Bissoloro — Alumni Ponpes Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro kembali menorehkan capaian membanggakan. Ketiganya menjalani yudisium di Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh), Selasa, 1 September 2026, setelah menyelesaikan pendidikan di masing-masing program studi.
Ketiga alumni tersebut adalah Rahul H. Nyonri, S.Pd., Nurinayah, S.Pd., dan Herlina, S.Pd. Mereka menempuh bidang studi yang berbeda, namun memiliki jejak pendidikan yang sama, yakni pernah menjadi bagian dari keluarga besar Ponpes Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro.
Tiga Alumni, Tiga Bidang Keilmuan
Rahul H. Nyonri, S.Pd., lahir di Pannyambeang pada 11 Maret 2002. Alumni MA Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro ini menyelesaikan pendidikan pada Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), FKIP Unismuh Makassar.
Rahul merupakan putra dari H. M. Dg. Nyonri dan H. L. Dg. Lino.
Alumni berikutnya adalah Nurinayah, S.Pd., kelahiran Masago, 13 Mei 2004. Nurinayah merupakan alumni tahun 2022 dan menyelesaikan pendidikan pada Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD), FKIP Unismuh Makassar. Nurinayah merupakan putri dari Muh. Dahlan dan Sahariani.
Sementara itu, Herlina, S.Pd., lahir pada 30 Juli 2004. Herlina merupakan alumni MA Darul Fallaah Unismuh Makassar yang melanjutkan pendidikan pada Program Studi Pendidikan Matematika.
Tiga capaian tersebut menjadi gambaran keberlanjutan pendidikan alumni Darul Fallaah. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah di Bissoloro, mereka melanjutkan perjalanan akademiknya di perguruan tinggi dan kini mencapai salah satu tahapan penting dalam perjalanan pendidikan, yakni yudisium.
Prof. Erwin: Empowering Minds into Humanity
Prof. Erwin Akib, M.Pd., Ph.D., Direktur Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar yang sebelumnya menjabat Dekan FKIP Unismuh Makassar periode 2018–2025, menegaskan bahwa pengembangan pendidikan di FKIP tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik, tetapi juga pada bagaimana ilmu pengetahuan dapat melahirkan kepedulian dan kebermanfaatan bagi sesama.
Gagasan tersebut terangkum dalam semangat “Empowering Minds into Humanity”, yakni memberdayakan pikiran, pengetahuan, dan potensi akademik untuk kemudian diwujudkan dalam nilai-nilai kemanusiaan.
Menurut Prof. Erwin, pendidikan harus mampu melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan kemauan untuk membantu orang lain. Karena itu, nilai-nilai pendidikan di FKIP juga diintegrasikan dengan semangat gerakan sosial kemanusiaan, termasuk nilai ta’awun atau saling menolong.
“Pendidikan bukan hanya tentang bagaimana mahasiswa menyelesaikan studinya dan memperoleh gelar. Yang lebih penting adalah bagaimana ilmu yang mereka dapatkan mampu membentuk pribadi yang peduli, memiliki kepekaan terhadap lingkungan sosial, dan bersedia memberikan manfaat bagi orang lain,” ujar Prof. Erwin.
Ia menjelaskan, semangat Empowering Minds into Humanity menjadi salah satu gagasan yang mendorong FKIP untuk membangun ekosistem pendidikan yang tidak memisahkan antara kecerdasan akademik dan nilai kemanusiaan.
Dalam konteks tersebut, keberadaan FKIP PEDULI dan program beasiswa bagi mahasiswa menjadi salah satu bentuk konkret dari semangat ta’awun. Dukungan yang diberikan kepada mahasiswa bukan hanya persoalan membantu biaya pendidikan, tetapi juga bagian dari upaya memastikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak menjadi alasan seseorang kehilangan kesempatan untuk menyelesaikan pendidikannya.
“Ketika kita membantu seorang mahasiswa untuk menyelesaikan pendidikannya, sesungguhnya kita sedang membantu masa depan. Ada keluarga yang berharap, ada masyarakat yang menunggu kontribusinya, dan ada potensi besar yang harus kita jaga agar tidak berhenti di tengah jalan,” ungkapnya.
Menurutnya, tiga alumni Darul Fallaah yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi dan menjalani yudisium merupakan contoh bahwa kesempatan pendidikan yang diberikan kepada generasi muda dapat menghasilkan capaian yang nyata.
Ia berharap para alumni tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi mampu meneruskan mata rantai kebaikan tersebut di tengah masyarakat.
“Harapan kita, mereka yang hari ini mendapatkan kesempatan dan dukungan, kelak menjadi orang-orang yang juga memberikan kesempatan dan dukungan kepada orang lain. Itulah semangat ta’awun. Kita memberdayakan pikiran untuk kemudian menghadirkannya dalam kemanusiaan,” kata Prof. Erwin.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung program kepedulian dan beasiswa FKIP PEDULI.
“Terima kasih kepada semua pihak yang telah mengambil bagian dalam gerakan kepedulian ini. Mudah-mudahan setiap bantuan yang diberikan kepada mahasiswa menjadi amal jariyah, terus mengalir manfaatnya, dan melahirkan generasi yang berilmu, berkarakter, serta mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” tuturnya.
FKIP PEDULI dan Semangat Berbagi
Semangat kepedulian tersebut juga diwujudkan melalui FKIP PEDULI, yang memberikan dukungan beasiswa kepada mahasiswa.
Prof. Dr. Eny Syatriana, M.Pd., salah satu guru besar FKIP Unismuh Makassar, turut menjadi bagian dari semangat kepedulian tersebut. Profil resmi Unismuh mencatat Prof. Eny sebagai profesor pada bidang Pendidikan Bahasa Inggris.
Menurut Prof. Eny, pemberian beasiswa bukan sekadar bantuan dalam bentuk pembiayaan pendidikan. Di dalamnya terdapat pesan moral bahwa mahasiswa yang sedang berjuang menyelesaikan pendidikan memiliki orang-orang yang peduli terhadap masa depannya.
“Setiap dukungan yang diberikan kepada mahasiswa adalah bentuk kepedulian terhadap masa depan mereka. Kita berharap bantuan ini menjadi penyemangat agar mereka terus berjuang menyelesaikan pendidikan dan kelak memberikan manfaat yang lebih luas,” ungkap Prof. Eny.
Semangat tersebut diharapkan terus tumbuh menjadi budaya saling membantu di lingkungan pendidikan. Mahasiswa yang hari ini mendapatkan dukungan diharapkan kelak dapat meneruskan semangat kepedulian yang sama kepada generasi berikutnya.
Darul Fallaah Sampaikan Terima Kasih
Dukungan terhadap keberlanjutan pendidikan alumni tersebut mendapat apresiasi dari Direktur Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Dr. Dahlan Lama Bawa, M.Ag.
Ia menyampaikan terima kasih kepada FKIP Unismuh Makassar, FKIP PEDULI, serta seluruh pihak yang telah menunjukkan kepedulian terhadap mahasiswa melalui dukungan beasiswa.
Menurutnya, perhatian tersebut memiliki arti penting bagi keberlangsungan pendidikan mahasiswa. Beasiswa bukan hanya membantu dari sisi pembiayaan, tetapi juga menjadi bentuk kepercayaan dan motivasi bagi mahasiswa agar terus berjuang menyelesaikan pendidikan.
“Atas nama Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada FKIP Unismuh, FKIP PEDULI, Prof. Erwin Akib, Prof. Eny Syatriana, serta seluruh pihak yang telah memberikan perhatian dan bantuan kepada para mahasiswa,” ujar Dr. Dahlan Lama Bawa, M.Ag.
Ia berharap kepedulian tersebut dapat terus menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam membuka akses pendidikan dan melahirkan generasi yang memiliki ilmu serta kepedulian sosial.
“Semoga segala bantuan, perhatian, dan kepedulian yang telah diberikan menjadi amal jariyah. Semoga Allah SWT memberikan keberkahan kepada seluruh pihak yang telah membantu, melapangkan rezekinya, dan membalas setiap kebaikan dengan pahala yang berlipat ganda,” lanjutnya.
Direktur Darul Fallaah tersebut juga berpesan agar para alumni tidak berhenti pada pencapaian gelar akademik.
“Harapan kami, para alumni tidak berhenti pada pencapaian gelar sarjana. Ilmu yang telah diperoleh harus menjadi bekal untuk mengabdi dan memberikan manfaat. Dari Bissoloro mereka belajar, dan setelah menyelesaikan pendidikan, mereka diharapkan kembali hadir sebagai bagian dari solusi bagi masyarakat,” tuturnya.
Dari Bissoloro untuk Masa Depan
Yudisium tiga alumni tersebut menjadi momentum syukur sekaligus kebanggaan bagi keluarga besar Darul Fallaah. Rahul, Nurinayah, dan Herlina menunjukkan bahwa perjalanan pendidikan yang dimulai dari Bissoloro dapat berlanjut hingga perguruan tinggi.
Bagi Darul Fallaah, keberhasilan alumni bukan sekadar tentang gelar yang berhasil diraih. Lebih jauh, capaian tersebut merupakan bagian dari harapan agar setiap lulusan mampu membawa ilmu, nilai, dan pengalaman pendidikan untuk kemudian mengabdi kepada masyarakat.
Yudisium menjadi penanda berakhirnya satu fase akademik sekaligus awal dari perjalanan baru. Setelah ruang-ruang perkuliahan ditinggalkan, para alumni diharapkan memasuki ruang pengabdian dengan membawa ilmu dan nilai yang telah mereka peroleh.
Humas DF

1 Komentar
✍🏻
BalasHapus