| Nur Fadilah, santri akhwat kelas VIII SMP Darul Fallaah Unismuh Makassar, berhasil menyelesaikan hafalan Juz 1 Al-Qur’an secara bil ghaib sekali duduk di Masjid Al-Aqabah, Sabtu (19/9/2026). |
BISSOLORO — Prestasi di bidang tahfiz kembali ditorehkan santri Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar. Nur Fadilah, santri akhwat kelas VIII SMP Darul Fallaah, berhasil menyelesaikan hafalan Juz 1 Al-Qur’an secara bil ghaib sekali duduk, Sabtu (19/9/2026).
Capaian tersebut berlangsung di Masjid Al-Aqabah, Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, mulai pukul 20.00 WITA hingga selesai.
Nur Fadilah merupakan santri yang berasal dari Masago, Desa Bissoloro, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa. Capaian hafalan tersebut menjadi bagian dari proses pembinaan tahfiz yang berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan di lingkungan pesantren.
Hafalan Bil Ghaib Sekali Duduk
Kemampuan menyelesaikan hafalan Juz 1 secara bil ghaib dalam sekali duduk menunjukkan adanya proses persiapan dan pengulangan hafalan yang dilakukan secara serius.
Dalam pembelajaran tahfiz, kemampuan menghafal tidak hanya berkaitan dengan menambah jumlah ayat yang dikuasai, tetapi juga menjaga kelancaran, ketepatan bacaan, serta kemampuan mengingat ayat tanpa melihat mushaf.
Karena itu, capaian Nur Fadilah menjadi salah satu bagian dari proses pembinaan yang menekankan pentingnya hafalan, murojaah, ketelitian bacaan, dan konsistensi.
Direktur: Hafalan Harus Diiringi Pengamalan
Direktur Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar, Dr. Dahlan Lama Bawa, M.Ag., mengapresiasi capaian tersebut sebagai bagian dari perkembangan pembinaan Al-Qur’an di pesantren.
Menurutnya, capaian hafalan perlu dipandang bukan semata sebagai jumlah juz yang berhasil diselesaikan, tetapi sebagai proses membangun kedekatan santri dengan Al-Qur’an.
“Capaian hafalan adalah sesuatu yang patut disyukuri. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana hafalan tersebut terus dijaga melalui murojaah dan kemudian tercermin dalam sikap dan akhlak santri. Al-Qur’an harus menjadi bagian dari kehidupan, bukan hanya tersimpan dalam hafalan,” ujar Dr. Dahlan.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga semangat santri dalam melanjutkan proses tahfiz. Setiap capaian, menurutnya, harus menjadi motivasi untuk melanjutkan hafalan sekaligus memperkuat kualitas bacaan dan pemahaman terhadap Al-Qur’an.
“Kita ingin anak-anak memiliki kecintaan kepada Al-Qur’an. Ketika mereka mampu menghafal, itu adalah satu tahap. Selanjutnya adalah menjaga hafalan, memahami pesan Al-Qur’an, dan berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” lanjutnya.
Kepala Tahfiz: Jangan Berhenti pada Capaian Hafalan
Sementara itu, Kepala Tahfiz Ponpes Darul Fallaah, Unismuh Makassar di Bissoloro K.M. Muh. Salim, S.Pd.I., menjelaskan bahwa keberhasilan menyelesaikan hafalan secara bil ghaib merupakan hasil dari proses yang membutuhkan kesungguhan dan pengulangan secara konsisten.
Ia menilai bahwa tantangan setelah menyelesaikan hafalan justru terletak pada bagaimana santri mampu mempertahankan hafalan agar tetap kuat.
“Hafalan yang sudah diselesaikan harus terus dijaga. Karena itu, setelah mencapai satu juz, santri tetap perlu memperbanyak murojaah agar hafalannya tidak mudah lupa. Proses tahfiz bukan hanya mengejar tambahan hafalan, tetapi juga menjaga hafalan yang sudah ada,” jelas K.M. Muh. Salim.
Menurutnya, metode bil ghaib melatih santri untuk memiliki daya ingat yang kuat sekaligus meningkatkan kepercayaan diri dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Ia juga mengingatkan agar santri tidak menjadikan pencapaian hafalan sebagai titik akhir.
“Setiap capaian harus menjadi langkah untuk melanjutkan ke tahap berikutnya. Yang paling penting adalah istiqamah. Sedikit demi sedikit, tetapi terus dijaga dan diulang. Dengan begitu, hafalan akan semakin kuat,” tambahnya.
Tahfiz sebagai Proses Pembentukan Karakter
Program tahfiz di Darul Fallaah tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan santri yang mampu menghafal Al-Qur’an. Proses tersebut juga menjadi bagian dari pembentukan karakter melalui kedisiplinan, kesabaran, ketekunan, dan tanggung jawab.
Santri belajar mengalokasikan waktu untuk menambah hafalan sekaligus melakukan murojaah. Mereka juga dilatih untuk mempertahankan konsistensi meskipun harus membagi waktu dengan kegiatan pembelajaran dan aktivitas pesantren lainnya.
Capaian Nur Fadilah menjadi salah satu contoh bahwa proses tersebut dapat menghasilkan perkembangan yang terukur ketika dijalani dengan kesungguhan.
Ke depan, capaian tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi bagi santri lainnya untuk terus meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an, baik melalui membaca, menghafal, murojaah, maupun memahami kandungannya.
Dengan demikian, Juz 1 yang berhasil dihafalkan Nur Fadilah secara bil ghaib sekali duduk bukan menjadi akhir, melainkan bagian dari perjalanan panjang menjaga Al-Qur’an dalam kehidupan seorang santri.
#HumasDF
0 Komentar