembinaan dan pengasuhan yang teratur; kelas tahfidz memerlukan kesinambungan program Al-Qur’an; sedangkan unit usaha membutuhkan pengelolaan yang tertib agar dapat mendukung kemandirian pesantren. Seluruhnya memerlukan arah bersama tanpa mengabaikan karakteristik masing-masing unit.

Menjaga pertumbuhan hingga menghasilkan buah

Pohon tidak dinilai hanya dari kokohnya batang atau banyaknya cabang. Pertumbuhannya juga terlihat dari daun yang berkembang, bunga yang muncul, dan buah yang dihasilkan. Demikian pula Darul Fallaah: keberhasilan kepemimpinan tidak berhenti pada penetapan struktur, tetapi perlu dilihat dari kemajuan program, kualitas pembinaan santri, prestasi yang dicapai, serta manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat.

Dengan demikian, kepemimpinan periode 2026–2030 memiliki ruang untuk memperkuat hubungan antara pembinaan kelembagaan, perencanaan strategis, dan pelaksanaan program. Filosofi Pohon Darul Fallaah dapat menjadi pengingat bahwa setiap unsur memiliki fungsi, setiap fungsi membutuhkan koordinasi, dan seluruh kerja kelembagaan harus mengarah pada tujuan yang sama.

Menjaga keberlanjutan Darul Fallaah berarti memastikan akar tetap kuat, batang tetap tegak, cabang berkembang, daun terawat, bunga bermunculan, dan buah memberi manfaat. Pada titik itulah pergantian kepemimpinan memperoleh makna yang lebih luas: bukan sekadar pergantian pengurus, melainkan ikhtiar melanjutkan pertumbuhan pesantren secara terarah, terukur, dan berkelanjutan.

#HumasDF

Posting Komentar

0 Komentar