BISSOLORO — Pentingnya menjaga shalat bagi seorang pelajar menjadi pesan utama yang disampaikan Ananda Muh. Alhadisu Musa, santri kelas XI Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, dalam kultum ba’da Magrib, Rabu, 9 September 2026.
Mengangkat tema “Pentingnya Shalat bagi Pelajar”, Muh. Alhadisu mengajak para santri untuk menjadikan shalat bukan sekadar kewajiban yang harus ditunaikan, tetapi sebagai bagian penting dari kehidupan dan pembentukan karakter seorang pelajar.
Shalat sebagai Fondasi Kehidupan Pelajar
Dalam kultumnya, Muh. Alhadisu menekankan bahwa kesibukan belajar, kegiatan organisasi, maupun berbagai aktivitas kepesantrenan tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan shalat.
Sebagai pelajar, menjaga shalat merupakan salah satu bentuk kedisiplinan. Shalat mengajarkan keteraturan waktu, tanggung jawab, ketundukan kepada Allah SWT, sekaligus menjadi sarana untuk menjaga hati dan perilaku.
Ia mengajak teman-temannya untuk membiasakan diri mempersiapkan shalat tepat waktu dan tidak menunda-nundanya. Kebiasaan tersebut diharapkan dapat terbawa dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika santri nantinya kembali ke tengah masyarakat.
Shalat dan Pembentukan Karakter Santri
Pesan yang disampaikan Muh. Alhadisu juga berkaitan erat dengan kehidupan santri di pesantren. Rutinitas shalat berjamaah memberikan kesempatan kepada santri untuk belajar disiplin, menghargai waktu, menjaga kebersamaan, dan mengikuti aturan yang telah ditetapkan.
Menurutnya, pelajar yang mampu menjaga shalat diharapkan juga mampu menjaga perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai yang diperoleh dari ibadah tersebut dapat tercermin melalui sikap hormat kepada guru, berbakti kepada orang tua, menyayangi sesama teman, serta bertanggung jawab terhadap amanah.
Dengan demikian, shalat tidak hanya menjadi aktivitas ritual, tetapi juga menjadi bagian dari proses pendidikan karakter.
Santri Asal Maumere yang Aktif di Pesantren
Muh. Alhadisu Musa merupakan santri kelas XI yang berasal dari Maumere. Ia merupakan putra dari Purniadi dan Hasania, yang berprofesi sebagai nelayan.
Di lingkungan pesantren, Alhadisu aktif mengikuti kegiatan Hizbul Wathan (HW) dan Kaligrafi. Keterlibatan tersebut menjadi ruang baginya untuk mengembangkan kedisiplinan, kreativitas, serta kemampuan bekerja sama.
Ia juga dipercaya menjadi bagian dari Anggota Keamanan dan Kebersihan OSIP periode 2026/2027. Amanah tersebut menjadi pengalaman penting dalam membangun rasa tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan pesantren.
Kultum sebagai Ruang Pembinaan Santri
Kegiatan kultum ba’da Magrib di Darul Fallaah menjadi salah satu sarana pembinaan santri untuk memperkuat pemahaman keagamaan sekaligus melatih kemampuan berbicara di depan jamaah.
Melalui kesempatan tersebut, setiap santri didorong untuk mempersiapkan materi, menyusun gagasan, dan menyampaikan pesan Islam dengan bahasa yang mudah dipahami.
Bagi Muh. Alhadisu, kesempatan menyampaikan tema tentang shalat menjadi momentum untuk mengingatkan dirinya sendiri dan teman-temannya mengenai pentingnya menjaga ibadah di tengah kesibukan sebagai pelajar.
Menjaga Shalat, Menjaga Arah Kehidupan
Pesan yang dibawa dalam kultum tersebut sederhana, tetapi memiliki makna penting bagi kehidupan pelajar. Pendidikan dan prestasi memang perlu dikejar, tetapi semuanya harus berjalan seiring dengan penguatan iman dan ibadah.
Dari mimbar ba’da Magrib di Bissoloro, Muh. Alhadisu Musa mengajak para pelajar untuk menjadikan shalat sebagai prioritas, membangun kedisiplinan dari waktu-waktu shalat, dan menjadikan ibadah sebagai fondasi dalam menuntut ilmu serta menjalani kehidupan.
0 Komentar