BISSOLORO — Mengawali aktivitas pagi dengan pesan reflektif tentang orientasi hidup, Ananda Nurul Sakinah Rahmadani Amir, santri kelas VIII A SMP Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, menyampaikan kultum ba’da Subuh dengan tema “Sederhanakan Target Dunia dan Maksimalkan Target Akhirat.” Pada Senin, 7 September 2026.
Bertempat di lingkungan Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, kultum tersebut mengajak para santri untuk menata kembali orientasi dalam menjalani kehidupan. Nurul Sakinah menekankan bahwa cita-cita, pendidikan, prestasi, dan berbagai target dunia tetap penting untuk diperjuangkan, tetapi jangan sampai membuat seseorang melupakan tujuan akhir kehidupan, yakni mempersiapkan bekal untuk akhirat.
Menata Target, Memperkuat Orientasi Akhirat
Pesan utama yang disampaikan Nurul Sakinah adalah pentingnya memiliki keseimbangan dalam menetapkan tujuan hidup. Santri tetap perlu memiliki cita-cita dan target dunia, namun tidak seharusnya membuat kehidupan hanya berorientasi pada pencapaian materi dan pengakuan manusia.
Menurut pesan yang dibawakan, target dunia dapat disederhanakan dengan menjalani kehidupan secara cukup, tidak berlebihan dalam mengejar sesuatu, dan tetap mensyukuri apa yang dimiliki. Sebaliknya, target akhirat perlu dimaksimalkan melalui peningkatan kualitas ibadah, memperbanyak amal kebaikan, menjaga akhlak, serta memberikan manfaat kepada orang lain.
Bagi seorang santri, orientasi tersebut dapat diwujudkan melalui kebiasaan sederhana: bersungguh-sungguh belajar, menjaga salat, menghormati guru dan orang tua, membantu teman, disiplin menjalankan tugas, serta terus memperbaiki diri.
Pesan untuk Generasi yang Sedang Bertumbuh
Tema tersebut menjadi relevan bagi santri yang sedang berada dalam proses menentukan arah masa depan. Berbagai prestasi dan cita-cita perlu diraih dengan kerja keras, tetapi tidak boleh membuat seseorang melupakan tujuan yang lebih besar.
Nurul Sakinah mengajak teman-temannya untuk memiliki target yang jelas dalam belajar dan kehidupan, sembari memastikan bahwa setiap usaha tetap memiliki nilai ibadah.
Dengan demikian, keberhasilan seorang santri tidak hanya diukur dari seberapa tinggi prestasi yang diraih, tetapi juga dari seberapa baik ilmu, waktu, dan kesempatan yang dimiliki digunakan untuk kebaikan.
Santri Asal Bungaya yang Aktif dan Berprestasi
Nurul Sakinah Rahmadani Amir merupakan putri dari Amir dan Riska S., yang berprofesi sebagai petani. Ia berasal dari Moncongan, Desa Bontomanai, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa.
Selama menempuh pendidikan di Darul Fallaah, Nurul Sakinah aktif mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler, yakni Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Tapak Suci (TS), dan Hizbul Wathan (HW).
Keterlibatan dalam tiga kegiatan tersebut memberikan ruang bagi dirinya untuk mengembangkan kemampuan organisasi, kedisiplinan, kepemimpinan, kerja sama, serta keterampilan sosial.
Di bidang seni, Nurul Sakinah juga memiliki prestasi. Ia berhasil meraih Juara 2 Lomba Tari Darul Fallaah CUP I Tahun 2026.
Prestasi tersebut menjadi salah satu bukti bahwa pengembangan potensi santri dapat berjalan melalui berbagai bidang, tidak hanya akademik, tetapi juga seni, organisasi, dan kegiatan kepesantrenan.
Kultum Menjadi Ruang Pembentukan Karakter
Kegiatan kultum ba’da Subuh menjadi bagian dari pembinaan santri Darul Fallaah. Melalui kegiatan ini, santri mendapatkan kesempatan untuk belajar menyampaikan gagasan, membangun keberanian, dan menghubungkan nilai-nilai keislaman dengan kehidupan sehari-hari.
Bagi Nurul Sakinah, kesempatan menyampaikan tema tentang target dunia dan akhirat juga menjadi latihan untuk merefleksikan kembali tujuan hidup seorang santri.
Pesan yang disampaikan tidak berhenti pada mimbar, tetapi diharapkan dapat diterapkan dalam keseharian—bagaimana santri belajar mengejar prestasi tanpa kehilangan orientasi ibadah dan bagaimana cita-cita dunia dapat menjadi sarana untuk meraih kebaikan akhirat.
Dunia Dikejar Secukupnya, Akhirat Diperjuangkan Seutuhnya
Kultum Nurul Sakinah memberikan pesan sederhana namun penting: bukan berarti seorang muslim harus meninggalkan dunia, tetapi dunia tidak boleh menjadi tujuan akhir.
Pendidikan, prestasi, cita-cita, dan masa depan tetap perlu diperjuangkan. Namun, semua itu hendaknya diarahkan agar memberikan manfaat dan menjadi bekal menuju kehidupan akhirat.
Dari mimbar ba’da Subuh, Nurul Sakinah mengajak santri menata kembali prioritas: menyederhanakan ambisi dunia, memperbanyak kebaikan, dan memaksimalkan persiapan menuju akhirat.

0 Komentar