Darul Fallaah Angkat Kisah Sa'adiah Husen, Ibu Migran di Balik Tiga Sarjana

Di balik toga yang dikenakan Hijriyah Mansyur, S.H., tersimpan kisah panjang perjuangan seorang ibu yang merantau ke Malaysia demi masa depan ketiga putrinya.

Makassar – Di antara ribuan wisudawan yang mengikuti Wisuda ke-88 Universitas Muhammadiyah Makassar pada Sabtu (20/6/2026), terselip sebuah kisah perjuangan yang sarat makna. Hijriyah Mansyur, S.H., alumni Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, resmi menyandang gelar sarjana setelah menuntaskan pendidikan pada Program Studi Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyah), Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar.

Namun, di balik capaian akademik tersebut, tersimpan kisah perjuangan yang tidak biasa. Gelar sarjana yang diraih Hijriyah hari ini merupakan buah dari pengorbanan panjang seorang ibu, Sa'adiah Husen, yang selama bertahun-tahun bekerja sebagai pekerja migran di Malaysia demi membiayai pendidikan ketiga putrinya.

Hijriyah merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara yang tumbuh dalam lingkungan keluarga sederhana dan penuh perjuangan. Sejak kecil, ia menjalani kehidupan sebagai anak yatim dan dibesarkan oleh keteguhan sang ibu yang memilih merantau ke negeri orang demi memastikan anak-anaknya tetap dapat mengenyam pendidikan yang layak.

Perjalanan akademiknya juga tidak terlepas dari proses pembinaan di Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro. Bersama kedua kakaknya, Darmawati Mansyur, S.Pd.I. dan Yuyun Sukawati Mansyur, S.Pd., Hijriyah merupakan alumni Darul Fallaah yang tumbuh dalam tradisi pendidikan berbasis nilai-nilai keislaman, kedisiplinan, dan penguatan karakter.

Hari ini, Hijriyah menjadi orang ketiga dalam keluarganya yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi. Sebuah capaian yang menjadi simbol keberhasilan perjuangan keluarga yang menjadikan pendidikan sebagai jalan utama untuk mengubah masa depan.

Direktur Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Dr. Dahlan Lama Bawa, S.Ag., M.Ag., menyampaikan rasa bangga dan apresiasi atas capaian tersebut.

“Kisah Hijriyah adalah potret nyata bahwa pendidikan mampu mengubah kehidupan seseorang. Di balik keberhasilan ini, ada keteguhan seorang ibu dan kerja keras seorang anak yang tidak pernah menyerah pada keadaan. Darul Fallaah merasa bangga karena menjadi bagian dari perjalanan mereka. Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi seluruh santri untuk terus belajar, berjuang, dan menghormati pengorbanan orang tua,” ujarnya.

Di balik suasana bahagia wisuda, tersimpan pula kesedihan yang mendalam. Sang ibu belum dapat hadir secara langsung mendampingi Hijriyah karena masih bekerja di Malaysia.

Dengan penuh haru, Sa'adiah Husen menyampaikan perasaannya dari negeri rantau.

“Sebagai seorang ibu, tentu saya sangat sedih karena tidak bisa berada di samping anak saya pada hari yang sangat membahagiakan ini. Saya ingin sekali melihat langsung Hijriyah mengenakan toga dan menerima gelar sarjananya. Namun, karena masih bekerja di Malaysia, saya hanya bisa mengiringinya dengan doa dari kejauhan. Alhamdulillah, perjuangan yang kami lalui selama ini akhirnya membuahkan hasil,” tuturnya.

Baginya, seluruh pengorbanan yang dilakukan selama berada di negeri orang semata-mata demi masa depan anak-anaknya.

“Saya tidak pernah merasa lelah selama itu untuk pendidikan anak-anak. Bagi saya, pendidikan adalah warisan terbaik yang dapat saya tinggalkan. Alhamdulillah, hari ini ketiga putri saya berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi. Ini bukan keberhasilan saya seorang, tetapi keberhasilan keluarga, doa orang-orang baik, dan keberkahan pendidikan yang mereka dapatkan sejak di Pondok Pesantren Darul Fallaah,” ungkapnya.

Sementara itu, Darmawati Mansyur, S.Pd.I., sebagai kakak sulung, mengaku bahwa hari wisuda Hijriyah menjadi penutup dari perjalanan panjang perjuangan keluarga mereka.

“Hari ini bukan hanya tentang wisuda Hijriyah, tetapi tentang kemenangan sebuah perjuangan keluarga. Kami menyaksikan sendiri bagaimana ibu berjuang seorang diri demi memastikan anak-anaknya tetap bisa bersekolah. Banyak pengorbanan yang tidak terlihat oleh orang lain, tetapi semuanya terbayar dengan capaian hari ini,” ujarnya.

Ia juga mengaku bersyukur karena ketiganya pernah dididik di Darul Fallaah yang telah menjadi rumah pembinaan karakter dan tempat menanamkan semangat untuk terus belajar.

“Darul Fallaah bukan sekadar tempat belajar, tetapi rumah yang membentuk karakter, kedisiplinan, dan semangat kami untuk terus berkembang. Nilai-nilai itulah yang kami bawa hingga jenjang pendidikan tinggi,” tambahnya.

Bagi keluarga besar Darul Fallaah, kisah Hijriyah Mansyur merupakan potret bahwa pesantren tidak hanya mencetak lulusan yang berilmu, tetapi juga menjadi bagian dari lahirnya generasi yang tangguh, berkarakter, dan memiliki daya juang yang tinggi.

Di balik satu toga yang dikenakan hari ini, tersimpan ribuan doa, tetesan air mata, dan pengorbanan seorang ibu yang memilih meninggalkan kampung halaman demi memastikan masa depan anak-anaknya tetap terjaga.

Keluarga Besar Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro mengucapkan selamat dan sukses kepada Hijriyah Mansyur, S.H. Semoga ilmu yang diraih menjadi keberkahan, membawa manfaat bagi umat, dan menjadi inspirasi bagi generasi santri untuk terus bermimpi, berjuang, dan mengabdi.

Barakallahu fi 'ilmiki.

Lebih baru Lebih lama