Pesan AM Iqbal Parewangi Pada Pengajian Terpadu Ponpes Darul Fallaah Bersama PDM Gowa

Ustaz H. Andi Muhammad Iqbal Parewangi, S.Si., M.Sc., 

BISSOOLORO – Masjid tidak cukup hanya menjadi tempat yang ramai oleh aktivitas ibadah. Masjid harus mampu menghidupkan dan memakmurkan kehidupan umat. 

Pesan tersebut disampaikan Ustaz H. Andi Muhammad Iqbal Parewangi, S.Si., M.Sc., dalam Pengajian Terpadu Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gowa bersama Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro.

Pengajian bertema “Masjid sebagai Jantung Kehidupan Umat” tersebut berlangsung di Moncong Sipolong, Kawasan Wisata Hutan Pinus Bissoloro, Kabupaten Gowa, Ahad (9/8/2026).

Dalam materi bertajuk “Masjid Makmur Memakmurkan”, Ustaz Iqbal menggunakan analogi jantung untuk menjelaskan posisi masjid dalam kehidupan umat. Sebagaimana jantung bekerja mengalirkan kehidupan ke seluruh tubuh, masjid semestinya menjadi pusat yang mengalirkan nilai, ilmu, kepedulian, dan kebaikan kepada masyarakat.

Menurutnya, aktivitas di masjid tidak seharusnya berhenti di ruang ibadah. Salat, misalnya, harus melahirkan perubahan dalam kehidupan sosial. Jamaah datang ke masjid untuk dibina dan disadarkan, kemudian kembali ke tengah masyarakat dengan membawa nilai-nilai kebaikan.

Dengan perspektif tersebut, masjid menjadi “sistem sirkulasi nilai”: manusia datang, memperoleh pembinaan spiritual, lalu kembali kepada kehidupan sosial dengan membawa kesalehan yang lebih luas.

Masjid Membentuk Manusia Sosial

Ustaz Iqbal juga mengaitkan fungsi masjid dengan pesan Surah At-Taubah ayat 18, yang memuat keterkaitan antara iman, salat, zakat, dan keberanian moral.

Masjid, menurut kerangka tersebut, tidak hanya diarahkan untuk membentuk manusia yang tekun beribadah, tetapi juga manusia yang memiliki tanggung jawab sosial dan keberanian moral. Karena itu, kesalehan individual dan kesalehan sosial harus berjalan beriringan.

Ia kemudian membawa jamaah pada refleksi sejarah Muhammadiyah melalui kisah Kauman. Pelurusan kiblat ditempatkan sebagai metafora bahwa sebuah organisasi, bangsa, maupun amal usaha yang terus berkembang tetap perlu melakukan evaluasi terhadap “kiblat moral” agar pertumbuhan tidak kehilangan arah.

Gagasan itu kemudian dipertegas dengan prinsip bahwa masjid harus hidup melalui ibadah, tetapi kemakmuran masjid juga harus mengalir keluar dalam bentuk kesalehan sosial.

Dari Masjid Al-Aqabah untuk Masa Depan Umat

Pesan tersebut memiliki relevansi langsung dengan keberadaan Masjid Al-Aqabah Ponpes Darul Fallaah.

Masjid Al-Aqabah tidak hanya memiliki fungsi sebagai tempat ibadah bagi santri, tetapi memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai pusat pembinaan dan pemberdayaan umat di Bissoloro.

Dalam perspektif Ustaz Iqbal, masjid yang hidup dapat menjadi ruang pendidikan, pembinaan generasi, silaturahmi, dakwah, hingga pemberdayaan masyarakat. Karena itu, ukuran kemakmuran masjid tidak semata-mata dilihat dari bangunan atau jumlah jamaah, tetapi dari dampak yang dihasilkan bagi kehidupan masyarakat.

Gagasan tersebut kemudian diarahkan pada kebutuhan lokal. Masjid dapat mengembangkan berbagai agenda sesuai kebutuhan masyarakat, mulai dari pemetaan warga rentan, kelas literasi, pendampingan UMKM, penyediaan ruang bagi anak muda, kesiapsiagaan bencana, hingga penguatan kepedulian terhadap lingkungan.

Masjid dan Generasi Muda

Salah satu tantangan penting yang disoroti adalah bagaimana menjadikan masjid tetap relevan bagi generasi muda.

Masjid, menurut materi pengajian tersebut, tidak harus menjadi ruang yang terpisah dari perkembangan zaman. Literasi digital, kecerdasan buatan, sains, bahasa, kewirausahaan, dan isu kesehatan mental dapat ditempatkan dalam orbit pembinaan umat, dengan tauhid tetap menjadi pusat orientasi.

Perspektif ini membuka ruang bagi masjid untuk menjadi tempat tumbuhnya generasi yang tidak hanya memahami agama, tetapi juga memiliki kemampuan menghadapi perubahan sosial dan perkembangan teknologi.

Bagi lingkungan pesantren, gagasan tersebut menjadi semakin penting. Masjid dapat menjadi ruang yang mempertemukan pendidikan keagamaan, pembentukan karakter, kepemimpinan, literasi, dan kepedulian sosial.

Dari Al-Ma'un Menuju Gerakan yang Berkelanjutan

Ustaz Iqbal juga mengaitkan gagasan memakmurkan masjid dengan tradisi amal sosial Muhammadiyah.

Pembahasan mengenai Al-Ma'un diarahkan pada pentingnya menjadikan kepedulian sosial sebagai gerakan yang terorganisasi. Amal tidak cukup berhenti pada tindakan personal, tetapi perlu dibangun dalam sistem kelembagaan agar manfaatnya dapat terus berlangsung lintas generasi.

Dalam konteks ini, organisasi menjadi instrumen untuk menjaga kesinambungan amal. Pendidikan, kesehatan, pemberdayaan, dan pelayanan sosial dapat tumbuh sebagai bentuk nyata dari nilai-nilai yang berangkat dari masjid.

Bissoloro sebagai Titik Tumbuh Peradaban

Pengajian tersebut juga menempatkan Bissoloro dan Gowa sebagai bagian dari ruang tumbuhnya peradaban umat.

Setiap tempat yang memiliki masjid dan jamaah memiliki peluang untuk menjadi titik awal gerakan kebaikan. Karena itu, posisi Bissoloro bukan sekadar lokasi pesantren dan kegiatan pengajian, tetapi juga dapat menjadi ruang tumbuhnya gerakan pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

Pesan ini menjadi penting bagi Ponpes Darul Fallaah yang tahun ini memasuki usia 20 tahun. Dua dekade perjalanan bukan hanya momentum untuk melihat apa yang telah dibangun, tetapi juga untuk merumuskan apa yang akan diberikan kepada masyarakat pada masa mendatang.

Mengubah Semangat Menjadi Gerakan

Pada bagian akhir materi, jamaah diajak menerjemahkan gagasan besar tentang masjid ke dalam langkah nyata.

Perubahan tidak harus dimulai dengan banyak program sekaligus. Langkah awal dapat dilakukan dengan mengukur kondisi, menentukan prioritas, membangun kolaborasi, dan melaporkan dampaknya. Siklus tersebut menjadi cara agar semangat memakmurkan masjid dapat berkembang menjadi tata kelola yang terukur dan berkelanjutan.

Bagi Masjid Al-Aqabah, gagasan tersebut membuka cakrawala pengembangan yang lebih luas. Masjid dapat menjadi titik temu antara santri, guru, alumni, orang tua, Muhammadiyah, dan masyarakat Bissoloro untuk membangun berbagai bentuk kemanfaatan.

Pengajian Ustaz Iqbal akhirnya tidak berhenti pada pertanyaan “seberapa ramai masjid?”, tetapi mengajak umat mengajukan pertanyaan yang lebih substantif: “seberapa besar kehidupan masyarakat berubah karena masjid?”

Pertanyaan tersebut menjadi refleksi penting bagi keluarga besar Ponpes Darul Fallaah dalam memasuki usia 20 tahun.

Dari Masjid Al-Aqabah, masa depan umat tidak hanya dibangun melalui aktivitas ibadah, tetapi melalui ilmu, pembinaan generasi, kepedulian sosial, dan amal yang terus bergerak.

Sebagaimana pesan penutup dalam materi pengajian, dari masjid umat meluruskan kiblat, menjernihkan hati, membangun manusia, menggerakkan amal, dan memakmurkan peradaban.

Posting Komentar

0 Komentar