Aqil Rahmatullah Bawa Pesan tentang Kemuliaan Penghafal Al-Qur’an


Aqil Rahmatullah, santri kelas IX Tahfidz Darul Fallaah, menyampaikan kultum ba’da Magrib bertema “Mulianya Penghafal Al-Qur’an”, Senin (28/9/2026).

GOWA — Santri kelas IX Tahfidz Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Aqil Rahmatullah, menyampaikan kultum ba’da Magrib pada Senin (28/9/2026). Ia mengangkat tema “Mulianya Penghafal Al-Qur’an.”

Dalam kultumnya, Aqil mengajak para santri untuk memahami bahwa menghafal Al-Qur’an bukan sekadar kemampuan mengingat ayat, tetapi juga merupakan proses membangun kedekatan dengan Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan.

Menghafal Bukan Sekadar Mengingat

Menjadi penghafal Al-Qur’an membutuhkan ketekunan, kesabaran, kedisiplinan, dan konsistensi. Hafalan juga perlu dijaga melalui pengulangan dan interaksi yang terus-menerus dengan Al-Qur’an.

Kementerian Agama melalui Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an menempatkan para penghafal Al-Qur’an sebagai bagian dari masyarakat yang berperan dalam menjaga tradisi pemeliharaan dan pengajaran Al-Qur’an.

Karena itu, kemuliaan seorang penghafal Al-Qur’an tidak hanya dilihat dari banyaknya ayat yang mampu dihafal, tetapi juga dari bagaimana hafalan tersebut membentuk sikap dan perilakunya.

Al-Qur’an sebagai Pedoman Hidup

Aqil juga mengajak santri agar kecintaan terhadap Al-Qur’an tidak berhenti pada aktivitas menghafal. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu dipahami dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kementerian Agama mencatat sejumlah hadis tentang keutamaan berinteraksi dengan Al-Qur’an, di antaranya hadis tentang orang yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an serta hadis tentang Al-Qur’an sebagai syafaat bagi para pembacanya.

Pesan tersebut menjadi relevan bagi santri program Tahfidz Darul Fallaah. Proses menghafal menuntut ketekunan, sementara menjaga hafalan membutuhkan kedisiplinan yang dilakukan secara berkelanjutan.

Dari Biboro Menekuni Tahfidz

Aqil Rahmatullah merupakan santri kelas IX Tahfidz Darul Fallaah. Ia merupakan putra dari Malik Dg. Ruppa dan Syamsiah Dg. Kanan, yang berprofesi sebagai petani. Aqil berasal dari Biboro.

Dalam perjalanan tahfidznya, Aqil pernah mengikuti Karantina Tahfidz selama dua bulan dan meraih predikat jayyid.

Ia juga aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler Tahfidz Al-Qur’an, sehingga tema yang dibawakan dalam kultum memiliki keterkaitan langsung dengan aktivitas pembinaan yang dijalaninya di pesantren.

Kultum Menjadi Ruang Berbagi Motivasi

Kultum ba’da Magrib menjadi salah satu ruang bagi santri Darul Fallaah untuk belajar menyampaikan pesan keislaman sekaligus berbagi motivasi kepada teman-temannya.

Melalui tema “Mulianya Penghafal Al-Qur’an,” Aqil membawa pesan bahwa menjadi penghafal Al-Qur’an merupakan sebuah amanah yang membutuhkan kesungguhan. Hafalan perlu dijaga, dipelajari, dan diupayakan agar tercermin dalam akhlak sehari-hari.

Bagi santri, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan bersama Al-Qur’an bukan hanya tentang mencapai target hafalan, tetapi juga tentang membangun hubungan yang terus hidup dengan kitab suci.

#HumasDF

Posting Komentar

0 Komentar