HINGALAMAMENGI, LEMBATA – Penyambutan rombongan Kunjungan Muhibah dan Studi Budaya Lintas Flores 2026 Pondok Pesantren Darul Fallaah Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar di Desa Hingalamamengi, Kecamatan Buyasuri, Kabupaten Lembata, tidak hanya dikemas sebagai seremoni penerimaan tamu, tetapi juga menjadi ruang dialog kebudayaan yang mempertemukan nilai-nilai adat Kedang dengan ajaran Islam. Konsep tersebut disusun untuk memperkuat silaturahim sekaligus memperkaya wawasan kebudayaan seluruh peserta.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Prolog Budaya Kedang yang disampaikan oleh tokoh adat setempat, Pa Mangge. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan sejarah, identitas, dan filosofi masyarakat Kedang yang memiliki bahasa, adat istiadat, serta sistem nilai yang diwariskan secara turun-temurun. Meski menjadi bagian dari komunitas budaya Lamaholot di Pulau Lembata, masyarakat Kedang tetap memiliki kekhasan bahasa dan tradisi yang menjadi identitas kolektif mereka.
Menurut Pa Mangge, masyarakat Kedang sejak dahulu mengenal konsep ketuhanan yang disebut Tuang Alata'ala (Latala). Istilah tersebut merupakan penyebutan lokal terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam tradisi masyarakat Kedang. Setelah Islam berkembang di wilayah tersebut, masyarakat memahami bahwa Tuang Alata'ala adalah Allah Swt., Tuhan yang sama sebagaimana diajarkan dalam Islam, hanya berbeda dalam penyebutan sesuai dengan bahasa dan tradisi setempat.
"Masyarakat Kedang menyebut Tuhan dengan istilah Tuang Alata'ala. Ketika Islam datang, kami memahami bahwa yang dimaksud adalah Allah Swt. Hakikat Tuhan tetap satu, hanya penyebutannya yang berbeda sesuai bahasa dan budaya masyarakat," ujar Pa Mangge.
Dalam perspektif Islam, penjelasan tersebut diperkaya dengan pemahaman bahwa keberagaman budaya merupakan bagian dari kehendak Allah Swt. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 30, manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi yang memiliki amanah untuk mengelola kehidupan, termasuk merawat dan mengembangkan kebudayaan sebagai bagian dari peradaban manusia.
Selain itu, Pa Mangge juga mengaitkan nilai-nilai budaya Kedang dengan prinsip-prinsip syariat Islam. Ia menjelaskan bahwa adat istiadat yang mengandung nilai kebaikan, persaudaraan, gotong royong, penghormatan kepada sesama, serta menjaga keharmonisan sosial merupakan bagian dari kearifan lokal yang patut dipelihara.
Pandangan tersebut sejalan dengan firman Allah Swt. dalam QS. Al-A'raf ayat 199:
"Jadilah engkau pemaaf, perintahkanlah kepada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh."
Dalam kajian fikih Islam, konsep 'urf (adat kebiasaan yang baik) diakui sebagai salah satu pertimbangan dalam pengembangan hukum Islam selama tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Karena itu, budaya lokal dipandang sebagai bagian dari kekayaan peradaban yang dapat dilestarikan sepanjang mengandung nilai-nilai kemaslahatan.
Sebagai bagian dari dialog budaya, rombongan Pondok Pesantren Darul Fallaah juga akan memperkenalkan nilai-nilai luhur budaya Bugis-Makassar. Materi tersebut akan disampaikan oleh Wakil Direktur I Pondok Pesantren Darul Fallaah, Supriadi, S.Pd., M.Pd., yang akan mengulas berbagai falsafah hidup masyarakat Bugis-Makassar, terutama konsep siri' na pacce sebagai nilai kehormatan, solidaritas, tanggung jawab, dan kepedulian sosial yang telah menjadi karakter masyarakat Sulawesi Selatan.
Dalam pemaparannya, Supriadi akan menjelaskan bahwa Islam dan budaya memiliki hubungan yang saling menguatkan. Kehadiran Islam tidak menghapus budaya yang telah hidup di tengah masyarakat, melainkan menyaring, meluruskan, dan memperkuat nilai-nilai luhur yang selaras dengan ajaran syariat.
"Budaya merupakan identitas suatu masyarakat. Islam hadir bukan untuk menghilangkan identitas tersebut, tetapi mengarahkan agar budaya tetap menjadi sarana menghadirkan kemaslahatan. Nilai-nilai seperti siri' na pacce, musyawarah, gotong royong, penghormatan kepada orang tua, dan kepedulian terhadap sesama merupakan nilai budaya yang sejalan dengan ajaran Islam dan penting diwariskan kepada generasi muda,"ujar Supriadi.
Melalui dialog budaya ini, masyarakat Kedang dan rombongan Pondok Pesantren Darul Fallaah diharapkan dapat saling memahami dan menghargai kekayaan budaya masing-masing. Pertemuan tersebut bukan hanya menjadi ajang silaturahim, tetapi juga wahana pembelajaran tentang bagaimana adat dan agama dapat berjalan beriringan dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.
Kegiatan ini menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian Kunjungan Muhibah dan Studi Budaya Lintas Flores 2026, sekaligus menegaskan komitmen Pondok Pesantren Darul Fallaah untuk membangun dakwah yang inklusif, memperkuat dialog kebudayaan, serta menanamkan kesadaran kepada para santri bahwa keberagaman budaya merupakan anugerah Allah Swt. yang harus dijaga, dihormati, dan dilestarikan selama tetap berada dalam koridor nilai-nilai Islam.
