![]() |
| Prof. Dr. H. Arifuddin Ahmad, M.Ag. mengapresiasi GJTS sebagai upaya membentuk santri yang tangguh, adaptif, dan tidak bermental instan. |
Bissoloro, Gowa – Gerakan Jamaah Tani Santri (GJTS) Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro mendapat perhatian dan apresiasi dari Wakil Ketua sekaligus Koordinator Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PWM Sulawesi Selatan, Prof. Dr. H. Arifuddin Ahmad, M.Ag.
Program yang dikembangkan sebagai bagian dari pendidikan berbasis pesantren ini dinilai menjadi langkah strategis dalam membangun karakter santri yang mandiri, produktif, dan memiliki kepedulian terhadap ketahanan pangan serta kelestarian lingkungan.
Dalam penjelasannya, Direktur Pondok Pesantren Darul Fallaah, Dr. Dahlan Lamabawa, M.Ag., menyampaikan bahwa GJTS merupakan gerakan pendidikan pertanian yang dirancang untuk melatih rasa tanggung jawab santri terhadap seluruh proses budidaya tanaman.
Santri tidak hanya diajarkan menanam, tetapi juga dilibatkan secara langsung mulai dari tata cara persemaian bibit, persiapan media tanam, teknik penanaman, perawatan tanaman, hingga menjaga keamanan dan keberlangsungan tanaman yang mereka kelola.
Lebih lanjut, GJTS juga menjadi sarana pembelajaran kolaboratif yang melatih kerja sama kelompok, membentuk karakter peduli lingkungan, serta mendorong pemanfaatan lahan sebagai sumber kesejahteraan dan media belajar yang terpadu.
Menurutnya, lahan pesantren tidak hanya dipandang sebagai ruang produksi, tetapi juga sebagai laboratorium pendidikan yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, praktik lapangan, dan pembentukan karakter santri.
Melalui program ini, para santri juga dipersiapkan untuk membangun ketahanan pangan lokal dengan membudidayakan berbagai jenis sayuran yang hasilnya disuplai ke dapur asrama putra dan putri untuk dikonsumsi bersama.
Sementara itu, Prof. Arifuddin Ahmad memberikan apresiasi terhadap pengembangan GJTS. Menurutnya, keberhasilan program ini tidak semata-mata diukur dari banyaknya hasil panen yang diperoleh, melainkan dari nilai proses yang dibangun di dalamnya.
“Bukan hasil panennya yang paling utama, tetapi nilai dari sebuah proses. Melalui GJTS, kita sedang melatih dan menanamkan mental proses, bukan membentuk santri yang bermental instan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa GJTS merupakan bagian dari proses hijrah keilmuan, yakni mengajak santri bertransformasi dari pola pertanian konvensional menuju praktik pertanian kontemporer yang adaptif, profesional, dan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, Koordinator MPM PWM Sulawesi Selatan juga memberikan arahan kepada Ketua Komite Pondok agar melibatkan kelompok Tani dalam pengelolaan lahan milik Universitas Muhammadiyah Makassar seluas 75 hektare yang direncanakan untuk difungsikan sebagai Hutan Pendidikan Unismuh Makassar.
Pemanfaatan kawasan tersebut diharapkan menjadi ruang pembelajaran yang lebih luas bagi santri dalam mengembangkan kompetensi pertanian, konservasi lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat berbasis ekologi.
Melalui Gerakan Jamaah Tani Santri, Pondok Pesantren Darul Fallaah terus menegaskan komitmennya dalam menghadirkan model pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga membentuk generasi yang produktif, berdaya saing, dan siap menjawab tantangan masa depan melalui pendekatan pendidikan yang terpadu dan berkelanjutan.
