![]() |
| Ananda Manja Sofia, santri kelas IX SMP Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, saat menyampaikan kultum ba’da Subuh bertema “2 Syarat Amalan Diterima”, Ahad (7/9/2026). |
BISSOLORO — Nilai keikhlasan dan kesesuaian dengan tuntunan agama menjadi pesan utama yang disampaikan Ananda Manja Sofia, santri kelas IX SMP Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, dalam kultum ba’da Subuh, Ahad, 7 September 2026. Mengangkat tema “2 Syarat Amalan Diterima”, Manja mengajak para santri untuk tidak hanya memperbanyak amal, tetapi juga memperhatikan kualitas dan dasar dari setiap amal yang dilakukan.
Dalam penyampaiannya, Manja menjelaskan bahwa amal yang dilakukan seorang muslim perlu dilandasi keikhlasan karena Allah SWT dan dilaksanakan sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Kedua hal tersebut menjadi prinsip penting agar ibadah dan amal kebaikan memiliki nilai di sisi Allah.
Ikhlas dan Sesuai Tuntunan
Manja mengajak para santri memahami bahwa banyaknya amal belum tentu menjadi ukuran diterimanya suatu amalan. Seorang muslim perlu memastikan bahwa amal tersebut dilakukan dengan niat yang benar dan tidak semata-mata untuk mendapatkan pujian atau pengakuan dari manusia.
Selain keikhlasan, amal juga perlu dilakukan sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Dengan demikian, santri diharapkan tidak hanya memiliki semangat berbuat baik, tetapi juga terus belajar agar mengetahui bagaimana sebuah ibadah dan kebaikan seharusnya dilakukan.
Pesan tersebut relevan dengan kehidupan santri yang setiap hari menjalankan berbagai aktivitas keagamaan, mulai dari salat berjamaah, mengaji, belajar, mengikuti pembinaan, hingga membantu sesama.
Kultum sebagai Pembinaan Karakter Santri
Kegiatan kultum ba’da Subuh menjadi salah satu sarana pembinaan yang memberikan kesempatan kepada santri untuk menyampaikan pesan-pesan keislaman sekaligus melatih keberanian berbicara di depan jamaah.
Bagi Manja Sofia, kesempatan tersebut menjadi pengalaman untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dan menyampaikan nilai agama kepada sesama santri.
Kultum juga menjadi bagian dari pembiasaan agar santri mampu menghubungkan ilmu yang dipelajari dengan praktik kehidupan sehari-hari.
Santri Asal Lembata yang Aktif Berkegiatan
Manja Sofia merupakan santri asal Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia merupakan putri dari Ahmad dan Rindiany Abdullah, yang berprofesi sebagai asisten rumah tangga.
Selama menempuh pendidikan di Darul Fallaah, Manja aktif mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler, yakni Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Tapak Suci (TS), dan Hizbul Wathan (HW).
Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan tersebut menjadi ruang bagi Manja untuk mengembangkan kemampuan organisasi, kedisiplinan, kepemimpinan, kerja sama, serta keterampilan lainnya di luar pembelajaran kelas.
Di bidang seni, Manja juga mencatatkan prestasi dengan meraih Juara 2 Lomba Tari Darul Fallaah CUP I Tahun 2026.
Prestasi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan kepesantrenan dapat menjadi ruang bagi santri untuk mengembangkan potensi yang beragam, baik dalam bidang keagamaan, akademik, organisasi, maupun seni.
Mengamalkan, Bukan Sekadar Mengetahui
Pesan tentang dua syarat diterimanya amal menjadi pengingat bahwa ilmu agama perlu diwujudkan dalam tindakan.
Santri tidak hanya diharapkan mengetahui konsep keikhlasan dan mengikuti tuntunan agama, tetapi juga membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Mulai dari belajar dengan niat yang baik, membantu teman tanpa mengharapkan pujian, menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, hingga melaksanakan ibadah sesuai tuntunan merupakan bentuk konkret dari pesan yang disampaikan Manja.
Dari mimbar ba’da Subuh, Manja Sofia mengajak santri untuk memperbanyak amal sekaligus memperbaiki niat dan cara melaksanakannya—agar setiap kebaikan menjadi amal yang bernilai di hadapan Allah SWT.

0 Komentar