Salah satu bentuk pembinaan tersebut ditunjukkan melalui kegiatan Sima’an Al-Qur’an 10 Juz yang diikuti Nurul Fauziyah Binti H. Burhan, santri kelas XII Madrasah Aliyah (MA), asal Rannaloe, Kabupaten Gowa, pada Kamis, 10 September 2026.
Kegiatan yang berlangsung di lingkungan Pondok Pesantren Darul Fallaah tersebut dimulai sejak pukul 05.20 WITA. Sima’an menjadi bagian dari proses pembinaan tahfiz untuk menguji sekaligus menjaga kualitas hafalan santri.
Bagi santri tahfiz, menghafal bukan sekadar mampu menyelesaikan sejumlah juz. Hafalan yang telah diperoleh harus terus dipelihara melalui murojaah, penyetoran, dan pengulangan secara konsisten agar tetap kuat dan lancar.
Capaian Nurul Fauziyah dalam sima’an 10 juz menjadi salah satu tahapan penting dalam perjalanan hafalannya. Di usia pendidikan yang memasuki kelas XII, capaian tersebut sekaligus menjadi bekal spiritual yang diharapkan terus dijaga hingga setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren.
Menjaga Hafalan Lebih Penting daripada Sekadar Menambah
Direktur Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Dr. Dahlan Lama Bawa, M.Ag., mengatakan bahwa program tahfiz merupakan bagian integral dari pembinaan karakter santri.
Menurutnya, hafalan Al-Qur’an tidak seharusnya berhenti pada pencapaian jumlah juz. Lebih dari itu, santri perlu membangun kebiasaan untuk terus berinteraksi dengan Al-Qur’an sehingga hafalan yang dimiliki dapat terjaga dan memberikan pengaruh terhadap perilaku sehari-hari.
“Menghafal Al-Qur’an bukan hanya tentang berapa juz yang mampu diselesaikan, tetapi bagaimana hafalan itu dijaga dan menjadi bagian dari kehidupan serta karakter santri.”
Dr. Dahlan menilai kegiatan sima’an memiliki posisi penting dalam proses tersebut. Santri dilatih untuk berani memperdengarkan hafalannya sekaligus belajar bertanggung jawab terhadap hafalan yang telah diperoleh.
Ia juga mendorong agar capaian dalam tahfiz tidak dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai bagian dari perjalanan panjang bersama Al-Qur’an.
“Setiap capaian hafalan adalah hasil dari sebuah proses. Karena itu, santri perlu terus menjaga hafalannya dengan murojaah dan membangun kebiasaan berinteraksi dengan Al-Qur’an setiap hari,” pesannya.
Pembina Tahfiz Tekankan Istiqamah
Sementara itu, Pembina Tahfiz Darul Fallaah, K.M. Muh. Salim, S.Pd., menegaskan bahwa kekuatan hafalan sangat ditentukan oleh konsistensi santri dalam melakukan murojaah.
Menurutnya, santri yang telah mencapai hafalan dalam jumlah tertentu memiliki tanggung jawab yang semakin besar untuk mempertahankannya. Hafalan baru perlu diimbangi dengan pengulangan hafalan lama.
“Kunci dalam menghafal Al-Qur’an adalah istiqamah. Hafalan yang sudah diperoleh harus terus dimurojaah agar tetap kuat. Jangan hanya mengejar tambahan hafalan, tetapi juga harus menjaga hafalan yang sudah ada.”
K.M. Muh. Salim menjelaskan bahwa sima’an menjadi salah satu sarana untuk mengetahui sejauh mana hafalan santri benar-benar melekat. Dalam prosesnya, santri dituntut memperhatikan kelancaran, ketepatan bacaan, sambungan ayat, dan kemampuan mempertahankan hafalan.
Karena itu, capaian 10 juz yang diperagakan dalam sima’an bukan sekadar menunjukkan jumlah hafalan, tetapi juga menjadi gambaran dari proses pembinaan yang dilakukan secara bertahap.
“Setiap santri memiliki kemampuan dan kecepatan yang berbeda. Yang terpenting adalah kemauan untuk terus belajar, disiplin dalam murojaah, dan tidak mudah menyerah dalam menjaga hafalan,” lanjutnya.
Sima’an sebagai Tradisi Menjaga Al-Qur’an
Dalam pembinaan tahfiz, proses menambah hafalan dan menjaga hafalan berjalan beriringan. Santri diarahkan untuk tidak hanya mengejar target, tetapi memahami bahwa hafalan Al-Qur’an membutuhkan perawatan sepanjang waktu.
Sima’an menjadi salah satu bentuk evaluasi yang memberikan ruang bagi santri untuk memperdengarkan hafalan secara utuh. Pada saat yang sama, kegiatan tersebut menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas bacaan dan hafalan.
Bagi Nurul Fauziyah, sima’an 10 juz menjadi momentum untuk mengukur hasil dari proses yang telah dijalani selama mengikuti program Takhasus Tahfiz Al-Qur’an di Darul Fallaah.
Capaian tersebut juga menjadi pengingat bahwa perjalanan seorang penghafal Al-Qur’an tidak berhenti ketika satu target tercapai. Setelah hafalan diperoleh, ada tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga, mengulang, memahami, dan mengamalkannya.
Melalui program Takhasus Tahfiz Al-Qur’an, Pondok Pesantren Darul Fallaah terus berupaya membangun budaya belajar yang dekat dengan Al-Qur’an. Sima’an 10 juz yang dijalani Nurul Fauziyah menjadi salah satu bagian dari ikhtiar tersebut.
Pada akhirnya, keberhasilan dalam tahfiz bukan hanya diukur dari banyaknya juz yang tersimpan dalam ingatan, tetapi juga dari istiqamah dalam menjaganya dan sejauh mana nilai-nilai Al-Qur’an tercermin dalam kehidupan santri.
0 Komentar