PENGAJIAN BULANAN BERSAMA PCA LIMBUNG

 

Foto Bersama Pimpinan Ponpes Darul Fallaah, Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Limbung bersama Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bungaya.

Bissoloro, Gowa – Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Limbung bersama Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bungaya kembali menggelar Pengajian Bulanan yang berlangsung di Masjid Al-Aqabah, Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Ahad (21/6/2026). Kegiatan yang bertepatan dengan 06 Muharram 1448 H tersebut menjadi momentum refleksi tahun baru Islam sekaligus penguatan nilai-nilai dakwah dan pendidikan bagi masyarakat.

Kegiatan ini dihadiri oleh unsur pimpinan Muhammadiyah dan Aisyiyah, tokoh masyarakat, santri, serta jamaah dari berbagai wilayah di Kabupaten Gowa. Hadir sebagai pemateri utama Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Prof. Dr. H. Arifuddin Ahmad, M.Ag.

Dalam sambutannya, Ketua PCA Limbung Kabupaten Gowa, Hj. Andi Fatimah, menyampaikan bahwa Aisyiyah terus berupaya menjalankan perannya sebagai gerakan perempuan Islam yang berkomitmen pada penguatan pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial kemasyarakatan.

Menurutnya, berbagai amal usaha yang dikelola Aisyiyah merupakan bentuk nyata dakwah yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian ajaran Islam, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa PCA Limbung saat ini terus mengembangkan sejumlah amal usaha yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial sebagai sarana pembinaan umat.

Ia berharap seluruh amal usaha yang telah dibangun dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Selain itu, sinergi antara Aisyiyah, Muhammadiyah, lembaga pendidikan, dan masyarakat perlu terus diperkuat agar gerakan dakwah berkemajuan dapat dirasakan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Pada kesempatan tersebut, Hj. Andi Fatimah juga menyampaikan komitmen PCA Limbung untuk mendukung penguatan pendidikan Al-Qur'an melalui penyaluran mushaf Al-Qur'an kepada Pondok Pesantren Darul Fallaah. Menurutnya, pembinaan generasi Qurani merupakan investasi penting dalam membangun masa depan umat Islam.

Sementara itu, Ketua PCM Bungaya Kabupaten Gowa, H. Samsuddin, S.Pd., menyampaikan bahwa pengajian bulanan merupakan agenda rutin yang selama ini terus dilaksanakan sebagai bagian dari pembinaan keagamaan masyarakat dan penguatan ukhuwah Islamiyah.

Ia menegaskan bahwa forum pengajian memiliki peran strategis dalam meningkatkan pemahaman keislaman masyarakat sekaligus mempererat hubungan antara warga Muhammadiyah, Aisyiyah, dan masyarakat secara umum. Melalui kegiatan tersebut, nilai-nilai Islam dapat terus ditanamkan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

H. Syamsuddin juga menyampaikan rasa syukur atas kehadiran Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro. Menurutnya, sejak berdirinya pesantren tersebut, masyarakat merasakan dampak positif yang cukup signifikan, terutama dalam bidang pendidikan, pembinaan keagamaan, dan pengembangan karakter generasi muda.

"Kehadiran pesantren telah memberikan warna baru bagi kehidupan masyarakat. Semangat belajar agama semakin meningkat dan masyarakat semakin terdorong untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik," ujarnya.

Memasuki sesi inti pengajian, Prof. Dr. H. Arifuddin Ahmad, M.Ag. menyampaikan materi yang mengulas makna hijrah dari perspektif sejarah Islam, Al-Qur'an, hadis, dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Mengawali ceramahnya, Prof. Arifuddin menjelaskan tentang sejarah penamaan bulan-bulan dalam kalender Hijriah yang telah dikenal sejak masa Arab sebelum Islam dan kemudian dikukuhkan penggunaannya dalam peradaban Islam. Ia menjelaskan bahwa Al-Qur'an memberikan perhatian besar terhadap konsep waktu dan penanggalan sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah yang dapat dipelajari melalui pendekatan keagamaan maupun sains.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah At-Taubah ayat 36 yang menjelaskan bahwa jumlah bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan sebagaimana telah ditetapkan sejak penciptaan langit dan bumi. Menurutnya, ayat tersebut menunjukkan bahwa pengaturan waktu merupakan bagian dari ketetapan Allah yang menjadi pedoman kehidupan manusia.

Lebih lanjut, Prof. Arifuddin mengajak jamaah untuk memahami makna hijrah tidak hanya secara tekstual, tetapi juga secara kontekstual. Ia menilai bahwa sebagian umat Islam masih memahami hijrah sebatas peristiwa perpindahan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, padahal hijrah memiliki makna yang jauh lebih luas sebagai proses perubahan menuju kondisi yang lebih baik.

Menurutnya, hijrah harus dipahami sebagai perpindahan dari kebodohan menuju ilmu pengetahuan, dari kemalasan menuju produktivitas, dari kelemahan menuju kekuatan, serta dari berbagai bentuk kemunduran menuju kemajuan dan kebermanfaatan.

"Hijrah bukan hanya perpindahan geografis. Hijrah adalah perubahan kualitas hidup. Hijrah adalah keberanian meninggalkan hal-hal yang menghambat kemajuan menuju keadaan yang lebih baik dan lebih diridhai Allah," jelasnya.

Ia menegaskan bahwa proses hijrah tidak pernah berlangsung secara instan. Sebagaimana Rasulullah SAW membutuhkan perjuangan yang panjang dalam membangun masyarakat Madinah, demikian pula setiap individu memerlukan kesabaran, ketekunan, ilmu pengetahuan, dan konsistensi dalam melakukan perubahan.

Dalam ceramahnya, Prof. Arifuddin juga mengutip sejumlah ayat Al-Qur'an dan hadis yang berbicara tentang hijrah. Ia menjelaskan bahwa Al-Qur'an memberikan penghargaan yang tinggi kepada orang-orang yang berhijrah dan berjuang di jalan Allah. Selain itu, ia mengingatkan hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa seorang muhajir sejati adalah orang yang meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT.

Melalui penjelasan tersebut, ia menekankan bahwa makna hijrah tidak hanya berkaitan dengan perpindahan fisik, tetapi juga mencakup perubahan moral, spiritual, intelektual, dan sosial. Seseorang yang meninggalkan kebiasaan buruk, meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki akhlak, serta terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik juga merupakan bagian dari proses hijrah.

Prof. Arifuddin kemudian menghubungkan konsep hijrah dengan tema pengajian, yakni "Berhijrah dengan Ilmu dan Prestasi." Menurutnya, ilmu merupakan fondasi utama yang harus dimiliki umat Islam untuk menghadapi berbagai tantangan zaman. Dari ilmu akan lahir kemampuan berpikir, kreativitas, inovasi, dan berbagai prestasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia mengajak santri dan seluruh jamaah menjadikan momentum Tahun Baru Hijriah sebagai sarana evaluasi diri, memperkuat semangat belajar, meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki karakter, serta memperluas kontribusi sosial bagi umat dan bangsa.

"Hijrah yang sesungguhnya adalah perubahan yang terus bertumbuh. Semakin bertambah usia, semakin bertambah ilmu, semakin baik akhlak, dan semakin besar manfaat yang diberikan kepada sesama," ungkapnya.

Pengajian bulanan berlangsung dengan penuh khidmat dan antusiasme jamaah. Melalui kegiatan tersebut, Muhammadiyah dan Aisyiyah kembali meneguhkan komitmennya dalam membangun masyarakat Islam yang berilmu, berakhlak mulia, dan berkemajuan melalui dakwah yang mencerahkan serta pendidikan yang berkelanjutan.

(Humas Ponpes Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro)

Lebih baru Lebih lama