Nur Aqila, santri kelas VIII.A Darul Fallaah, menyampaikan kultum ba’da Subuh dengan tema “Pikir Seratus Kali Dahulu, Sebelum Membicarakan Keburukan Orang Lain”, Kamis (24/9/2026). |
BISSOLORO — Santri kelas VIII.A Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Nur Aqila, menyampaikan kultum ba’da Subuh pada Kamis (24/9/2026). Dalam kultumnya, ia mengangkat tema “Pikir Seratus Kali Dahulu, Sebelum Membicarakan Keburukan Orang Lain.”
Tema tersebut mengajak para santri untuk lebih berhati-hati dalam menjaga lisan, terutama ketika membicarakan kekurangan atau keburukan orang lain. Pesan ini menjadi bagian penting dalam pembentukan akhlak santri karena perkataan yang disampaikan tanpa pertimbangan dapat menyakiti orang lain dan menimbulkan persoalan dalam pergaulan.
Mengajak Santri Menjaga Lisan
Melalui kultum tersebut, Nur Aqila mengingatkan pentingnya berpikir sebelum berbicara. Tidak semua hal yang diketahui tentang orang lain perlu disampaikan kepada orang lain, terlebih jika pembicaraan tersebut berkaitan dengan kekurangan, aib, atau keburukannya.
Dalam Islam, larangan membicarakan keburukan orang lain antara lain ditegaskan dalam QS Al-Hujurat ayat 12 yang memberikan peringatan agar manusia tidak melakukan ghibah. Karena itu, menjaga ucapan menjadi bagian dari menjaga akhlak dan hubungan dengan sesama.
Pesan tersebut juga relevan dengan kehidupan santri yang setiap hari berinteraksi dan hidup bersama dalam lingkungan pesantren. Perbedaan karakter, kebiasaan, dan latar belakang perlu disikapi dengan saling menghargai, bukan dengan membicarakan kekurangan satu sama lain.
Berpikir Sebelum Berbicara
Judul kultum yang disampaikan Nur Aqila menekankan satu kebiasaan sederhana: berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara.
Sebelum menyampaikan sesuatu tentang orang lain, seseorang perlu mempertimbangkan apakah perkataan tersebut benar, bermanfaat, dan pantas disampaikan. Jika tidak membawa kebaikan, memilih diam dapat menjadi sikap yang lebih bijaksana.
Pembiasaan seperti ini menjadi bagian dari pendidikan karakter di pesantren. Santri tidak hanya dituntut untuk memiliki pengetahuan agama, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Nur Aqila dan Aktivitas Pengembangan Diri
Nur Aqila merupakan santri kelas VIII.A Darul Fallaah. Ia merupakan putri dari Baso dan Herlina. Ayahnya bekerja sebagai petani, sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga. Nur Aqila berasal dari Bissoloro.
Dalam bidang prestasi, Nur Aqila pernah meraih Juara 3 Lomba Puisi.
Ia juga aktif dalam sejumlah kegiatan ekstrakurikuler, yakni Tapak Suci, IPM, Kaligrafi, dan Hizbul Wathan (HW). Keterlibatan dalam berbagai aktivitas tersebut menjadi ruang bagi Nur Aqila untuk mengembangkan kemampuan, keberanian, kreativitas, kepemimpinan, sekaligus keterampilan sosial.
Kultum ba’da Subuh menjadi salah satu ruang pembinaan yang memberikan kesempatan kepada santri untuk belajar menyampaikan pesan keislaman di hadapan sesama santri.
Dari Pesan Singkat Menjadi Pembiasaan Akhlak
Kultum Nur Aqila tidak hanya menjadi penyampaian materi keagamaan, tetapi juga menjadi pengingat bersama tentang pentingnya menjaga hubungan antarsesama.
Pesan “pikir seratus kali dahulu sebelum membicarakan keburukan orang lain” mengajak santri untuk membangun kebiasaan menahan diri, menjaga lisan, dan memilih perkataan yang membawa manfaat.
Dengan demikian, kultum ba’da Subuh menjadi bagian dari proses pembinaan santri Darul Fallaah agar nilai-nilai keislaman tidak berhenti pada pemahaman, tetapi juga tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
0 Komentar