Dua Putri Kedang Tempuh Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM), Ikut Wisuda ke 88 Unismuh Makassar

Makassar – Dua putri asal Kedang, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), resmi diwisuda sebagai kader Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) Universitas Muhammadiyah Makassar pada Wisuda ke-88 Universitas Muhammadiyah Makassar, Sabtu (20/6/2026). Mereka adalah Hijriyah Mansyur, S.H. dan Khairunnisa Aan, S.H., yang telah menyelesaikan proses pendidikan dan kaderisasi keulamaan di lingkungan PUTM Unismuh Makassar.

Momentum ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat regenerasi ulama muda Muhammadiyah, khususnya dari wilayah Kedang, yang diproyeksikan mampu berkontribusi dalam pengembangan keilmuan Islam, dakwah, dan transformasi sosial budaya di daerah asalnya.

Hijriyah Mansyur, S.H., lahir di Leubatang, 19 Februari 2004. Ia merupakan putri dari pasangan (alm.) Mansyur dan Sa'adiah Husen. Sementara Khairunnisa Aan, S.H., lahir di Peumole, 13 April 2004, dan merupakan putri dari pasangan Ahmad Daramanto dan Nurhayati Abdullah.

Keduanya berasal dari latar belakang keluarga yang menjadikan pendidikan sebagai jalan utama membangun masa depan. Mereka juga merupakan generasi muda Kedang yang ditempa melalui proses kaderisasi keulamaan yang terstruktur dan berkelanjutan.

Secara khusus, perjalanan Hijriyah Mansyur menjadi kisah inspiratif tersendiri. Sebagai anak yatim, ia tumbuh dalam perjuangan sang ibu, Sa'adiah Husen, yang selama bertahun-tahun bekerja sebagai pekerja migran di Malaysia demi memperjuangkan pendidikan anak-anaknya.

Selama menempuh pendidikan di PUTM Unismuh Makassar, para mahasiswa mendapatkan dukungan berupa beasiswa selama empat semester serta fasilitas penunjang yang memadai, meliputi asrama, meja belajar, kursi, lemari, listrik, air bersih, dan akses internet (WiFi).

Program PUTM dirancang untuk mencetak kader ulama yang memiliki kompetensi keilmuan yang kuat. Di antaranya adalah kemampuan membaca dan memahami kitab kuning, serta penguasaan ilmu tafsir melalui tiga pendekatan utama, yaitu Bayani, Burhani, dan Irfani.

Sekretaris PUTM Unismuh Makassar periode 2017–2026, Dr. Dahlan Lama Bawa, M.Ag., mengatakan bahwa kader ulama asal Kedang diharapkan mampu menjadi motor penggerak transformasi budaya di daerah asalnya.

“Kader ulama asal Kedang diharapkan mampu melakukan transformasi budaya dengan kapasitas keilmuan yang dimiliki. Budaya lokal tidak cukup hanya dilestarikan, tetapi juga perlu dikaji dan dikembangkan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya,” ujarnya.

Menurutnya, transformasi budaya tersebut perlu dibangun melalui pendekatan Maqashid Syari'ah, yakni Hifdz ad-Din (menjaga agama), Hifdz an-Nafs (menjaga jiwa), Hifdz al-'Aql (menjaga akal), Hifdz al-Mal (menjaga harta), dan Hifdz an-Nasab (menjaga keturunan).

Sementara itu, Ahmad Daramanto, orang tua Khairunnisa Aan yang juga menjabat sebagai Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Omesuri, menyampaikan rasa syukur atas capaian yang diraih kedua putri Kedang tersebut.

“Ini bukan sekadar keberhasilan akademik, tetapi lahirnya kader-kader ulama perempuan yang akan menjadi aset penting bagi masyarakat Kedang di masa depan. Kami berharap ilmu yang diperoleh tidak berhenti di bangku kuliah, tetapi dapat kembali diabdikan untuk masyarakat, khususnya dalam penguatan pendidikan, dakwah, dan pelestarian budaya lokal,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa masyarakat Kedang membutuhkan generasi muda yang mampu menjembatani nilai-nilai Islam dengan kekayaan budaya yang dimiliki daerahnya.

“Tantangan generasi saat ini semakin kompleks. Karena itu, dibutuhkan sosok yang memiliki kedalaman ilmu agama, kemampuan berpikir kritis, dan kepekaan sosial agar dapat menjadi penerus yang menjaga identitas budaya sekaligus membawa kemajuan bagi daerah,” tambahnya.

Keberhasilan Hijriyah Mansyur dan Khairunnisa Aan juga menjadi penanda semakin terbukanya ruang bagi perempuan untuk mengambil peran strategis dalam bidang keulamaan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.

Lebih dari sekadar capaian akademik, wisuda ini menjadi awal dari tanggung jawab pengabdian yang lebih besar. Keduanya diharapkan menjadi penggerak perubahan, penjaga identitas budaya, dan agen dakwah yang mampu menjembatani tradisi lokal dengan perkembangan zaman.

Bagi Muhammadiyah, lahirnya kader ulama dari wilayah kepulauan seperti Kedang merupakan investasi peradaban jangka panjang. Sebab, pembangunan masyarakat tidak hanya membutuhkan sumber daya manusia yang unggul secara intelektual, tetapi juga figur-figur yang mampu menjaga akar budaya sekaligus memperkuat nilai-nilai keislaman di tengah arus perubahan global.

Dari Kedang, lahir dua kader ulama perempuan yang membawa harapan baru: menjaga tradisi, merawat nilai-nilai Islam, dan membangun masa depan masyarakat dengan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.

Humas Darul Fallaah Unismuh Makassar

Lebih baru Lebih lama