Nur Hanifah Az-Zahra Bahas Dua Karakter yang Harus Dimiliki Muslim


Santri kelas XI Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Nur Hanifah Az-Zahra Ramadhani Liliweri, saat menyampaikan kultum ba’da Subuh bertema “2 Karakter yang Harus Dimiliki Muslim”, Selasa (29/9/2026).

BISSOLORO — Suasana pagi di Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro kembali diisi dengan kultum ba’da Subuh. Kali ini, giliran Nur Hanifah Az-Zahra Ramadhani Liliweri, santri kelas XI asal Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang menyampaikan kultum dengan tema “2 Karakter yang Harus Dimiliki Muslim”, Selasa (29/9/2026).

Di hadapan para santri, Nur Hanifah mengajak untuk memahami bahwa menjadi seorang Muslim tidak cukup hanya dengan mengetahui dan menjalankan ibadah, tetapi juga perlu membangun karakter yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Tema yang dibawakannya menjadi bagian dari pembinaan santri melalui kegiatan kultum ba’da Subuh. Kesempatan tampil di hadapan santri lainnya juga menjadi ruang bagi Nur Hanifah untuk melatih keberanian, kemampuan berbicara, sekaligus menyampaikan pesan-pesan keislaman yang telah dipelajarinya.

Sebagai santri yang berasal dari Lembata, NTT, Nur Hanifah menjalani kehidupan pesantren jauh dari keluarga. Ia merupakan putri dari Muhammad Rahman Liliweri dan Kamsiati Azis, yang sehari-hari bekerja sebagai petani.

Kehidupan sebagai santri juga dijalani Nur Hanifah dengan aktif mengikuti berbagai kegiatan di pesantren. Ia tercatat mengikuti ekstrakurikuler Tapak Suci, Hizbul Wathan (HW), dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).

Tidak hanya aktif dalam kegiatan organisasi dan ekstrakurikuler, Nur Hanifah juga memiliki sejumlah capaian. Ia pernah meraih Juara 2 Lomba Menulis serta Juara 2 Fashion Show.

Keterlibatan dalam berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan diri Nur Hanifah selama menempuh pendidikan di Darul Fallaah. Kemampuan menulis, tampil di depan umum, berorganisasi, serta mengikuti kegiatan kepesantrenan menjadi pengalaman yang saling melengkapi dalam proses pendidikannya.

Kultum ba’da Subuh juga menjadi salah satu sarana bagi santri Darul Fallaah untuk membiasakan diri berbicara di depan publik dan menyampaikan gagasan secara terarah. Setiap santri mendapat kesempatan untuk tampil dengan tema yang berkaitan dengan kehidupan, keislaman, akhlak, maupun pengalaman sebagai seorang penuntut ilmu.

Melalui kegiatan tersebut, pesantren tidak hanya mendorong santri untuk memahami ilmu agama, tetapi juga membangun keberanian, tanggung jawab, dan kemampuan berkomunikasi. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi bekal bagi santri dalam menjalani kehidupan di tengah masyarakat.

Bagi Nur Hanifah, kesempatan menyampaikan kultum menjadi bagian dari perjalanan belajarnya di pesantren. Dari Lembata, ia hadir di Bissoloro untuk menuntut ilmu sekaligus mengembangkan potensi melalui berbagai kegiatan yang tersedia di lingkungan pesantren.

Kegiatan kultum ba’da Subuh kemudian ditutup dengan pesan agar nilai-nilai yang disampaikan tidak berhenti sebagai materi ceramah, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, karakter seorang Muslim pada akhirnya tercermin dari sikap dan perilakunya dalam menjalankan kehidupan.

#HumasDF

Posting Komentar

0 Komentar