BISSOLORO — Kelas Tahfidz Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro terus menunjukkan hasil dalam pembinaan hafalan Al-Qur’an. Salah satunya ditandai dengan capaian Rahmadhani Syam binti Samadi, santri akhwat kelas X MAS Darul Fallaah, yang berhasil menyetorkan hafalan Juz 30 secara bil ghaib sekali duduk.
Capaian tersebut dilaksanakan pada Ahad, 13 September 2026, pukul 20.00 WITA hingga selesai, bertempat di Masjid Al-Aqabah Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro.
Rahmadhani Syam yang berasal dari Desa Rannaloe, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa, menjadi salah satu gambaran dari proses pembinaan tahfidz yang dijalankan pesantren. Hafalan yang disetorkan tanpa melihat mushaf atau bil ghaib menunjukkan proses belajar yang membutuhkan ketekunan, pengulangan, kedisiplinan, dan konsistensi.
Tahfidz sebagai Pembiasaan Qur’ani
Program Tahfidz di Darul Fallaah tidak hanya diarahkan untuk menambah jumlah hafalan santri. Lebih dari itu, pembinaan dilakukan untuk membangun kedekatan santri dengan Al-Qur’an melalui rutinitas menghafal, menyetorkan, mengulang, dan menjaga hafalan.
Proses tersebut menjadi bagian dari kehidupan pendidikan pesantren yang menempatkan Al-Qur’an sebagai salah satu fondasi utama pembentukan karakter santri.
Keberhasilan seorang santri menyelesaikan hafalan satu juz juga menjadi motivasi bagi santri lainnya untuk terus meningkatkan capaian masing-masing. Setiap hafalan yang diselesaikan merupakan hasil dari proses yang dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.
Dari Hafalan Menuju Karakter
Direktur Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Dr. Dahlan Lama Bawa, M.Ag., menempatkan pembinaan Al-Qur’an sebagai bagian penting dalam proses pendidikan santri.
Menurutnya, kemampuan menghafal Al-Qur’an perlu berjalan bersama dengan pembentukan sikap dan akhlak. Hafalan diharapkan tidak berhenti pada kemampuan mengingat ayat, tetapi berlanjut pada upaya memahami, menjaga, dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita ingin tahfidz menjadi bagian dari pembentukan karakter santri. Hafalan yang diperoleh harus dijaga dan diupayakan agar tercermin dalam sikap, kedisiplinan, serta kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Capaian Rahmadhani juga memperlihatkan bahwa pembinaan tahfidz membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, terutama pembina, guru, dan santri sendiri. Konsistensi dalam melakukan murojaah menjadi salah satu kunci agar hafalan yang telah diperoleh tetap terjaga.
Menumbuhkan Generasi Pecinta Al-Qur’an
Kelas Tahfidz menjadi salah satu ruang pendidikan yang diharapkan mampu melahirkan lebih banyak santri penghafal Al-Qur’an. Prosesnya tidak selalu berlangsung cepat, tetapi dibangun melalui kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus.
Bagi santri, capaian hafalan bukan sekadar pencapaian pribadi. Setiap hafalan yang berhasil diselesaikan menjadi bagian dari perjalanan untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan Al-Qur’an.
Melalui program tersebut, Darul Fallaah terus mengembangkan pembinaan santri yang memadukan pendidikan, ibadah, kedisiplinan, dan penguatan karakter. Dari proses yang dilakukan hari ini, diharapkan tumbuh generasi santri yang tidak hanya mampu menghafal Al-Qur’an, tetapi juga menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
0 Komentar