Saskia Putri Ajak Santri Merenungkan Bahaya Dosa Gibah

Ananda Saskia Putri Natasya, santri kelas X SMK Trenkaun Darul Fallaah, saat menyampaikan kultum ba’da Subuh bertema “Merenungkan Dosa Gibah” di Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Kamis (10/9/2026). 

BISSOLORO — Nilai pentingnya menjaga lisan menjadi pesan yang disampaikan Ananda Saskia Putri Natasya, santri kelas X SMK Trenkaun Darul Fallaah, dalam kultum ba’da Subuh di Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Kamis, 10 September 2026. Mengangkat tema “Merenungkan Dosa Gibah”, Saskia mengajak para santri untuk lebih berhati-hati dalam berbicara dan menghindari kebiasaan membicarakan keburukan orang lain.

Dalam kultumnya, Saskia mengingatkan bahwa lisan memiliki peran besar dalam kehidupan seorang muslim. Perkataan yang tampak sederhana, termasuk ketika membicarakan seseorang yang tidak hadir, dapat menjadi perbuatan yang bernilai dosa apabila termasuk gibah.

Karena itu, santri diajak untuk membiasakan diri berpikir sebelum berbicara, memilih perkataan yang baik, serta menghindari percakapan yang dapat merendahkan, mempermalukan, atau merugikan orang lain.

Gibah Sering Berawal dari Percakapan Sederhana

Di lingkungan pesantren yang dihuni dan dijalani bersama, menjaga lisan menjadi bagian penting dalam membangun persaudaraan. Interaksi antarsantri yang berlangsung setiap hari dapat menjadi ruang tumbuhnya kebiasaan baik, tetapi juga perlu diiringi dengan kesadaran dalam berkomunikasi.

Melalui tema yang dibawakan, Saskia mengajak teman-temannya untuk mengenali kembali batas antara percakapan biasa dan pembicaraan yang dapat mengarah pada gibah.

Menurut pesan yang disampaikannya, ketika muncul keinginan membicarakan kekurangan orang lain, seorang santri sebaiknya mengingat kembali dampak dari perkataan tersebut. Lebih baik menggunakan waktu untuk membicarakan hal yang bermanfaat daripada menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan pembicaraan.

Menjaga Lisan sebagai Bagian dari Akhlak

Menjaga lisan bukan hanya persoalan memilih kata yang sopan, tetapi juga bagian dari pembentukan akhlak.

Santri dapat membiasakannya melalui berbagai hal sederhana, seperti tidak menyebarkan cerita pribadi orang lain, tidak mempermalukan teman, tidak ikut menyebarkan kabar yang belum jelas, serta berani menghentikan percakapan ketika mulai mengarah pada pembicaraan tentang keburukan orang lain.

Pesan tersebut juga mengajak santri untuk membangun budaya saling mengingatkan dalam kebaikan. Ketika seorang teman mulai terlibat dalam percakapan yang tidak baik, mengingatkan dengan cara yang santun dapat menjadi bentuk kepedulian.

Santri Maros dengan Prestasi di Bidang PBB dan Pencak Silat

Saskia Putri Natasya merupakan santri asal Maros, putri dari Mantasia dan M. Jufri. Orang tuanya masing-masing berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan buruh harian/sopir.

Sebagai santri kelas X SMK Trenkaun Darul Fallaah, Saskia aktif mengikuti sejumlah kegiatan ekstrakurikuler, yakni Tapak Suci (TS), Kaligrafi, dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).

Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi Saskia untuk mengembangkan kemampuan keagamaan, seni, organisasi, kedisiplinan, serta keterampilan fisik.

Ia juga memiliki sejumlah prestasi. Pada Kemah Tahfiz di Sidrap tingkat Provinsi tahun 2025, Saskia berhasil meraih Juara 3 Lomba Peraturan Baris-Berbaris (PBB). Sementara pada Lomba Pencak Silat Tapak Suci tingkat kabupaten tahun 2024, ia meraih Juara 2.

Capaian tersebut memperlihatkan keberagaman potensi yang dikembangkan santri, mulai dari bidang kepanduan dan kedisiplinan hingga olahraga bela diri.

Kultum Melatih Keberanian dan Kepedulian

Kultum ba’da Subuh menjadi salah satu ruang pembinaan santri Darul Fallaah untuk melatih keberanian berbicara sekaligus menyampaikan nilai-nilai keislaman.

Saskia tidak hanya mendapatkan pengalaman tampil di hadapan jamaah, tetapi juga belajar mengolah tema keagamaan menjadi pesan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tema tentang gibah menjadi pilihan yang relevan karena berkaitan langsung dengan pola interaksi dan komunikasi antarsantri.

Melalui kegiatan tersebut, santri didorong untuk memahami bahwa pendidikan akhlak tidak hanya berlangsung melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui kebiasaan yang dibangun dalam kehidupan sehari-hari.

Dari Mimbar Subuh, Belajar Menjaga Lisan

Pesan Saskia menjadi pengingat bahwa menjaga lisan merupakan bentuk tanggung jawab seorang muslim. Setiap ucapan perlu dipertimbangkan agar tidak menjadi sumber dosa maupun menyakiti orang lain.

Dari mimbar ba’da Subuh di Bissoloro, Saskia Putri Natasya mengajak para santri untuk berhenti sejenak sebelum berbicara, merenungkan dampak setiap ucapan, dan menjadikan lisan sebagai sarana menyampaikan kebaikan—bukan membicarakan keburukan sesama.

HUMAS DF

Posting Komentar

0 Komentar