Zainul Muttaqin, santri kelas IX Darul Fallaah, menyampaikan kultum ba’da Magrib dengan tema “Tempat Peristirahatan Terakhir yang Panjang”, Kamis (24/9/2026). |
BISSOLORO — Santri kelas IX Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Zainul Muttaqin, menyampaikan kultum ba’da Magrib pada Kamis (24/9/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia mengangkat tema “Tempat Peristirahatan Terakhir yang Panjang.”
Tema tersebut mengajak para santri untuk merenungkan kembali tentang kematian sebagai bagian yang pasti dalam perjalanan kehidupan manusia. Dalam perspektif Al-Qur’an, setiap yang bernyawa akan mengalami kematian dan pada akhirnya kembali kepada Allah SWT.
Melalui kultum tersebut, Zainul mengarahkan pesan agar kehidupan di dunia tidak dijalani hanya untuk mengejar kesenangan sementara, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mempersiapkan bekal menuju kehidupan setelah kematian.
Mengingat Akhir Perjalanan
Kematian menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia memiliki batas. Karena itu, kesadaran terhadap akhir kehidupan dapat mendorong seseorang untuk memperbaiki ibadah, menjaga akhlak, serta memperbanyak amal kebaikan.
Dalam kajian Muhammadiyah, kematian dipahami sebagai berpisahnya ruh dari jasad, sementara manusia memasuki alam barzakh sebagai fase antara kehidupan dunia dan akhirat.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi santri dalam menjalani kehidupan sehari-hari di pesantren. Rutinitas ibadah, belajar, menjaga kedisiplinan, menghormati guru, serta berbuat baik kepada sesama dapat menjadi bagian dari proses membentuk pribadi yang memiliki kesadaran terhadap tujuan akhir kehidupan.
Profil Zainul Muttaqin
Zainul Muttaqin merupakan santri kelas IX Darul Fallaah. Ia merupakan putra dari Anwar dan Irmawati, yang bekerja sebagai petani. Zainul berasal dari Enrekang.
Dalam kegiatan pengembangan diri di pesantren, Zainul mengikuti ekstrakurikuler Tapak Suci. Meskipun belum mencatat prestasi yang dicantumkan dalam data kultum, keterlibatannya dalam kegiatan pesantren menjadi bagian dari proses pembinaan karakter dan pengembangan potensi santri.
Melalui kultum ba’da Magrib tersebut, Zainul mendapat ruang untuk belajar menyampaikan gagasan keislaman sekaligus mengajak teman-temannya melakukan refleksi tentang kehidupan.
Mengubah Kesadaran Menjadi Amal
Pesan tentang kematian bukan dimaksudkan untuk membuat seseorang takut menjalani kehidupan, melainkan menjadi pengingat agar waktu yang dimiliki digunakan dengan sebaik-baiknya.
Kesadaran bahwa kehidupan dunia tidak berlangsung selamanya dapat mendorong seseorang untuk memperbanyak amal saleh dan meninggalkan perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Dengan tema “Tempat Peristirahatan Terakhir yang Panjang,” kultum Zainul menjadi bagian dari pembiasaan dakwah santri di lingkungan Darul Fallaah. Setiap santri tidak hanya dilatih memahami ilmu agama, tetapi juga diberi kesempatan untuk menyampaikan nilai-nilai keislaman kepada sesama.
0 Komentar