| Hasrul Parawansyah, S.Pd., menyampaikan kajian Tafsir ayat-ayat populer dalam program Oase Jumat di Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro. |
GOWA — Program Oase Jumat di Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro kembali diisi dengan kajian tafsir ayat-ayat populer. Pada kajian kali ini, Hasrul Parawansyah, S.Pd., membahas Surah Al-Kahfi ayat 9–26 dengan tema “Kisah Ashabul Kahfi.”
Kajian tersebut mengajak santri menelusuri kisah para pemuda yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai Ashabul Kahfi atau para penghuni gua. Kisah ini menjadi salah satu bagian penting dalam Surah Al-Kahfi dan berlangsung dalam rentang ayat 9 hingga 26.
Keteguhan Pemuda Menjaga Keimanan
Dalam rangkaian ayat tersebut, Al-Qur’an menggambarkan sekelompok pemuda yang memilih berlindung ke dalam gua setelah mempertahankan keyakinannya. Pada ayat 10, mereka memohon kepada Allah agar diberikan rahmat dan petunjuk dalam menghadapi keadaan yang mereka hadapi.
Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana keimanan menjadi dasar bagi para pemuda dalam mengambil keputusan. Mereka tidak hanya menghadapi persoalan secara lahiriah, tetapi juga memohon pertolongan Allah dalam menentukan jalan yang benar.
Ayat-ayat berikutnya menggambarkan bagaimana Allah memberikan perlindungan kepada mereka di dalam gua dan membuat mereka tertidur dalam waktu yang sangat panjang. Kisah tersebut kemudian menjadi tanda kekuasaan Allah dan mengandung berbagai pelajaran mengenai keimanan, keteguhan hati, serta keterbatasan pengetahuan manusia.
Kajian akademik terhadap Surah Al-Kahfi ayat 9–26 juga menempatkan kisah Ashabul Kahfi sebagai gambaran tentang keteguhan iman, perlindungan Allah, serta hubungan manusia dengan kekuasaan dan tekanan lingkungan.
Tidak Terjebak pada Perdebatan Angka
Salah satu bagian menarik dari kisah Ashabul Kahfi adalah perbedaan pendapat mengenai berapa lama mereka berada di dalam gua. Al-Qur’an menyebutkan angka 300 tahun dan ditambah sembilan tahun dalam ayat 25, kemudian pada ayat 26 ditegaskan bahwa Allah lebih mengetahui berapa lama mereka tinggal di dalam gua.
Pesan tersebut memberikan pelajaran bahwa tidak semua hal dalam kisah Al-Qur’an harus diarahkan pada perdebatan mengenai rincian yang tidak menjadi inti pesan. Ayat 26 justru mengembalikan pengetahuan tentang perkara tersebut kepada Allah sebagai pemilik pengetahuan tentang segala yang gaib.
Menarik Pelajaran untuk Kehidupan Santri
Melalui Oase Jumat, kajian kisah Ashabul Kahfi dapat ditempatkan dekat dengan kehidupan santri. Keteguhan mempertahankan keyakinan, keberanian mengambil sikap, memohon pertolongan Allah, serta tidak mudah terpengaruh oleh keadaan menjadi sejumlah nilai yang dapat direnungkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kisah tersebut juga menunjukkan bahwa usia muda bukan alasan untuk mengabaikan tanggung jawab terhadap keyakinan dan pilihan hidup. Para pemuda Ashabul Kahfi justru menjadi tokoh utama dalam kisah yang kemudian diabadikan dalam Al-Qur’an.
Bagi santri Darul Fallaah, kajian tafsir dalam Oase Jumat menjadi ruang untuk membaca Al-Qur’an tidak hanya dari sisi bacaan, tetapi juga memahami pesan dan konteks ayat. Dengan demikian, kisah yang terdapat dalam Al-Qur’an dapat menjadi bahan refleksi untuk membangun sikap dan karakter dalam kehidupan pesantren.
#HumasDF
0 Komentar